Pengikut Google+

Friday, October 21, 2016

Gali Inspirasi Bersama I Putu Ayub Darmawan

Foto bersama Mas Putu dan para peserta

Dewasa ini seluruh perpustakaan di penjuru tanah air semakin menggalakkan budaya menulis dan membaca terlebih untuk pelajar. Dari agenda itulah tersusun serangkaian acara yang mendukung perkembangan budaya tersebut yakni “Kelas Menulis” yang saya ikuti di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang yang terletak di Jalan Pemuda nomor 7 Ungaran atau yang lebih dikenal dengan Alun-alun Lama Ungaran. Kelas menulis tersebut diagendakan rutin setiap Sabtu minggu kedua dan keempat, tentu saya sangat bersemangat mengikuti kelas ini karena pelatihan menulis baiknya dilakukan secara intensif dan tentunya gratis.

Poster kelas menulis bersama Putu Ayub


Nah, kelas menulis pertama diadakan pada hari Sabtu, 20 Agustus 2016 mulai pukul 14.00 hingga 16.30 WIB. Tentunya minasan tahu jika pertemuan pertama selalu ramai dan dibanjiri peminat. Benar saja, begitu memasuki ruang audio visual di lantai satu perpustakaan, kelas tersebut sudah dipadati banyak orang. Kurang lebih terdapat 60 orang peserta yang datang untuk menimba ilmu dari sang narasumber, Putu Ayub yang juga seorang dosen di sebuah universitas swasta.

Suasana dalam kelas menulis yang padat merayap 


Hal yang di-share oleh Mas Putu Ayub -Beliau meminta dipanggil demikian- pada hari tersebut ialah “Kiat Praktis Menulis Cerpen”. Nah, pasti minasan ingin segera tahu kan kiat-kiat apa saja itu? Berikut ulasannya.

A.Ide Cerita 
Bagi seorang penulis pemula sering kesulitan memperoleh ide. Dari pengalaman Beliau menulis, ide seringkali muncul dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita dan hal itu berupa sesuatu yang sederhana. Seperti halnya menulis konflik, di mana konflik cerita mampu kita dapatkan dari kehidupan sehari-hari misalnya dari media massa seperti televisi, koran, dan sebagainya. Selanjutnya dapat kita tulis ke dalam alur cerpen dengan sederhana.

B. Membuka Cerpen 
Beliau juga mengatakan bahwa bagian ini merupakan hal sulit juga untuk penulis pemula. Biasanya kelemahan penulis pemula dalam membuka cerpen ialah terlalu bertele-tele. Berikut beberapa tipsnya:
1.Memunculkan Masalah.
Karena secara alamiah manusia tertarik dengan masalah, cara ini biasanya dimanfaatkan penulis untuk menarik minat pembaca.
2.Membuka Cerita Dengan Memunculkan Aksi. 
Penulis dapat memulai cerita dengan memunculkan aksi dan langsung melompat ke tengah cerita, di sini latar belakang cerita tidak tampak pada permulaan cerita.
3.Membuka Cerita Dengan Memunculkan Ketegangan. 
Misalnya tokoh sedang berada dalam bahaya, cerita dibumbui narasi mengenai kondisi cuaca yang hujan, daerah yang terkesan kurang aman, dan orang-orang yang membawa senjata.
4.Menampilkan Lokasi Cerita. 
Narasi pembuka biasanya berisi tentang tokoh yang tinggal di suatu tempat dan sedang melakukan sesuatu -misal bekerja atau bersekolah.

C. Menulis Cerita
Kekuatiran penulis adalah tulisan yang dihasilkan kurang bagus sehingga membuatnya enggan untuk menulis. Kunci penting dalam menulis adalah menuliskan apa yang menjadi ide cerita kita tanpa mempedulikan apakah tulisan itu bagus atau tidak. Yang penting, jika kita ingin menulis maka tulis saja dulu. Selanjutnya baru diperbaiki setelah mendiskusikannya dengan teman-teman. Penulisan cerpen juga perlu memperhatikan cara memulai cerita. Sebuah cerpen dapat dimulai dengan dua cara, yaitu:
1.Memulai dengan klimaks kemudian mengakhirinya dengan detail-detail.
2.Memulai dengan detail-detail cerita baru mengakhirinya dengan klimaks.
Untuk dapat menyusun cerita dengan baik nantinya, Beliau juga menyarankan untuk menulis cerita dengan jalan menganggap cerita kita sebagai sebuah adegan drama. Fakta yang disajikan dalam cerita perlu ditulis dengan baik dan tidak berlebihan, melainkan dikembangkan menjadi semakin menyenangkan agar membuat pembaca penasaran dnegan akhir ceritanya.

D. Menghidupkan Tokoh 
Tokoh dalam cerpen haruslah tokoh yang cocok dengan ceritanya. Bisa diambil dari orang-orang di sekitar kita yang memiliki kecocokan dengan cerita. Yang perlu diperhatikan penulis untuk menciptakan tokoh ialah; tinggi badan, berat badan, cara berjalan, pakaian, warna rambut, hobi tokoh, agama, dan sikap politiknya. Meskipun tokoh dapat diambil dari orang-orang di sekitar kita, mencari nama tokoh bagi penulis pemula terbilang sulit. Untuk menentukan nama, hal yang perlu diperhatikan ialah kecocokan nama dengan latar cerita. Misalkan cerita berlatar kehidupan Sunda, maka nama yang dipakai adalah Ujang, Dedew, Deden, dan lain sebagainya.

Bagaimana minasan?? Keren kan?? Dengan ini, minasan yang sedang kebingungan menulis cerpen semoga bisa terbantu, aamiin!^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber: Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang/facebook.com

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More