Pengikut Google+

Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Saturday, August 20, 2016

“99.9 Keiji Senmon Bengoshi”, Kebenaran Di Balik 0,1%

Cr: Asianwiki

Minasan, konnichiwa! Kali ini saya akan memaparkan review lagi tentang Drama Spring lalu yang berjudul 99.9 Keiji Senmon Bengoshi atau yang bisa disebut “99.9 Specialist Criminal Lawyer ”. Pasti di manapun mengatakan sinopsisnya ialah tentang Hiroto Miyama (diperankan oleh Jun Matsumoto), seorang pengacara miskin yang mengambil kasus pidana tetapi tidak membuat uang. Dia mengejar kebenaran untuk 0.1% dari tingkat keyakinan 99.9% di Jepang. Padahal setelah merampungkan kesepuluh episodenya, menurut saya kisah Miyama dan kawan-kawannya di Firma Hukum Madarame tidak sesimpel itu. Mengacu pada judul dramanya, mengapa tingkat dakwa di Jepang sangat tinggi hingga mencapai angka 99.9% ?

Alasannya ialah, tidak ada yang bisa meragukan jaksa, yang memegang kekuasaan negara dan keakuratan konten mereka telah disediakan untuk melakukan penuntutan. Istilah mudahnya, jika jaksa sudah mengatakan seseorang sebagai “tersangka” atas bukti yang sudah dikumpulkan polisi, maka orang tersebut mutlak “dijatuhi hukuman”. Masalahnya, ya jika jaksa tersebut jujur, tapi bagaimana kalau jaksa tersebut memanipulasi hasil laporan dan bisa berubah keyakinannya seperti jaksa di Indonesia yang tergiur habis disogok uang? Ups, buka kartu nih, hehe.

Saya menilik drama ini bukan hanya sebagai hiburan semata tetapi juga sebagai “penyadaran” bahwa dunia ini memang hancur begini adanya dan butuh aksi penyelamatan secara nyata. Mengingat Indonesia yang baru saja “berulang tahun” ke-71 kemarin, saya jadi miris sendiri memikirkannya. Apakah saya berlebihan? Entahlah, tapi apabila minasan peka dengan keadaan sekitar, pasti mengerti akan maksud hati saya. Perubahan memanglah perlu “kerja nyata”.

Ehm, kembali ke review. Sejak episode awal, quest yang diberikan kepada Miyama dan kawan-kawan sangatlah bervariasi, serupa tapi tak sama dengan yang terjadi di Indonesia. Hanya dengan uang dan kekuasaan serta trik dan antek-anteknya, seseorang dapat “melimpahkan” kesalahannya kepada orang lain dengan mudahnya. Alias kasus salah tuduh. Cukup, di sini pasti sudah dapat terlihat intriknya -khas Drama Asia- tetapi apakah ada orang yang mau membela korban yang sudah berada di ujung tanduk tersebut?

Nah itulah daya tarik spesial di drama ini yang membuat saya terharu. Baiklah, saya akan spoiler sedikit. Ada alasan pribadi mengapa Miyama malah mengejar kebenaran bukannya uang, baginya yang terpenting adalah mengetahui kebenaran dari suatu peristiwa. Berawal dari ayahnya yang didakwa sebagai tersangka pembunuhan seorang gadis SMA, semua bukti mengarah padanya dan ayah Miyama tak mengakuinya karena bersikeras tak melakukannya, iapun terpaksa menjalani hukumannya hingga akhirnya meninggal di dalam tahanan. Kesedihan tentunya membuat Miyama kecil terluka, tapi kesakitan yang ia rasakan justru membuatnya bangkit karena menyadari adanya banyak kejanggalan dalam hukum di Jepang yang mengantarkannya sebagai pengacara hebat yang mampu memecahkan kasus sulit tak bercelah sekalipun dengan cara yang unik pula.

“Suatu hari ayahku dibawa oleh orang-orang seperti kalian -jaksa-, sejak hari itu dan seterusnya hidup yang kualami berubah. Mereka yang dituduh menjadi korban kejahatan juga mengalami hal yang sama dan aku akan terus menjadi pengacara untuk menolong mereka,” itulah ungkap Miyama di depan seorang jaksa yang mungkin dikisahkan sebagai “musuh bebuyutannya” di drama ini.

Greget kan mendengarnya minasan? Jadi ingin menonton kisah serius tapi santai Mr. Perfect dari Arashi ini dan segera berubah menjadi orang yang dapat menolong kebenaran yang disembunyikan kah?^^

Semoga bermanfaat! :D

Insiden Tragis Mayu Tomita, Ada Apakah Gerangan?

