Pengikut Google+

Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Friday, October 21, 2016

Kelas Menulis “Dialog” Bersama I Putu Ayub Darmawan

Suasana serius tapi santai saaat kelas menulis

Kegiatan rutin Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang bersama I Putu Ayub Darmawan sebagai narasumber sekaligus anggota Kelompok Literasi Ungaran tersebut diadakan pada hari Sabtu, 10 September 2016 pukul 14.00-16.00 WIB. Berbeda dengan minggu sebelumnya, kali ini kelas menulis dihadiri lebih sedikit peserta yakni sekitar 15 orang. Kendatipun demikian, kegiatan ini tetaplah dibumbui antusiasme para peserta -termasuk saya- yang dengan teliti menyimak pemaparan materi “menulis dialog dalam cerpen” oleh Mas Putu.

Poster kelas menulis dialog kali ini

Di awal slide presentasi, Beliau memaparkan apabila dialog membuat cerpen semakin menarik. Karena dialog tersebut merupakan kesan hidup bagi sebuah cerpen. Tidak hanya itu, percakapan juga membantu plot, menggerakkan cerita terus ke depan, dan menggambarkan karakter. Misalnya bila karakternya dewasa maka dia akan sering menasehati. Dengan adanya percakapan, sifat kerpribadian yang halus dapat dirasakan sementara uraian cerita tidak dapat melakukan itu. Tidak terlepas dari peran pentingnya, masalah yang sering dialami penulis pemula ialah tidak mudah menulis percakapan yang hangat, manusiawi, dan wajar.

Beliau menekankan bahwa kemampuan menulis dialog dilatih dengan mendengar orang lain berbicara. Dengan latihan itu, yang akan kita dapat antara lain:
1.Kita dapat mengembangkan perhatian terhadap bahasa.
2.Kita akan memberi perhatian khusus pada dialog, selain kepada apa yang mereka katakan, juga bagaimana cara mereka mengatakannya.
3.Kita akan bisa menentukan cara menulis dialog yang tepat berdasarkan kriteria dan sudut pandang sang tokoh.

Nah, selain kesulitan dalam menulis percakapan itu sendiri. Penulis pemula juga sering dipusingkan dengan cara menyatakan tokoh mana yang sedang berbicara sedangkan dalam suatu plot dalam cerita terdapat lebih dari dua orang tokoh yang sedang berbincang. Melihat cengar-cengir saya dan para peserta yang lain, Beliau segera memberikan tips untuk mengatasi masalah tersebut:

1.Setiap ucapan seorang tokoh, harus bisa menunjukkan sifat dan kepribadiannya. Misal: orang dewasa cenderung suka menasehati kepada anak muda.
2.Bila kesulitan menggambarkan ucapan tokoh, berikan penekanan atau penjelasan di belakang dialog. Misalnya: .....” ia bertanya dengan penasaran.
3.Kita dapat mengungkapkan emosi dengan menunjukkan cara bertindak dan berbicaranya tokoh-tokoh cerita.
4.Hal yang mutlak dalam menulis dialog, HARUS diberi tanda kutip!
5.Kita menempatkan setiap pembicaraan dari setiap tokoh terikat dengan gerak-gerik atau pernyataan yang menjelaskannya, dan itu ditulis dalam satu alinea terpisah.

Dari sini minasan sudah tahu dong kalau keberadaan dialog itu penting. Namun bagaimana jika dialog dalam sebuah cerita terlalu banyak? Nah, inilah yang kemudian disarankan oleh Mas Putu:

1.Terlalu banyak dialog akan membuat cerita menjadi monoton, lebih baik dihindari dengan menambah atau menyisipkan narasi.
2.Agar pembaca tidak bosan, dialog hendaknya ditulis ringkas dan cepat.
3.Sangat jarang diperlukan satu percakapan tokoh yang mengandung sepuluh baris kalimat atau lebih. Jika terjadi demikian, tentu pembaca akan merasa bosan.
4.Agar dialog tidak terlalu panjang, bisa disisipkan pertanyaan dari tokoh lain.
5.Setiap percakapan perorangan, harus dikaitkan dengan percakapan dan selanjutnya agar terlihat runtut.

Yupp, sudah diterangkan semua nih tips menulis dialog dengan benar. Bagaimana minasan? Makin tergerak lagi untuk segera menulis?^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber: Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang/facebook.com

Gali Inspirasi Bersama I Putu Ayub Darmawan

Foto bersama Mas Putu dan para peserta

Dewasa ini seluruh perpustakaan di penjuru tanah air semakin menggalakkan budaya menulis dan membaca terlebih untuk pelajar. Dari agenda itulah tersusun serangkaian acara yang mendukung perkembangan budaya tersebut yakni “Kelas Menulis” yang saya ikuti di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang yang terletak di Jalan Pemuda nomor 7 Ungaran atau yang lebih dikenal dengan Alun-alun Lama Ungaran. Kelas menulis tersebut diagendakan rutin setiap Sabtu minggu kedua dan keempat, tentu saya sangat bersemangat mengikuti kelas ini karena pelatihan menulis baiknya dilakukan secara intensif dan tentunya gratis.

