Pengikut Google+

Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Tuesday, February 21, 2017

Kelas Menulis Cerita Anak Bersama Dewi “Dedew” Rieka

Cr: Mas Soepardi/facebook.com

Halooo minasaaan~! Ohisashiburi desu ne! Lama tidak berjumpa! :D

Duuh, sudah lama banget ya saya hiatus dari sini, hiks. Tapi jangan khawatir, saya muncul kembali bersama “oleh-oleh” dari kelas menulis yang kembali diselenggarakan oleh Kelompok Literasi Ungaran atau yang bisa disingkat “Kelingan” pada hari Sabtu, 08 Februari 2017 pukul 14.00-16.00 WIB. Seperti biasa kegiatan kami diadakan di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang bersama Dewi Rieka sebagai narasumber sekaligus anggota Kelompok Literasi Ungaran. Ehm, karena tempo itu peserta yang ikut hanya sedikit karena efek hujan, jadilah kelas kecil ini laiknya grup diskusi yang saling memberikan saran serta semangat dalam syahdunya rintik hujan, hehe.

Sebelumnya peserta yang mengikuti kelas menulis ini diberikan “pekerjaan rumah” berupa menulis cerita anak sepanjang 1-3 lembar lalu dibaca dan kritisi bersama. Dan inilah hal-hal yang PERLU DIPERHATIKAN dalam menulis cerita tersebut:

1.Singkat, padat, jelas. Pesan moral dapat disampaikan dengan cepat, its’s better! :D
2.Tiap tokoh juga perlu diberi nama agar anak mudah mengimajinasikan sosoknya dalam cerita. 3.Cerita anak TIDAK PERLU KOMPLEKS. Cukup satu topik utama, tidak perlu bercabang karena pola berpikir anak masih sederhana.
4.JANGAN terlalu banyak tokoh karena itu akan membingungkan anak.
5.Penjelasan latar tempat dan latar suasana cerita harus JELAS tapi jangan terlalu panjang.
6.Adegan di dalam cerita sebaiknya diperhalus, nggak baik juga ‘kan menuliskan adegan pukul, cekik, dan lain sebagainya. Hal ini juga mempengaruhi keputusan dari redaksi penerbit yang selalu hati-hati dalam menyortir calon tulisan yang akan diterbitkan.
7.Lebih baik bila setiap tokoh yang kita tulis memiliki filosofi “mengapa harus tokoh ini?” karena berhubungan erat dengan jalan cerita. Misal kita mengambil tokoh fantasi Es Jeruk dan Es Kopi lalu memikirkan apa kaitannya dengan cerita yang sedang kita tulis.
8.Need research! Hindari praktik “asal tulis yang penting happy khususnya dalam cerita fantasi. Hal yang ditekankan di sini adalah kelogisan cerita, ‘kan nggak lucu juga kalau ada gelas pecah bisa bicara tanpa sebab, hihi.
9.Unsur pengetahuan lain dari sisi ilmiah maupun sosial juga bisa dimasukkan dalam cerita lho. Intinya, hal itu bisa menjadi “suplemen” bagi anak.
10.Ehm, poin yang penting nih. JANGAN MENGGURUI! Lebih baik menghindari kalimat seperti; “jangan berantem, gak baik lho, itu dosa!” karena pesan moral sebaiknya dipikirkan oleh anak sendiri dan disampaikan perlahan oleh penulis. Biasanya jika diberitahu secara frontal begitu kesannya kurang bagus juga.

Nah, bagaimana minasan? Sampai di sini sudah cukup pemanasannya? Hehe. Eits, masih ada lanjutan tipsnya lho.

