Pengikut Google+

Saturday, February 7, 2015

Hujan dalam Ingatan


Seperti  pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku? Ah perasaan apa ini? Aku rindu, namun  dalam satu waktu aku membencimu. 

Aku masih melihat keluar jendela. Hujan enggan reda. Suara dari luar jendela menarikku dari lamunan.Sumber suara berasal dari tiga bocah bermain air di pinggir irigasi seberang jalan depan rumah, berlarian kesana-kemari. Ketika kecil dulu, aku dengan saudaraku juga suka bermain air hujan. Berlari kesana-kemari dari pancuran genting rumah tentangga satu sampai ke pancuran yang lain. Tidak peduli petir dan angin. Hujan membawa kami dalam kegembiraan.

Aku masih melihat keluar jendela, seorang tua memanggul cangkul di pundak kanannya. Hujan telah datang, para petani memulai musim tanam. Aku tinggal di kampung tani. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di kampungku adalah petani padi. Satu dari tiga anak kira-kira seusia anak kelas tiga atau empat Sekolah Dasar yang sedang bermain air hujan itu adalah cucu petani. Aku kenal ia. Rumahnya di dekat rumahku. Kaos oblong dan celana kolor pendeknya basah kuyup. Orang tuanya merantau ke Jakarta. Kampung petani, julukan itu agaknya perlu dikaji lagi.  Karena sebagian besar anak petani atau buruh tani di kampungku tak lagi mau bertani, mereka memilih pergi ke Ibu Kota mencari rezeki.

Anak mereka dititipkan pada Nenek dan Kakek. Bukan karena bertani tidak menguntungkan lagi, masih untung menurutku. Namun, dibandingkan bertani, mengadu nasib di ibu kota menjadi pembantu rumah tangga, karyawan pabrik, atau kuli bangunan lebih banyak memberi keuntungan materi. Dan tidak perlu mengolah dan merawat tanaman dengan sabar, lebih memilih kesabaran menghadapi ibu kota yang semakin tak ramah bagi pendatang. Namun, semoga ke depan muncul generasi muda yang jago bertani. Insyaallah

"Nggone nyong lewih cepet! Ayo! Ayo!," seru salah satu anak yang larut dalam kegembiraan bersama kawan-kawannnya bermain perahu kertas yang dihanyutkan ke irigasi.

Aku masih melihat keluar jendela. Aku teringat Mbah Kakung. Kakekku seorang petani yang telah meninggal enam bulan lalu. Saat sore hujan tiba seperti ini, kadang dengan caping di kepala dan cangkul dijinjing, ia berjalan pulang dari sawah. Sembari menunggu panen tiba, Mbah Kakung membuat wakul Es Dawet Ayu-dua buah wadah terbuat dari bambu yang dianyam. Menjadi pengrajin bambung adalah sambilan yang ia lakukan menurut pesanan. Dari pada nganggur kalau habis dari sawah atau ketika tidak ke sawah katanya.

Sepeninggal Mbah Kakung, kehilangan seseorang yang tadinya ada dalam kehidupanku itu kentara terasa. Karena alhamdulillah aku mempunyai keluarga besar-Emak sembilan bersaudara dan Bapak tujuh bersaudara yang saling mengenal. Kami saling mengunjungi. Setiap kali berkunjung di rumah Mbah, Mbah Kakung dan Mbah Putri menyambut dengan gembira. Jadi, kehilangan salah satu anggota keluarga sangat terasa.

"Bali kapan kowe?" tanya Mbah Putri. "Njagong kene ge. Wis meh rampung kuliahe?" tanya Mbah Putri melanjutkan sembari mempersilahkan duduk di kursi kayu sederhananya. Kami duduk saling berhadapan dengan suguhan pisang dari kebun di meja.

"Nyong ora bisa nyanguni duit," ucap Mbah Kakung. "Bisane mung nyanguni do`a aben dina," tambahnya.

"Ah Mbah, kalian sudah membesarkan dan mendidik orang tua terbaik untukku, itu sangat berharga bagiku," batinku kalimat itu tak kuungkapkan, aku hanya tersenyum menanggapi penyataan Mbahku itu.

Rumah Mbah masih dalam lingkup satu desa dengan jarak lima menit dari rumah orang tuaku. Emak menikah dengan Bapak yang notabene satu desa. Pek nggo. Ngepek Tonggo. Istilah orang Jawa untuk suami istri yang tinggal dalam satu desa menikah. Kata Bapak, ketika kami saling memberi nasihat dan curhat seusai shalat Isya, Emak dan Bapak masih satu kerabat. Nenek Kakek Emak dengan Nenek Kakek Bapak masih bersaudara. Begitulah, sehingga jika diurutkan silsilah terus menerus, bisa jadi satu kampung dianggap saudara. Begitulah indahnya kehidupan di desa, semua serasa bersaudara.

Semenjak Mbah Kakung meninggal, setiap kali aku berkunjung ke rumah Mbah. Ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada sapa dari Mbah Kakung, hanya Mbah Putri yang juga kian semakin menua. Namun, selalu yang aku rindukan, senyum mereka tidak pernah lepas menyambut cucunya.

Itulah ingatan tentang Mbahku di kala hujan. Selain Mbah, hujan memunculkan ingatan tentang Bapakku. Saat ini, tidak ada laki-laki tampan melebihi Bapakku di rumah. Aku tiga bersaudara, semua perempuan. Aku dan saudaraku masih kuliah, dan satu yang terakhir duduk di kelas XI SMA. Bapakku adalah pedagang, Emak ibu rumah tangga yang ikut membantu Bapak usaha. Usaha yang dimulainya dari nol itu alhamdulillah mampu mennghidupi dan membiayai pendidikan putri mereka.

