Pengikut Google+

Monday, June 3, 2013

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

“Pak, susu coklat anget ya?” pesan seorang pemuda kepada pedagang nasi kucing.

“Siap!” timpal Si Pedagang layaknya seorang prajurit yang diberi tugas oleh komandannya. Dia berkelakar.

Pemuda tadi duduk menempati bangku yang sedari tak berpenghuni. Merapikan sarungnya yang dipakainya. Kini ia selendangkan melintang di bahu kanannya.


“Monggo Mas,” kata Si Pedagang menyilahkan, sambil meletakan gelas berisi susu coklat yang tadi dipesan Si Pemuda.

“Yo, matur suwun,” ungkap Si Pemuda. Dimas, menyeruput susu coklat itu segera. Ia lebih suka meminum langsung dari gelas rupanya, tidak memilih menggunakan sedotan. Lebih nikmat dan mengurangi penggunaan plastik.

Dia pandangi atas gerobak yang tersuguh berbagai macam makanan. Mendoan, tahu susur, sate telur, sate kerang dan yang paling utama nasi kucing. Pedagang yang diketahui bernama Darmono ini memang penjual nasi kucing, menu santap malam yang murah meriah.

Setiap gorengan hanya dihargai lima ratus perak, sedangkan semua jenis sate dihargai dua ribu rupiah per tusuk. Harga nasi kucing sendiri hanya seribu lima ratus rupiah per bungkus. Murah meriah. Begitu juga minuman, hanya dihargai dua ribu rupiah per gelas.

Dimas mengambil satu bungkus nasi kucing dipadukan dengan satu mendoan. Dilahapnya dengan perlahan. Meski pelan, satu bungkus nasi kucing dinikmatinya sekejab. Bukan karena dia rakus, tapi memang porsi nasi kucing memang layaknya makanan kucing. Sedikit. Sekejab, dua, tiga sendok nasi masuk ke mulutnya. Selebihnya bungkus nasi kucing tadi bersih. Habis. Kemudian disruputnya susu coklat hangat pelan.

“Mas, kalau boleh nebak, Mas ini bukan asli orang sini ya?” kata Si Pedagang seolah-olah sedang bermain tebak-tebakan.

“Nggih Pak. Kulo asli Solo,” jawab Dimas dengan raut muda sedikit heran. “Kok panjenengan tahu?” kata Dimas balik bertanya dengan muka keheranan.

“Dari logatnya Mas ngomong jelas menandakan bukan orang sini Mas,” jelasnya sembari membolak-balik gorengan yang di atas wajan.

Ya, logat bahasa Jawa Dimas memang berbeda dengan kebanyakan penduduk asli Banjarnegara yang menggunakan Bahasa Jawa Ngapak. Dalam bahasa sehari-hari kebanyakan vokal "a" tetap dibaca "a" seperti kata "sega" tetap dibaca "sega" bukan "sego". Bahasa wetan, begitu orang-orang ngapak menyebut bahasa asal kota Solo dan daerah lain yang menggunakan bahasa Jawa Krama.


“Ow... Nggih kulo lagek praktek kerja lapangan wonten mriki,” jawabnya dengan bahasa Jawa wetan khasnya itu.

“Di mana tepatnya Mas?” tanya Si Pedagang sambil sibuk meletakan gorengan yang sudah matang ke atas nampan di atas gerobaknya. Ia bertanya dengan bahasa Indonesia. Ia khawatir jika ia menggunakan Bahasa Ngapak, pengunjungnya itu tidak paham.

“Wonten Indonesia Power,” jawabnya singkat. Dimas melanjutkan meminum susu coklatnya, kini sudah dingin. Indonesia Power merupakan Perusahaan Listrik Negara (PLN. Salah satunya membangun waduk yang membendung sungai serayu. Pandangan Dima tertuju pada sekeliling gerobak Si Pedagang nasi kucing. Tiba-tiba matanya mengamati Si Pedagang yang sedang sibuk memasukan tempe yang berbalut adonan tepung terigu ke dalam wajan penuh minyak panas.

“Bapak asli daerah sini?” tanya Dimas, udara dingin malam itu menusuk tulangnya. Dibuatnya sarung yang sedari tadi melintang dibahunya menjadi penutup badannya.

“Bukan Mas, saya asli kota tetangga daerah sini. Wonosobo,” jawabnya sambil melihat ke arah Dimas, dan kemudian kembali menaruh adonan mendoan ke atas wajan.

“Pindah rumah to Pak?” tanya Dimas lagi. Kini sarungnya semakin ia rapatkan.

“Ya, saya sejak masih muda merantau Mas. Jogjakarta sampai Jakarta sudah saya sambangi, bahkan luar negeri walau cuman di negeri tetangga, Malaysia,” tuturnya.

“Saya juga pernah tidur di kolong jembatan, hunian kumuh dan hidup nggelandang di jalan,” tuturnya lagi sembari membolak-balik gorengannya agar matangnnya merata.


“Kok sampai di sini? Nikah sama orang sini to?” ungkap Dimas sedikit menebak.