Poster kelas menulis bersama Putu Ayub


Nah, kelas menulis pertama diadakan pada hari Sabtu, 20 Agustus 2016 mulai pukul 14.00 hingga 16.30 WIB. Tentunya minasan tahu jika pertemuan pertama selalu ramai dan dibanjiri peminat. Benar saja, begitu memasuki ruang audio visual di lantai satu perpustakaan, kelas tersebut sudah dipadati banyak orang. Kurang lebih terdapat 60 orang peserta yang datang untuk menimba ilmu dari sang narasumber, Putu Ayub yang juga seorang dosen di sebuah universitas swasta.

Suasana dalam kelas menulis yang padat merayap 


Hal yang di-share oleh Mas Putu Ayub -Beliau meminta dipanggil demikian- pada hari tersebut ialah “Kiat Praktis Menulis Cerpen”. Nah, pasti minasan ingin segera tahu kan kiat-kiat apa saja itu? Berikut ulasannya.

A.Ide Cerita 
Bagi seorang penulis pemula sering kesulitan memperoleh ide. Dari pengalaman Beliau menulis, ide seringkali muncul dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita dan hal itu berupa sesuatu yang sederhana. Seperti halnya menulis konflik, di mana konflik cerita mampu kita dapatkan dari kehidupan sehari-hari misalnya dari media massa seperti televisi, koran, dan sebagainya. Selanjutnya dapat kita tulis ke dalam alur cerpen dengan sederhana.

B. Membuka Cerpen 
Beliau juga mengatakan bahwa bagian ini merupakan hal sulit juga untuk penulis pemula. Biasanya kelemahan penulis pemula dalam membuka cerpen ialah terlalu bertele-tele. Berikut beberapa tipsnya:
1.Memunculkan Masalah.
Karena secara alamiah manusia tertarik dengan masalah, cara ini biasanya dimanfaatkan penulis untuk menarik minat pembaca.
2.Membuka Cerita Dengan Memunculkan Aksi. 
Penulis dapat memulai cerita dengan memunculkan aksi dan langsung melompat ke tengah cerita, di sini latar belakang cerita tidak tampak pada permulaan cerita.
3.Membuka Cerita Dengan Memunculkan Ketegangan. 
Misalnya tokoh sedang berada dalam bahaya, cerita dibumbui narasi mengenai kondisi cuaca yang hujan, daerah yang terkesan kurang aman, dan orang-orang yang membawa senjata.
4.Menampilkan Lokasi Cerita. 
Narasi pembuka biasanya berisi tentang tokoh yang tinggal di suatu tempat dan sedang melakukan sesuatu -misal bekerja atau bersekolah.

C. Menulis Cerita
Kekuatiran penulis adalah tulisan yang dihasilkan kurang bagus sehingga membuatnya enggan untuk menulis. Kunci penting dalam menulis adalah menuliskan apa yang menjadi ide cerita kita tanpa mempedulikan apakah tulisan itu bagus atau tidak. Yang penting, jika kita ingin menulis maka tulis saja dulu. Selanjutnya baru diperbaiki setelah mendiskusikannya dengan teman-teman. Penulisan cerpen juga perlu memperhatikan cara memulai cerita. Sebuah cerpen dapat dimulai dengan dua cara, yaitu:
1.Memulai dengan klimaks kemudian mengakhirinya dengan detail-detail.
2.Memulai dengan detail-detail cerita baru mengakhirinya dengan klimaks.
Untuk dapat menyusun cerita dengan baik nantinya, Beliau juga menyarankan untuk menulis cerita dengan jalan menganggap cerita kita sebagai sebuah adegan drama. Fakta yang disajikan dalam cerita perlu ditulis dengan baik dan tidak berlebihan, melainkan dikembangkan menjadi semakin menyenangkan agar membuat pembaca penasaran dnegan akhir ceritanya.

D. Menghidupkan Tokoh 
Tokoh dalam cerpen haruslah tokoh yang cocok dengan ceritanya. Bisa diambil dari orang-orang di sekitar kita yang memiliki kecocokan dengan cerita. Yang perlu diperhatikan penulis untuk menciptakan tokoh ialah; tinggi badan, berat badan, cara berjalan, pakaian, warna rambut, hobi tokoh, agama, dan sikap politiknya. Meskipun tokoh dapat diambil dari orang-orang di sekitar kita, mencari nama tokoh bagi penulis pemula terbilang sulit. Untuk menentukan nama, hal yang perlu diperhatikan ialah kecocokan nama dengan latar cerita. Misalkan cerita berlatar kehidupan Sunda, maka nama yang dipakai adalah Ujang, Dedew, Deden, dan lain sebagainya.

Bagaimana minasan?? Keren kan?? Dengan ini, minasan yang sedang kebingungan menulis cerpen semoga bisa terbantu, aamiin!^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber: Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang/facebook.com

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More