Minasan pasti tahu cerita anak yang memang ditujukan untuk anak ini dibacakan oleh orang tua, nah loh, beda poin bahasan nih. Lalu apa saja ya yang perlu diperhatikan? Ini dia ulasannya:

1.Kalimat khususnya di bagian penjelasan jangan terlalu panjang, diberi titik dan koma, karena yang membaca akan ngos-ngosan! T.T
2.Typo(s) warning! Seperti biasa, budayakan membaca lagi setelah mencetak naskah karena biasanya salah ketik baru akan ketahuan jelas jika sudah pindah dari Ms. Word. Sudah jelas dong kesalahan ketik akan menyulitkan orang tua membacakan cerita pada anaknya.
3.Jangan tulis dialog terus menerus karena akan membuat anak bosan membacanya.
4.Dalam satu paragraf paling tidak berisi tiga kalimat saja agar alur cerita yang dibacakan orang tua dapat dipahami dengan mudah dan cepat.
5.Nah, yang ini juga penting. Action dan efek suara dalam suasana cerita juga harus play nih. Misalnya saja; Prangg! Bukk! Klotak... dan sebagainya. Agar cerita lebih hidup nantinya dan juga orang tua akan lebih semangat membacakan cerita tersebut ala seiyuu alias dubber, hihi.

Yupp, sudah saya paparkan semua nih tips menulis cerita anak dengan benar. Bagaimana minasan? Makin tergerak lagi untuk segera menulis?^^

Semoga bermanfaat! :D

Friday, October 21, 2016

Kelas Menulis “Dialog” Bersama I Putu Ayub Darmawan

Suasana serius tapi santai saaat kelas menulis

Kegiatan rutin Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang bersama I Putu Ayub Darmawan sebagai narasumber sekaligus anggota Kelompok Literasi Ungaran tersebut diadakan pada hari Sabtu, 10 September 2016 pukul 14.00-16.00 WIB. Berbeda dengan minggu sebelumnya, kali ini kelas menulis dihadiri lebih sedikit peserta yakni sekitar 15 orang. Kendatipun demikian, kegiatan ini tetaplah dibumbui antusiasme para peserta -termasuk saya- yang dengan teliti menyimak pemaparan materi “menulis dialog dalam cerpen” oleh Mas Putu.

Poster kelas menulis dialog kali ini

Di awal slide presentasi, Beliau memaparkan apabila dialog membuat cerpen semakin menarik. Karena dialog tersebut merupakan kesan hidup bagi sebuah cerpen. Tidak hanya itu, percakapan juga membantu plot, menggerakkan cerita terus ke depan, dan menggambarkan karakter. Misalnya bila karakternya dewasa maka dia akan sering menasehati. Dengan adanya percakapan, sifat kerpribadian yang halus dapat dirasakan sementara uraian cerita tidak dapat melakukan itu. Tidak terlepas dari peran pentingnya, masalah yang sering dialami penulis pemula ialah tidak mudah menulis percakapan yang hangat, manusiawi, dan wajar.

Beliau menekankan bahwa kemampuan menulis dialog dilatih dengan mendengar orang lain berbicara. Dengan latihan itu, yang akan kita dapat antara lain:
1.Kita dapat mengembangkan perhatian terhadap bahasa.
2.Kita akan memberi perhatian khusus pada dialog, selain kepada apa yang mereka katakan, juga bagaimana cara mereka mengatakannya.
3.Kita akan bisa menentukan cara menulis dialog yang tepat berdasarkan kriteria dan sudut pandang sang tokoh.

Nah, selain kesulitan dalam menulis percakapan itu sendiri. Penulis pemula juga sering dipusingkan dengan cara menyatakan tokoh mana yang sedang berbicara sedangkan dalam suatu plot dalam cerita terdapat lebih dari dua orang tokoh yang sedang berbincang. Melihat cengar-cengir saya dan para peserta yang lain, Beliau segera memberikan tips untuk mengatasi masalah tersebut:

1.Setiap ucapan seorang tokoh, harus bisa menunjukkan sifat dan kepribadiannya. Misal: orang dewasa cenderung suka menasehati kepada anak muda.
2.Bila kesulitan menggambarkan ucapan tokoh, berikan penekanan atau penjelasan di belakang dialog. Misalnya: .....” ia bertanya dengan penasaran.
3.Kita dapat mengungkapkan emosi dengan menunjukkan cara bertindak dan berbicaranya tokoh-tokoh cerita.
4.Hal yang mutlak dalam menulis dialog, HARUS diberi tanda kutip!
5.Kita menempatkan setiap pembicaraan dari setiap tokoh terikat dengan gerak-gerik atau pernyataan yang menjelaskannya, dan itu ditulis dalam satu alinea terpisah.

