Pengikut Google+

Monday, February 16, 2015

Kisah Kertas Kebahagiaan

Doa Orang Tua untuk Anak Kisah Inspiratif


Kecepatan membantah kadang lebih cepat dari pada berfikir. Begitulah yang aku rasakan akhir-akhir ini. Kecepatan untuk menolak apa yang sudah terjadi, mengalahkan kecepatanku untuk memikirkan dengan tenang hikmah apa di balik kejadian tersebut.

Agaknya, aku hanya memikirkan dengan logika, selalu berkutat pada pertanyaan kenapa ini harus terjadi dengan semua upaya yang sudah aku lakukan? Itulah pikiranku yang kekeliru. Padahal jika aku menelisik lebih ke dalam hati, palung hatiku mengamini bahwa inilah memang terbaik yang harus terjadi.

"Pilihan Allah-lah yang terbaik," kuteringat nasehat Bapakku ketika selama dua minggu aku mudik akhir pekan Januari lalu.

Sejak pagi, tirai hujan menghiasi bumi.  Daun-daun satu per satu goyah, dan jatuh ke tanah. Suasana hujan selain mengingatkanku pada nasehat Bapak, aku juga teringat nasihat yang hampir sama pada sebuah buku yang aku katamkan ketika liburan di rumah.

Ketika itu, kubuka sebuah buku yang kuambil dari meja belajar adikku di kamar. Kutemukan buku itu ketika aku sedang mencari buku untuk menghilangkan penat. Buku bergambar sebuah naga bersama seorang gadis kecil yang menunggang punggung naga itu. "Sepertinya menarik," batinku sembari membawa buku itu kemudian duduk di kursi yang tertata rapi di ruang tengah.

Kisah Inspiratif Doa Orang Tua untuk Anak
www.to-hawaii.com
"Where the Mountain Meets the Moon, Tempat Gunung Bertemu Rembulan, Grace Lin," kataku lirih membaca judul dan nama pengarang buku yang merupakan seorang keturunan Tiongkok itu.

                                         ***
Ba dan Ma duduk di depan api unggun kecil yang dinyalakan Ba. Kekecewaan karena tidak berhasil menemukan Minli, memaksa pasangan suami istri itu untuk mengakui bahwa mereka kelelahan. Mereka pun tidur di bawah naungan dahan-dahan pohon sepanjang siang itu, membiarkan ikan mas bersisik perak mereka berjaga-jaga.

Ketika mereka terjaga, senja telah tiba, namun tidak seorang pun dari mereka berupaya untuk bergerak. Keduanya membisu, namun mereka tahu bahwa mereka tidak bisa memutuskan apakah mereka sebaiknya melanjutkan perjalananan atau pulang.

Sementara mentari menyorotkan semburat warna-warni ke cakrawala, lambaian perpisahan terakhirnya sebelum menyerah pada malam, Ma menyodorkan semangkuk nasi kepada Ba. Keduannya tetap membisu selama makan, sama-sama merenungi kata-kata si penjaja ikan mas. Haruskah mereka membiarkan Minli mencoba mengubah nasib mereka? Haruskah mereka berhenti mencari dan, seperti yang disarankan oleh si penjaja ikan mas, mempercayai putri mereka? Ba mendesah.

“Mencoba mencari Minli sama halnya dengan mencoba mencari kertas kebahagiaan,” kata Ba keras-keras pada dirinya sendiri.

“Kertas kebahagiaan apa?” tanya sebuah suara. Ba sontak menoleh ke sekelilingnya. Siapakah yang mengatakannya? Ba menatap Ma, namun Ma tetap mengaduk-aduk nasi lembeknya, jelas tidak mendengar suara itu. Ba menggeleng. Barangkali keletihannyalah yang membuatnya membayangkan suara itu.

“Ceritakanlah kisahnya, Pak Tua. Istrimu mendengarkan,” suara itu kembali berkata. “Dia tidak mau mengakuinya, tapi dia juga ingin mendengarkannya.”

Ba kembali mengedarkan pandangan.Sepertinya suara itu datang dari... ikan mas? Dia menatap lekat-lekat mangkuk ikan mas itu. Sinar dari api unggunkah yang membuatnya berpendar seperti itu? Ikan mas itu membalas tatapannya dengan tenang, seolah-olah menunggu. Jadi, Ba menarik nafas dalam dan memulai ceritanya.

Hiduplah seorang hakim di sebuah wilayah kerajaan. Kehidupan serba ada di istana tidak membuat hakim itu merasa puas. Ia ingin memiliki semuanya. Bahkan ia menaikan pajak bagi rakyatnya. Karena kebijakan yang tidak mendukung rakyat, hakim itu terkenal dengan sebutan Hakim yang lalim.

Suatu hari, hakim yang lalim mendengar jika ada sebuah keluarga yang hidup bahagia di sebuah desa terpencil. Keluarga bahagia yang tidak pernah menolak membayar pajak, bahkan malah kadang memberikan lebih. Hakim yang lalim merasa curiga, kenapa ada sebuah keluarga demikian. Padahal kebanyakan keluarga di wilayahnya susah untuk membayar pajak.

Melalui utusannya, ia mengetahui di mana keluarga bahagia itu tinggal. Hakim yang lalim itu mengutus pengawal untuk datang ke rumah keluarga bahagia itu. Setelah berkuda beberapa malam, akhirnya, sampailah utusan hakim yang lalim itu di desa terpencil dengan pertanian yang terhampar luas menghijau. Rumah-rumah sederhana menempati tanah di sana. Dan ditemukanlah, salah satu dari rumah sederhana itu yang dihuni oleh keluarga bahagia.