Bapakku usaha dagang beras. Tidak hanya berdagang, Bapak juga membeli gabah (padi) petani dan kemudian digiling sendiri. Sepulang sekolah, aku sering main ke tempat penggilingan padi. Saat hujan tiba, Bapak dan Emak dengan caping di kepala repot ke sana ke mari menggulung padi yang sedang dijemur. Lelah. Tentu saja itu nampak dari peluh yang mengucur dari kening menuju pipi mereka.

Mengingat itu, kehidupan sepasang suami istri seperti orang tuaku dengan kerja kerasmereka, aku jadi teringat tentang mimpiku menghadapi kehidupan berumah tangga bersama seseorang yang aku idamkan. Mimpi yang masih tertunda dengan berbagai alasan. Alasannya yang ucoba terima dan aku hormati, yaitu alasan mengejar cita dan cinta yang lain. Padahal mimpiku sederhana, hidup bersamanya dalam ikatan yang disahkan dengan Undang-Undang Langit. Kemudian meneruskan usaha keluarga dan membuat sesuatu yang memajukan kehidupan petani desa untuk agama dan bangsa. Apa kelirunya sarjana berwirausaha bukan? Bahkan dengan berwirausaha bisa membantu negara dengan membuka lapangan kerja. Pikirku.

Selain itu, sembari membantu suami meneruskan usaha, aku juga bekerja menjadi penulis lepas-menulis laman (web site) milik orang. Lantas, dari uang kami bekerja, selain untuk mencukupi kebutuhan keluarga, kami mendirikan sekolah. Awalnya kecil-kecilan berupa sekolah non formal, aku pikir bisa berupa Rumah Belajar. Sekolah sore yang diisi dengan TPQ dan kegiatan sosial edukatif lainnya. Tujuannya agar membantu menambah pengetahuan anak-anak, terutama anak-anak petani di desaku.

Bukankah hidup yang sebenarnya hidup ketika kita bermanfaat untuk orang lain, berbagi dengan sesama? Orang Jawa bilang Urip iku Urup. "When I`m sharing, I feel alive," kata Handry Satriago salah satu pengusaha Indonesia yang lumpuh sejak usia 17 tahun. Meski mempunyai keterbatasan fisik, namun semangatnya untuk berbagi mendobrak keterbatasan itu. Itulah mimpiku untuk bisa berbagi. Semoga menjadi kenyataan. Aamiin Insyaallah

Seperti  pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku? Ah perasaan apa ini? Aku rindu, namun  dalam satu waktu aku membencimu. 

Perasaan itu muncul kembali. Hujan menuntunku mengenang masa lalu. Namun, hujan juga membawaku dalam hening. Keheningan yang menuntunku membaca diri lebih dalam lagi.  Astaghfirullah, perasaan apa ini? Aku harus berdamai dengan diriku. Aku terlalu banyak berangan-angan. Aku harus menghapus perasaan ini. Biarlah Allah Swt menuntun perasaanku. Mimpiku memang belum menjadi nyata. Bisa jadi sedang ditunda. Sekarang aku harus membuka mata, menerima semuanya. Bahwa kadang, niat baik belum tentu diterima baik oleh yang lain. Allah Swt tahu yang terbaik bukan? Setidaknya, aku menyukuri apa yang aku terima selama ini. Meskipun banyak ujian, kenikmatan Allah yang diberikan jauh lebih banyak lagi. Alhamdulillah

1. Indahnya iman dan nikmatnya beribadah semoga Allah berikan sampai akhir hayat nanti insyaallah


2. Aku mempunyai keluarga besar yang harmonis. (setidaknya itu dari penilaianku) Alhamdulillah Semoga bisa bersama dalam JannahNya aamiin insyaallah

3. Aku mempunyai sahabat dan teman yang hebat, mereka menginspirasi

4.Aku diberi banyak pengalaman organisasi, kuliah, dan kerja yang mendewasakanku alhamdulillah

5. more and more nikmat Allah Swt yang aku terima sampai saat ini

Lagi, selain kenangan, hujan juga membawaku dalam hening. Keheningan yang menuntunku membaca diri. Mengenal diri lebih dalam lagi. Sebuah suara muncul dari dalam hati.

"Sst... bisakah hening sejenak? Sampai Allah Swt menunjukkan siapa yang benar-benar menjadi jodohmu, yang menunjukkan cinta sejatinya hanya untukmu. Tunggu. Tunggulah barang sekejab, seperti menunggu nikmatnya teh panas siap untuk disesap."

Aku masih melihat keluar jendela. Hujan enggan reda. Suara anak-anak di luar menyadarkanku kembali dari lamunan. Kutengok segelas teh panasku yang mengepul di meja dekat jendela. Suara anak-anak sayup-sayup terdengar menjauh berlarian. Mengejar perahu kertas yang mereka hanyutkan.

Hujan, 7 Februari 2015

2 comments:

Hmmm bikin kangen desaku.... #Nikmatnya tinggal di desa... ^^

Jangan galau lagi dong mbaku... yakinlah, buka hatimu, Allah sudah mempersiapkan calon suami terbaik untukmu! yuk fokus memantaskan diri untuk lelaki terbaik itu ^_^ hihihi

Aamiin insyaallah, Dek Mblo.... Masa penantian terbaik adalah dengan muhasabah diri dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Insyaallah.... ^_^V Eh aku menebak siapa yang kamu maksud dalam blog kamu tentang suami pelayan kebersihan di tempat PKL. Apakah cerita itu nyata? Jika iya, aku coba untuk menebak, tokoh srimulat yang kamu maksud itu adalah Gogo*n. Betul begitu, Pram?

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More