Cr: Jurnal Otaku Indonesia

Pada tanggal 21 Mei lalu terjadi sebuah peristiwa naas yang menimpa idol Jepang bernama Mayu Tomita di mana sang idola diserang salah satu penggemarnya di Chateu Koganei, tempat berlangsungnya event SOLID GIRLS NIGHT vol.11 dan “menghadiahkan” 20 tusukan oleh benda tajam yang membuatnya koma selama beberapa waktu terakhir. Dilansir dari Sankei News, tusukan-­tusukan tersebut berakibat buruk pada kondisi  kesehatannya. Kendati luka di lehernya cukup dalam, untungnya tidak ada luka yang fatal di jantung dan organ internalnya. Mayu sendiri  sekarang sedang menjalani pemulihan dari semua luka­lukanya. Beruntung Mayu diberitakan sudah sadar pada Selasa malam, tanggal 7 bulan Juni kemarin dan pihak rumah sakit menginginkan kondisi Mayu stabil terlebih dulu sebelum dia dapat menemui keluarganya atau ditanyai oleh pihak kepolisian.

Sebenarnya alasan saya “berceloteh” mengenai kasus ini karena terasa menarik. Dewasa ini industri hiburan menjadi “alat penghasil uang” yang sangat hebat, terlebih untuk negara maju seperti Jepang dan Korea. Kegiatan “ngidol” pun menjadi hal yang umum bagi para orang, tetapi efek buruknya terkadang seseorang menjadi terlalu mendewakan idolanya dan gelap mata hingga ingin mengetahui semua yang dilakukan idolanya, sekecil apa pun hal itu sehingga mengharuskannya mengikuti idolanya kemanapun. Yes, right! Itulah yang bisa minasan katakan sebagai stalker. Dan itulah kasus yang menimpa penulis dan penyanyi lagu tersebut, diserang oleh fansnya sendiri bernama Tomohiro Iwazaki. Menurut berita, setiap hari selama 2 sampai 3 jam Iwazaki selalu menunggu di depan stasiun JR Musashi Koganei Tokyo untuk melihat kedatangan Mayu dari tempat kerjanya menuju rumahnya. Hadiah-hadiah dikirimkan ke rumah Mayu tapi tak dapat perhatian sama sekali dan malah dikembalikannya tanpa memberikan alasan kenapa, telah membuat Iwazaki jengkel. Dikatakan itulah sebab mengapa Iwazaki nekat menyerang idolanya sendiri. Ia ditangkap di tempat kejadian dan berteriak, “Aku yang melakukannya! Aku yang melakukannya!”. Diduga, dia sering menunggu Mayu di stasiun hanya untuk bertanya mengenai hadiah tersebut.

Insiden itupun membuat pemerintah Jepang akan menggalakkan hukum terhadap para stalker. Karena sebelum kejadian, sebenarnya pihak Mayu telah melaporkan aksi penguntitan Iwazaki kepada polisi. Polisi pun sebenarnya sudah mengetahui penguntit yang tinggal di Uzumasanakasuji, Ukyo-ku, Kyoto itu dari laporan ibu Tomita April lalu. Namun polisi Kyoto mengatakan sebaiknya kontak dan lapor saja ke polisi Metropolitan Tokyo mengenai perbuatan penguntit tersebut. Tak urung, insiden yang menimpa Mayu mendapat perhatian besar saat ini dari masyarakat Jepang karena polisi terlambat mengantisipasi.

Tentu saya dan minasan mulai sepikiran di sini. Ya, pertanyaannya: siapa yang pantas disalahkan? Ehm, tapi daripada itu, lebih penting untuk menanyakan apa yang sebaiknya dilakukan, bukan? Saya harap dari kejadian ini semua pihak bisa sadar dan memilih opsi untuk saling membantu, baik dari pihak artis maupun kepolisian, dan juga fans. Saya mengira hal ini hanya terjadi di dalam drama, karena sebelumnya saya pernah menonton drama Korea dengan insiden yang sama yaitu laporan penguntitan dari seorang pegawai wanita kantoran agak “disepelekan” karena mengingat hukum dari kejahatan stalker sangat kecil, tetapi setelah insiden penusukan terjadi, keluarga korban menjadi tidak percaya dengan kepolisian. Semoga kepolisian melakukan yang terbaik demi melindungi warga sipil. Saya juga berharap Artis Tomita yang berupaya menjadi artis dengan mandiri memiliki manajer dan atau tergabung ke dalam perusahaan artis supaya lebih aman dan dapat menyelesaikan masalah hadiah dengan fansnya, semoga cepat sembuh juga ya.^^

Ehm, untuk para fans, mengidolakan boleh saja ya? Tapi artis juga manusia, mereka pasti punya kehidupan pribadi yang mungkin saja tak ingin diketahui orang lain kan? Hey...semua orang itu istimewa, bukan hanya artis semata, lebih baik mengidolakan diri sendiri yang telah berjuang sampai detik ini demi menggapai mimpi, hehe.

Semoga bermanfaat! :D

Kepribadian Berdasarkan Golongan Darah, Haruskah Percaya?

Cr: facebook.com/Fakta Golongan darah A, B, O, AB

Minasan pasti sering mendengar tentang “Fakta Golongan Darah” bukan? Tentu saja, promosi melalui media sosial maupun dalam media cetak sebagai buku yang tergolong best seller membuat kita tak asing lagi dengan istilah itu. Apalagi digambarkan sebagai tokoh komik yang lucu dan membuat kita mudah mengingatnya. Ehm, pertanyaannya, mengapa saya mengangkat hal tersebut sebagai celoteh kali ini? Tak lain dan tak bukan karena dampak yang ditimbulkan akibat kepopuleran si “Ketsueki-gata” yang tentunya tegolong kurang baik.