Dari sini minasan sudah tahu dong kalau keberadaan dialog itu penting. Namun bagaimana jika dialog dalam sebuah cerita terlalu banyak? Nah, inilah yang kemudian disarankan oleh Mas Putu:

1.Terlalu banyak dialog akan membuat cerita menjadi monoton, lebih baik dihindari dengan menambah atau menyisipkan narasi.
2.Agar pembaca tidak bosan, dialog hendaknya ditulis ringkas dan cepat.
3.Sangat jarang diperlukan satu percakapan tokoh yang mengandung sepuluh baris kalimat atau lebih. Jika terjadi demikian, tentu pembaca akan merasa bosan.
4.Agar dialog tidak terlalu panjang, bisa disisipkan pertanyaan dari tokoh lain.
5.Setiap percakapan perorangan, harus dikaitkan dengan percakapan dan selanjutnya agar terlihat runtut.

Yupp, sudah diterangkan semua nih tips menulis dialog dengan benar. Bagaimana minasan? Makin tergerak lagi untuk segera menulis?^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber: Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang/facebook.com

Gali Inspirasi Bersama I Putu Ayub Darmawan

Foto bersama Mas Putu dan para peserta

Dewasa ini seluruh perpustakaan di penjuru tanah air semakin menggalakkan budaya menulis dan membaca terlebih untuk pelajar. Dari agenda itulah tersusun serangkaian acara yang mendukung perkembangan budaya tersebut yakni “Kelas Menulis” yang saya ikuti di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang yang terletak di Jalan Pemuda nomor 7 Ungaran atau yang lebih dikenal dengan Alun-alun Lama Ungaran. Kelas menulis tersebut diagendakan rutin setiap Sabtu minggu kedua dan keempat, tentu saya sangat bersemangat mengikuti kelas ini karena pelatihan menulis baiknya dilakukan secara intensif dan tentunya gratis.

Poster kelas menulis bersama Putu Ayub


Nah, kelas menulis pertama diadakan pada hari Sabtu, 20 Agustus 2016 mulai pukul 14.00 hingga 16.30 WIB. Tentunya minasan tahu jika pertemuan pertama selalu ramai dan dibanjiri peminat. Benar saja, begitu memasuki ruang audio visual di lantai satu perpustakaan, kelas tersebut sudah dipadati banyak orang. Kurang lebih terdapat 60 orang peserta yang datang untuk menimba ilmu dari sang narasumber, Putu Ayub yang juga seorang dosen di sebuah universitas swasta.

Suasana dalam kelas menulis yang padat merayap 


Hal yang di-share oleh Mas Putu Ayub -Beliau meminta dipanggil demikian- pada hari tersebut ialah “Kiat Praktis Menulis Cerpen”. Nah, pasti minasan ingin segera tahu kan kiat-kiat apa saja itu? Berikut ulasannya.

A.Ide Cerita 
Bagi seorang penulis pemula sering kesulitan memperoleh ide. Dari pengalaman Beliau menulis, ide seringkali muncul dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita dan hal itu berupa sesuatu yang sederhana. Seperti halnya menulis konflik, di mana konflik cerita mampu kita dapatkan dari kehidupan sehari-hari misalnya dari media massa seperti televisi, koran, dan sebagainya. Selanjutnya dapat kita tulis ke dalam alur cerpen dengan sederhana.