"Kami diutus Hakim yang agung untuk meminta rahasia kebahagiaan kalian," kata salah satu pengawal kepada keluarga yang pagi itu sedang berkumpul di rumah.

"Baiklah, tunggu sebentar," kata seorang kakek yang tiba-tiba muncul dengan tenang dari balik pintu ruang tengah dan kemudian masuk kembali. Awalnya anggota keluarga yang kaget dan panik atas kedatangan pengawal Hakim yang lalim, namun kakek tua keluar dengan senyuman menjadikan anggota keluarga bahagia itu tenang.

Beberapa lama kemudian, kakek tua berjenggot itu keluar menemui pengawal dengan membawa sebuah kotak kayu kecil berwarna coklat. 

"Ini, adalah rahasia kebahagiaan kami," ungkap kakek tua. "Bawalah untuk Sang Hakim," tambah kakek tua itu dengan sopan, kemudian memberikan kotak kecil tadi kepada pengawal.

"Terima kasih," ucap salah seorang pengawal terkesima dengan kesopanan dan kebaikan kakek tua itu. Pengawal tidak menyangka akan semudah ini meminta rahasia kebahagiaan dari keluarga bahagia itu. Bahkan tanpa paksaan yang berarti.

Dalam perjalanan menuju istana, pengawal dihadang oleh hujan dan badai yang hebat. Tanpa disadari, kotak yang dibawa pengawal jatuh dan isi dari kota kecil itu terbang terbawa angin. Pengawal lain yang berkuda di belakangnya melihat kejadian itu. Dan sontak menghentikan laju kudanya dan berusaha menggapai isinya dari kotak kecil tersebut.

Namun, angin bertiup kencang, menerbangkan sebuah kertas keluar dari kotak kecil yang jatuh tadi. Pengawal gagal menggapai kertas tersebut. Kertas menjauh terseret angin.

"Apa yang kalian lakukan! Kenapa rahasia kebahagiaan itu bisa lenyap begitu saja! Hah!" marah Hakim yang lalim kepada pengawalnya.

"Maaf yang mulia, kami sudah berusaha menggapai isi dari kotak tersebut. Namun, kami gagal mendapatkannya karena angin yang lebat menerbangkan kertas tersebut," jujur pengawal yang berani bicara sedangkan pengawal yang lain hanya diam.

"Apa? Sebuah kertas? Jadi rahasia kebahagiaan itu adalah sebuah kertas? Kenapa kalian tidak membukanya terlebih dahulu agar tahu apa isi dari kotak itu sebenarnya!" bentak Hakim yang lalim kembali marah.

"Ng....  Ng... kami tidak berani membuka kotak sebelum yang mulia sendiri yang membukanya," ungkap pengawal yang tadinya hanya diam ragu-ragu bicara. "Tapi kami sempat melihat ada tulisan pada kertas tersebut yang mulia," lirih pengawal tadi.

"Tulisan? Ayo beritahu aku tulisan apa yang tertera pada kertas itu. Cepat katakan padaku!," paksa Hakim yang lalim tidak sabar.

"Ng... ma... ma... maaf yang mulia, kami tidak tahu. Angin terlalu kencang sehingga kami tidak sempat membaca tulisan itu sebelum kertas itu terbang terbawa angin. Maafkan kami yang mulia," pinta pengawal kepada Hakim yang lalim.
Udara malam semakin menusuk tulang. Ba menghentikan sejenak ceritanya, mengambil kayu bakar di sebelahnya dan menaruhnya pada perapian. Ma menatap suaminya kemudian bertanya.

"Apa yang tertulis pada kertas kebahagiaan, suamiku?" tanya Ma kepada Ba yang membuatnya kaget. Ternyata kata ikan mas benar, istrinya yang sedari tadi diam dan terlihat murung mendengarkan kisah Kertas Kebahagiaan yang Ba ceritakan.

"Kamu ingin tahu isi tulisan yang ada di dalam kertas kebahagiaan?" lirih Ba sambil tersenyum pada Ma. "Baiklah, jadi badai telah berhenti...," lanjut Ba meneruskan kisah Kertas Kebahagiaan untuk Ma.

Badai telah berhenti, angin berhembus lirih membawa terbang kertas kebahagiaan. Sebuah tulisan tangan nan apik tertera jelas di sana. 

"Syukur,"satu kata yang ditulis berulang memenuhi kertas kebahagiaan. Kertas kebahagiaan meliuk-liuk terbawa angin dan akhirnya jatuh dan hanyut bersama sungai yang mulai bergerak tenang.
Ba menyudahi kisahnya. Ma tersenyum. Ma dan Ba kembali teringat Minli, anak gadis mereka yang belum juga ditemukan sejak ia pergi dari rumah. Mereka berdua khawatir. Namun, berbeda dengan waktu sebelum mendengar kisah Kertas Kebahagiaan, raut muka Ma sekarang nampak lebih tenang.

                                                                  ***
Hujan belum berhenti. Kututup buku yang baru aku tamatkan membaca tadi. Kuhembuskan nafas panjang. ...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart.... 

Hujan menyapa tadi sore, Senin 16 Februari 2015

*Kisah ini ditulis dengan beberapa perubahan

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More