Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, June 9, 2015

Rindu



Hari ini Senin ataukah Sabtu
Kamu tahu?
Yang pasti setiap hari aku merindu

Semarang, 9 Juni 2015



Monday, June 1, 2015

Hujan Bulan Juni

shintashinta.wordpress.com
oleh Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yag lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserapnya akar pohon berbunga itu

1989
atviana.wordpress.com

Sunday, May 31, 2015

Apa Kabar Cinta?

Apa kabar cinta?
Bukankah setiap sepasang jiwa mempunyai kisah cinta mereka

Apa kabar cinta?
Rinduku pada kisah cinta Ali dan Fatimah Azzahra
Mencinta karena agamanya

Apa kabar cinta?
Teringatku pada kisah kita, saling mengenal kemudian dipisahkan di dalamnya

Apa kabar cinta?
Kita berjarak sementara agar dapat menerka rasa, apakah benar-benar ini cinta

Apa kabar cinta?
Meraba hati masihkan rasa ini sama
Mantapkan niat untuk apa hubungan kita ada

Apa kabar cinta?
Seperti musim hujan dan kemarau
Keduanya melengkapi, segarnya air setelah diri terpapar matahari
Hangatnya matahari setelah hujan sehari-hari

Semarang, 31 Mei 2015


Thursday, September 25, 2014

Beranda Bali

pasti, aku merindukanmu
karena hujan tak henti-henti,
daun kamboja di depan rumah terantuk pucat pasi
jalan menuju kampung ini masih setapak, seperti yang tempo hari ilalang menutup batuan di kiri kanan hingga tak nampak saat melewati

pasti, aku merindukanmu di beranda bali, di perbukitan sunyi ini rumah yang seperti lukisan warna-warninya, dibantu cahaya pagi jika senja menderai, lampu oncor menggeser bayangan tak terurai

bisakah kuhapus jejak yang dulu karena usia mematah waktu
mungkin engkau tiada,
di saat aku mengelana

(Handry TM, Februari 2014)

Thursday, November 21, 2013

Bagaimana Kabar yang Terlepas?

Bagaimana kabar yang terlepas?

Akankah hujan menyatukan kita untuk bermain di kala hujan tanpa cemas?

Toki o kakettehoshii!

(Kota Atlas,101112)

Sumber foto Internet

Thursday, July 26, 2012

Di Depanku Ada Kuburan

Di depanku ada kuburan



Tanah memerah bekas galian



Di depanku ada kuburan



Menunggu daun siapa gugur bergiliran



Di depanku ada kuburan



Doa dilantunkan



Di depanku ada kuburan



Jasad ditinggalkan



Di depanku ada kuburan



Sebelum nyawa di tenggorokan



Terlambatkah meminta ampunan?





(Astaghfirullahal'adzim... Magelang, 14 Juli 2012, dalam duka seorang kawan)


Saturday, July 21, 2012

Hujan di Bulan Juli


Satu bulan lalu adalah kering
Panas menelantarkan alas bersama ranting
Mengalunkan nada kemarau yang nyaring
Air tak lagi mengalir seperti di Januari
Meluber tanda berkah Illahi

Anak-anak berlarian
Menadah air dari langit berhias hujan
Malam ini, gerimis di bulan Juli
Akankah ini yang aku cari?
Di depan mata, tanah retak
Daun gugur terkoyak

Ah, bukankah melihat daun gugur juga keindahan?
Seindah menadah turunnya hujan?
Air menjadi sumber kehidupan
Daun gugur mengingatkan kematian
Keduanya kepastian bukan?



Patemon, Gunungpati, Semarang Senin 16 Juli 2012 dalam ruang hampa tawa, cukup senyum.

Sumber foto internet

Thursday, October 20, 2011

Mencinta dalam Sunyi

Mencari sebuah kata... Makna... Ketika keheningan lebih bermakna dari sebuah kata...

Sunday, September 25, 2011

Diary Hujanku

Hujan... Kau datang lagi Menghapiri sepi Hujan Kau turun lagi Menghibur perih hati Hujan.... Kau datang dan turun lagi Susah payahmu kau terjunkan diri ke bumi hanya untuk menghampiri hati ini yang sepi Hujan... Sampai kapan kau kan membasahi Sepanjang kemarau yang membungkam diri
^_^.

Monday, April 18, 2011

Ku Coba Tuk Ikhlas?




Biarlah dia senang

Biarlah dia merajut kebahagiaan

Dengan senyuman yang menyejukan

Dengan tawa pehuh kegembiraan

Biarlah....
Biarlah...
Biarlah...

Aku sendiri di sini ikhlas?
Aku di sini menerima semuanya?
Aku di sini berdiri tanpa mengharap kembalimu?
Aku sendiri sepi tanpa meminta kau berbalik padaku?

Ah...
Ikhlas...
Ikhlas...
Ikhlas...


Jika aku ikhlas untuk apa aku menuliskan ini?
Jika benar-benar tak mengharap, untuk apa aku berbagi deritaku di sini?

Ikhlas...
Ikhlas...
Ikhlas...

Akankah ikhlas harus berdiam diri?
Atau mencari celah untuk menemukan yang lebih baik?
Ikhlas...

Thursday, March 24, 2011

Pagi Buta


Pagi...
Aku pacu sepedaku
Dingin menyerbu

Pagi...
Lenggang, pedagang kaki lima menghilang
sementara

Pagi...
Trotoar ramai dengan aksesoris bendera warna-warni
Simbolis

Pagi...
Jalan aspal lebih mulus dari biasanya
Tombelan dimana-mana

Pagi...
Tukang sapu lebih sibuk dari biasanya
Bersih-bersih kota

Pagi...
Aku teringat besok pagi
Wakil presiden RI datang kemari

Wednesday, March 23, 2011

Cukup!