B. Membuka Cerpen 
Beliau juga mengatakan bahwa bagian ini merupakan hal sulit juga untuk penulis pemula. Biasanya kelemahan penulis pemula dalam membuka cerpen ialah terlalu bertele-tele. Berikut beberapa tipsnya:
1.Memunculkan Masalah.
Karena secara alamiah manusia tertarik dengan masalah, cara ini biasanya dimanfaatkan penulis untuk menarik minat pembaca.
2.Membuka Cerita Dengan Memunculkan Aksi. 
Penulis dapat memulai cerita dengan memunculkan aksi dan langsung melompat ke tengah cerita, di sini latar belakang cerita tidak tampak pada permulaan cerita.
3.Membuka Cerita Dengan Memunculkan Ketegangan. 
Misalnya tokoh sedang berada dalam bahaya, cerita dibumbui narasi mengenai kondisi cuaca yang hujan, daerah yang terkesan kurang aman, dan orang-orang yang membawa senjata.
4.Menampilkan Lokasi Cerita. 
Narasi pembuka biasanya berisi tentang tokoh yang tinggal di suatu tempat dan sedang melakukan sesuatu -misal bekerja atau bersekolah.

C. Menulis Cerita
Kekuatiran penulis adalah tulisan yang dihasilkan kurang bagus sehingga membuatnya enggan untuk menulis. Kunci penting dalam menulis adalah menuliskan apa yang menjadi ide cerita kita tanpa mempedulikan apakah tulisan itu bagus atau tidak. Yang penting, jika kita ingin menulis maka tulis saja dulu. Selanjutnya baru diperbaiki setelah mendiskusikannya dengan teman-teman. Penulisan cerpen juga perlu memperhatikan cara memulai cerita. Sebuah cerpen dapat dimulai dengan dua cara, yaitu:
1.Memulai dengan klimaks kemudian mengakhirinya dengan detail-detail.
2.Memulai dengan detail-detail cerita baru mengakhirinya dengan klimaks.
Untuk dapat menyusun cerita dengan baik nantinya, Beliau juga menyarankan untuk menulis cerita dengan jalan menganggap cerita kita sebagai sebuah adegan drama. Fakta yang disajikan dalam cerita perlu ditulis dengan baik dan tidak berlebihan, melainkan dikembangkan menjadi semakin menyenangkan agar membuat pembaca penasaran dnegan akhir ceritanya.

D. Menghidupkan Tokoh 
Tokoh dalam cerpen haruslah tokoh yang cocok dengan ceritanya. Bisa diambil dari orang-orang di sekitar kita yang memiliki kecocokan dengan cerita. Yang perlu diperhatikan penulis untuk menciptakan tokoh ialah; tinggi badan, berat badan, cara berjalan, pakaian, warna rambut, hobi tokoh, agama, dan sikap politiknya. Meskipun tokoh dapat diambil dari orang-orang di sekitar kita, mencari nama tokoh bagi penulis pemula terbilang sulit. Untuk menentukan nama, hal yang perlu diperhatikan ialah kecocokan nama dengan latar cerita. Misalkan cerita berlatar kehidupan Sunda, maka nama yang dipakai adalah Ujang, Dedew, Deden, dan lain sebagainya.

Bagaimana minasan?? Keren kan?? Dengan ini, minasan yang sedang kebingungan menulis cerpen semoga bisa terbantu, aamiin!^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber: Kantor Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Semarang/facebook.com

Saturday, September 10, 2016

Ochuugen, Tradisi Pemberian Hadiah Tulus di Pertengahan Tahun



Hadiah Ochuugen
Cr: Anibee.tv

Minasan, apakah pernah mendengar tentang Ochuugen? Oh? Pernah? Tradisi memberikan hadiah kepada atasan ketika pertengahan tahun? Apakah hanya itu?

Ehem..kali ini saya akan menjelaskan header artikel di atas. Seperti yang minasan tahu, tujuan memberikan hadiah selama musim ini adalah mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada orang-orang yang telah merawat kita seperti orang tua, saudara, kerabat, mertua, teman dekat, atasan, rekan kerja, klien, guru, atau pelatih dengan tujuan untuk kesejahteraan mereka.