“Alhamdulillah dapat jodoh di sini,” jawabnya sabil tersenyum.

"Di perantauan itu enggak enak Mas. Rasanya jauh sama keluarga. Kemrungsung mas,” jelasnya dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa Ngapak..

“Lho bukanya seneng bisa dapat uang banyak Pak. Ya, setahuku kerja di luar negeri gajinya dua kali lipat dari gaji di negeri sendiri. Lumayan kan Pak?” tukas Dimas mencoba menebak-nebak lagi.



“Mas, hidup di perantauan itu enggak enak. Uang memang bisa dikatakan cukup, tapi rasa-rasanya ada yang kurang,” jelasnya.

“Kalau bisa ngidupin keluarga dengan hasil keringat sendiri kan enggak masalah to Pak. Yang penting halal."

“Wah pokoknya susah dijelaskan. Anak istri di rumah sedangkan saya jauh dari mereka. Kebahagiaan bersama mereka terasa terlewatkan. Uang bisa dicari mas, tapi kebahagiaan melihat mereka tumbuh besar yang langka untuk dinikmati.”

Dimas mengambil mendoan yang tadi baru saja diangkat dari wajan oleh pedagang nasi kucing tadi. Sedikit demi sedikit ia makan dengan merobek medoan tadi dengan tangan. Panas. Uapnya merekah dibawah sinar lampu jalan yang menyinari tepat di bawah gerobak Si Pedagang.

“Nah bukankah uang itu juga sangat penting untuk masa depan keluarga Bapak kelak?” Dimas menyimpulkan.

“Ah anak muda, kata siapa? Kebahagiaan saya adalah ketika melihat anak-anak saya tumbuh dewasa. Harta tidak akan bisa menebus kasih sayang yang telah hilang,” jelas Si Pedagang yang memakai kemeja dan bercelana bahan itu. Rambutnya nampak sudah sedikit memutih. Ubannya bersinar terkena sorot lampu.

Dimas masih tak mengerti, tiba-tiba dia teringat orang tuanya di rumah. Pesan Ibunya terngiang. “Nang, kebahagiaan kami ketika melihat kamu bahagia. Fokuslah dengan impianmu, kami tidak mengharap balas budimu, membesarkanmu adalah kewajiban kami,” pesan Ibu pada Dimas.

“Ibu, doakan anakmu ini. Semoga diberi kemudahan dalam menjalankan kebaikan,” batinnya seraya menyunggingkan senyuman.

“Kok tersenyum sendiri Mas?” tanya Si Pedangang heran.

“Mboten nopo-nopo Pak,” jawab Dimas malu.

“Sedoyo pinten Pak? Nasi kucing setunggal, medoan setunggal lan susu coklat anget,” ungkap Dimas menyebutkan makanan dan minuman yang dia lahap tadi.

“lima ngewu baen,” jawab Si Pedagang dengan ramah, kini dengan bahasa Ngapaknya.

“Ini Pak,” Dimas mengeluarkan satu lemar uang sepuluh ribu rupiah.

“Ini kembaliannya Mas. Oya, di sini tinggal di mana Mas?” Si Pedagang mengambil satu lembar uang lima ribu rupiah dan memberikannya pada Dimas.

“Kosan di belakang masjid Pak,” jawab Dimas, seraya menunjuk tanganya ke arah masjid di belakang tempat Si Pedagang berjualan. Kini ia berdiri, bergegas menuju ke kosannya.

“Tunggu Mas, ini buat Si Mas.”

“Eh, nopo niki, Pak?”

“Buat ganjal perut nanti pas sahur, besok puasa kan? Terima saja, itung-itung membuka ladang pahala bagi orang kecil seperti saya,” ungkapnya penuh harap.

“Matur suwun Pak. Oya nama Bapak siapa? Kenalkan, saya Dimas,” Dimas mengulurkan tanganya meminta berjabat tangan.

“Saya Darmono Mas, orang-orang biasa memanggil saya Pak Darmo,” jawab Si Pedagang sambil menyambut jabat tangan Dimas.

"Oya Mas, doakan anak saya yang paling besar akan masuk perguruan tinggi semoga saja diterima. Biar bisa orang pinter kayak Mas Dimas," pintanya.

"Iya Pak, semoga saja berkah," jawab Dimas.

Dimas, berjalan melewati halaman masjid menuju kosan yang ada di belakang masjid. Setibanya di kos, dia buka bungkusan plastik yang diberi oleh Si Pedagang. Tiga bungkus nasi kucing.

“Ah, Pak, bahkan dalam kesempitan kau tetap masih punya semangat untuk bersedekah.”

“Nang, hidup ini ada susah ada senang, berusahalah untuk menjadi lebih baik. Sungguh kebahagiaan ada di dalam hati orang yang mengingatNya. Berusahalah karena dasar ibadah kepada Allah, seberapapun kecilnya,” nasehat ibunya terngiang kembali.

Di Ruang BP2M, Semarang, Minggu 17 Juni 2012

Sumber foto internet

2 comments:

terimaasih banyak atas kaunjungannya ya ka....

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More