(-_-)

Aku tak kuasa
Gejolak jiwa ini
Menyiksaku

Aku tak kuasa
Perasaan ini
Memainkanku

Aku tak kuasa
Logikaku
Menjerumuskanku

Aku tak kuasa
Bukankah ini sebuah penganiayaan diri?
Cukup!
Biarkan aku sendiri dengan_Nya
Untuk saat ini

Monday, March 21, 2011

Ketika A sama dengan K dan Sebaliknya






(-_-)

Ah...
Praktis!

Ah...
Instan...

Ah...
Semua dilihat hasil, bukan proses...

Ah...
A,B,C,D,E atau K!

Yang penting Substansinya!

Batas Usia


(-_-)

Napasku sesak,

Mengganjal

Keringat dingin ini

Merembes keluar bebas dari pori-poriku

Badanku lemah

Tak sekuat dulu



Inilah tanda-tanda kekuasan_Mu bukan?

Ya Allah Maha Kuasa...
Ketika sehat, Engkau jadikanku sakit

Ya Allah Maha Perkasa...
Ketika kuat, Engkau jadikan ku tak berdaya

Ya Allah Maha Pencipta...
Ketika aku ada, Engkau bisa menjadikanku tiada...

Ya Allah Maha Tahu...
Aku tak tahu batas usiaku,kapanpun itu jadikan aku termasuk dalam golongan Khusnul Khotimah...

Ya Allah Maha pengampun...
Jika Engkau berkehandak jadikan sakitku ini, menjadi penawar segala dosaku
Amien... Ya Rabbal`alamien...

Sunday, March 20, 2011

Kerlip Itu


(-_-)

Wajahku terang,terhiasi cahaya langit malam,
Aku tengok ke atas langit,
Benda-benda kecil mungil memancar kerlip-kerlip cahayanya...

Ketika hati ini gundah, terbeban oleh amarah...
Katika hati ini bimbang, sedih, sesak, hampa...

Cahaya kerlap-kerlip ini menghiburku,
Seolah mengisyaratkan bahwa, "kau tak sendirian ada kami kn menghiburmu..."

Ya cahaya kerlip itu membuatku trsenyum..
Coba kau lihat dia tak henti berkerlip untukku

Sesak


(-_-)




Tangisku pecah

Sesak.....

Sakit....

Kebencianku menangis menjadi-jadi

Aku benci menagis untuk ini...

Ya, untuk semua hal ini

Namun.....

Harusnya bukan hanya sekadar mengalirkan air mata ke pipi

Tangis dibarengi dengan mengalirnya penyesalan atas semua dosa

Ku rindu tangisku di hadapan_Mu Yaa Rabbi.....

Gila!


(-_-)

Gila!
Kau gila!
Gila kau!

Hasyah....!
Apa yang mereka kata?
Huft....
Apa yang mereka pikirkan?
Masa bodo!

Gila!
Mereka bilang gila!
Aku takkan sepeti ini kalau aku tak “gila”!

Batas Lepas


(-_-)

Aha! Aku bisa lepas.
Aha! Aku bisa bebas.
Aha! Aku serasa terhempas.
Aha! Aku terlepas dari rasa cemas.
Aha! Aku mulai semangat memanas.
Aha! Aku tak boleh merampas?
Aha! Aku setidaknya ini sudah puas.
Aha! Inilah aku yang tak kan lengkang karena kau hanyalah bias.
Lepas.... Bebas.... Namun aku tahu ada batas

Saturday, March 19, 2011

Terbias Malam


Terbias malam ke 12 bulan ramadhan

Jangkrik berderik tanpa henti

"Pak, Bu..... aku masih di sini, mengejar matahari,"

Malam tiba Pak, aku harus mengejarnya sebelum ia pergi

Malam gelap Bu, aku harus terbiasa rupanya

Aku butuh penerang Pak, Bu....

Membantuku melangkah malam ini....

malam ini cukup dingin bagiku Bu...

Gelap....

Apa kau tahu Pak, Bu...?

Aku tak tahu berapa malam lagi.....

Aku bertahan....

Doamu penerang jalanku....

Amien....

Berkobar, Redup dan Mati?

Apimu menyala-nyala

Bekobar

Merah membara

Dulu, berjaya

Apimu terhempas

Meredup

Lemah

Kuatnya agin dari barat itu melemahkanmu?

Dimana benteng kokoh idealis itu?

Nikmatnya kemerdekaan ini melalaikanmu?

Wahai api!

Bahan bakarmu habis?

Ah….tidak! tidak habis kawan !

Kayu-kayu itu hanya basah

Rapuh………

Harusnya tetap kering

Agar bisa dan mudah terbakar

Harusnya tak rapuh

Karena kau dari kayu terbaik didunia ini

Tapi, api kian meredup?

Sungguh, tetaplah berkobar membara

Api kian meredup?

Perjuangan belum berakhir kawan

Api kian meredup?

Sungguh, tunjukan semangat juangmu

Dan akankah api kian meredup?

Dulu berkobar,

Redup,

Akankah mati?

Sunnguh, tetaplah berkobar

Terang

Menerangi jalan peradaban

Di malam yang sunyi,

Gunung Pati, Semarang

Jumat, 17 April 2010

03.24 WIB

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More