Ochuugen sebenarnya berasal dari ritual Taoisme di Cina, untuk merayakan ulang tahun cucu Raja Naga, yaitu Raja yang mengatur Jougen, Chuugen, dan Kagen yang berlangsung pada tanggal 15 Januari, tanggal 15 Juli, dan tanggal 15 Oktober. Chuugen dijadikan sebagai hari bagi manusia untuk bertobat dari dosa-­dosa mereka, dimana kebakaran terus menyala sepanjang hari guna menghormati para dewa. Kemudian, saat tersebut berubah menjadi hari untuk mencari pengampunan atas dosa­dosa orang yang telah meninggal. Meskipun dalam Buddhisme, bahwa Chuugen adalah hari ketika orang-orang berdoa kepada roh nenek moyang, perkembangan secara bertahap adat Taoisme dan Buddhisme menjadi ritual Obon di Jepang lantas menyebabkan pula perkembangan kebiasaan memberikan hadiah selama Ochuugen.

Umumnya, makanan dan minuman adalah pilihan yang lebih disukai untuk Ochuugen. Karena panas selama musim ini, barang­barang yang dapat membawa pendinginan tangguh dari panas antara lain bir, makanan ringan dingin dan makanan seperti daging dan buah­-buahan yang merupakan sumber baik untuk membangun stamina adalah pilihan teratas.

Nah sampai di sini minasan sudah paham belum? Dari uraian di atas, sejarah dan jenis barang yang akan dihadiahkan memang patut diperhatikan, tetapi yang ini juga tak kalah penting, yaitu minasan perlu  memastikan bahwa penerima kado akan mendapatkan hadiah selama periode Ochuugen tertentu berdasarkan tempat tinggal mereka. Di Jepang, ada dua musim utama pemberian hadiah, yaitu Ochuugen dan Oseibo, yang masing-masing berlangsung di tengah dan akhir tahun. Tergantung pada daerahnya, tanggal pasti untuk itu mungkin sedikit berbeda. Wilayah Jepang Timur termasuk Kanto, musim Ochuugen dimulai antara awal Juli sampai 15 Juli. Di sisi lain, wilayah Jepang Barat termasuk Kansai dimulai dari akhir Juli hingga 15 Agustus. Di celotehan kali ini, saya mengutip berita yang berkaitan dengan Ochuugen di wilayah Jepang Barat.

Pemenang lelang Melon Yubari berfoto bersama Walikota Hokkaido
Cr: halojepang.com

Berdasarkan potret di atas, Walikota Hokkaido Naomichi Suzuki (kanan) memegang melon Yubari atau Yubari King bersama Konishi Takamaru, pembeli di supermarket Amagasaki, Jepang Barat yang memenangkan lelang melon Yubari pada akhir Mei 2016. Sepasang melon pada lelang itu laku ¥3 juta atau setara dengan Rp 360 juta. Harga tersebut memecahkan rekor sebelumnya yaitu ¥2,5 juta (2008). Melon Yubari adalah buah melon produksi greenhouse Yubari di Hokkaido, kota kecil di dekat Sapporo. Melon ini hasil persilangan antara melon Earl’s Favourite dan Burpee’s Cantaloupe. Orang Jepang menggunakan melon Yubari sebagai hadiah pada perayaan Ochuugen yang jatuh pada hari ke-15 pada bulan ketujuh penanggalan Jepang.

Wow...termasuk harga yang fantastis yah. Apakah minasan ingin mencobanya juga? Hehe...^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber:
Anibee
HaloJepang! Edisi Juni 2016/IV

Saturday, August 20, 2016

“99.9 Keiji Senmon Bengoshi”, Kebenaran Di Balik 0,1%

Cr: Asianwiki

Minasan, konnichiwa! Kali ini saya akan memaparkan review lagi tentang Drama Spring lalu yang berjudul 99.9 Keiji Senmon Bengoshi atau yang bisa disebut “99.9 Specialist Criminal Lawyer ”. Pasti di manapun mengatakan sinopsisnya ialah tentang Hiroto Miyama (diperankan oleh Jun Matsumoto), seorang pengacara miskin yang mengambil kasus pidana tetapi tidak membuat uang. Dia mengejar kebenaran untuk 0.1% dari tingkat keyakinan 99.9% di Jepang. Padahal setelah merampungkan kesepuluh episodenya, menurut saya kisah Miyama dan kawan-kawannya di Firma Hukum Madarame tidak sesimpel itu. Mengacu pada judul dramanya, mengapa tingkat dakwa di Jepang sangat tinggi hingga mencapai angka 99.9% ?

Alasannya ialah, tidak ada yang bisa meragukan jaksa, yang memegang kekuasaan negara dan keakuratan konten mereka telah disediakan untuk melakukan penuntutan. Istilah mudahnya, jika jaksa sudah mengatakan seseorang sebagai “tersangka” atas bukti yang sudah dikumpulkan polisi, maka orang tersebut mutlak “dijatuhi hukuman”. Masalahnya, ya jika jaksa tersebut jujur, tapi bagaimana kalau jaksa tersebut memanipulasi hasil laporan dan bisa berubah keyakinannya seperti jaksa di Indonesia yang tergiur habis disogok uang? Ups, buka kartu nih, hehe.

Saya menilik drama ini bukan hanya sebagai hiburan semata tetapi juga sebagai “penyadaran” bahwa dunia ini memang hancur begini adanya dan butuh aksi penyelamatan secara nyata. Mengingat Indonesia yang baru saja “berulang tahun” ke-71 kemarin, saya jadi miris sendiri memikirkannya. Apakah saya berlebihan? Entahlah, tapi apabila minasan peka dengan keadaan sekitar, pasti mengerti akan maksud hati saya. Perubahan memanglah perlu “kerja nyata”.

Ehm, kembali ke review. Sejak episode awal, quest yang diberikan kepada Miyama dan kawan-kawan sangatlah bervariasi, serupa tapi tak sama dengan yang terjadi di Indonesia. Hanya dengan uang dan kekuasaan serta trik dan antek-anteknya, seseorang dapat “melimpahkan” kesalahannya kepada orang lain dengan mudahnya. Alias kasus salah tuduh. Cukup, di sini pasti sudah dapat terlihat intriknya -khas Drama Asia- tetapi apakah ada orang yang mau membela korban yang sudah berada di ujung tanduk tersebut?

Nah itulah daya tarik spesial di drama ini yang membuat saya terharu. Baiklah, saya akan spoiler sedikit. Ada alasan pribadi mengapa Miyama malah mengejar kebenaran bukannya uang, baginya yang terpenting adalah mengetahui kebenaran dari suatu peristiwa. Berawal dari ayahnya yang didakwa sebagai tersangka pembunuhan seorang gadis SMA, semua bukti mengarah padanya dan ayah Miyama tak mengakuinya karena bersikeras tak melakukannya, iapun terpaksa menjalani hukumannya hingga akhirnya meninggal di dalam tahanan. Kesedihan tentunya membuat Miyama kecil terluka, tapi kesakitan yang ia rasakan justru membuatnya bangkit karena menyadari adanya banyak kejanggalan dalam hukum di Jepang yang mengantarkannya sebagai pengacara hebat yang mampu memecahkan kasus sulit tak bercelah sekalipun dengan cara yang unik pula.

“Suatu hari ayahku dibawa oleh orang-orang seperti kalian -jaksa-, sejak hari itu dan seterusnya hidup yang kualami berubah. Mereka yang dituduh menjadi korban kejahatan juga mengalami hal yang sama dan aku akan terus menjadi pengacara untuk menolong mereka,” itulah ungkap Miyama di depan seorang jaksa yang mungkin dikisahkan sebagai “musuh bebuyutannya” di drama ini.

Greget kan mendengarnya minasan? Jadi ingin menonton kisah serius tapi santai Mr. Perfect dari Arashi ini dan segera berubah menjadi orang yang dapat menolong kebenaran yang disembunyikan kah?^^

Semoga bermanfaat! :D

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More