Bayangkan saja, orang-orang jadi berpedoman bahwa karakternya ditentukan oleh golongan darahnya dan hal tersebut bersifat mutlak karena -katanya- protein-protein tertentu di dalam darah membangun semua sel di tubuh kita dan oleh karenanya menentukan psikologi kita. Tak jarang pula menyalahkan kepribadian yang dimilikinya -misal pemarah atau cengeng- karena golongan darahnya. Kepercayaan tidak berdasar ini bahkan mempengaruhi politik. Pada 2011, seorang menteri di Jepang, Ryu Matsumoto, dipaksa mengundurkan diri, ketika pernyataan keras dan kasarnya kepada pejabat lokal ditayangkan di televisi nasional. Dalam pidato pengunduran dirinya, ia menyalahkan sikapnya yang emosional itu pada kenyataan bahwa ia bergolongan darah B. Loh loh loh, kok aneh sih?

Yah...entah dunia sudah tua atau apa, Wallahualam. Saya memang suka dengan anime “Blood Type” karena pengemasannya lucu, saya pun memiliki keychain “Type A” untuk koleksi dan trend saja. Namun sayangnya, masyarakat luas masih menggemari hal-hal yang faktanya belum jelas dan amat mempercayainya, tapi sok-sok mengambil istilah dari sains, atau istilah kerennya biasa disebut pseudosains, perlu untuk disadarkan. Padahal bagaimana kalau sekali lagi ditilik dari kacamata ilmiah? Atau kacamata sosial? Cobalah minasan pikir baik-baik, apakah masih ingin percaya?

Sudah banyak studi ilmiah yang mempertegas kontradiksi ini. Misalnya, Kengo Nawata (2014) seorang psikolog sosial Jepang, menganalisis secara statistik kaitan antara golongan darah dan kepribadian pada 10.000 orang Jepang dan Amerika. Ia menemukan bahwa tidak ada relevansi antara golongan darah dan kepribadian seseorang. Studi di Australia (2003) juga sampai pada kesimpulan bahwa mengaitkan kepribadian seseorang dengan golongan darah tidak punya dasar yang valid.

Setelah membaca banyak artikel dan mengalami sendiri pengalaman nyata di lapangan -disemprot teman akrab, pemikiran saya mulai “tercerahkan” hingga membuahkan hasil bahwa golongan darah itu sama sekali TIDAK BISA mempengaruhi karakter seseorang. Kepribadian manusia dipengaruhi oleh kombinasi antara faktor gen, sirkuit otak, level hormon, dan pengaruh lingkungan, itu sudah jelas, bukannya karena golongan darah semata.

Sayangnya, kepercayaan ini sudah lama “menjangkit” beberapa negara tetangga seperti Jepang, Korea, dan Taiwan dan bahkan sudah menjadi bahan obrolan ringan, bahan candaan, yang ujung-ujungnya menjadi serius juga. Pun yang terjadi di Indonesia, bayangkan deh minasan jika itu terjadi sedemikian parahnya. Misal, orang bergolongan darah AB yang dicap “aneh, misterius, langka” pasti akan terisolasi dan didiskriminasi dari masyarakat sekitarnya karena memiliki pemikiran tersendiri misalkan hanya menabung jika ada proyek, sering ngaret karena gonta-ganti program acara, dan lain-lain. Tentu ini sangat disayangkan, apakah umum membeda-bedakan orang hanya karena golongan darahnya? Memangnya Pencipta yang di atas menciptakan makhluk-Nya demi tujuan seperti itu? Coba kita amati kedua tangan kita, lalu amati lagi kesepuluh jari kita, kemudian bandingkan dengan seseorang di samping minasan. Lihat, apakah sidik jari yang kita miliki sama dengan orang tersebut? No way! Allah memang mengatakan setiap makhluk itu sama derajatnya tapi apakah minasan tidak berpikir bahwa tiap makhluk tersebut juga istimewa? Allah juga mengatakan tiap makhluk-Nya juga memiliki rejeki, jodoh, dan kematian yang berbeda dengan individu yang lain kan? Masih ingin percaya dengan sifat seseorang dari komik golongan darah?

Tidak sengaja saya menonton sebuah drama Korea di sela waktu liburan saya. Mata saya melotot ketika sang aktor mulai marah-marah karena temannya bicara tentang ramalan dan sebagainya -pseudosains- ketika membaca koran.
“Bagaimana bisa seseorang berpikir itu akurat dengan mengategorikan itu semua dari enam miliar orang di Bumi, menjadi empat jenis darah sederhana? Jika kita asumsikan bahwa Korea memiliki 48 juta orang dibagi menjadi 12 tanda-tanda zodiak, berarti sekitar 4 juta orang berbagi tanda yang sama. Dan karena itu dibagi menjadi 5 tahun, sekitar 800.000 orang berbagi prediksi harian yang sama. Jadi setiap orang yang lahir pada tahun 1970 adalah di tahun anjing, yang mana semua dari mereka berbagi prediksi yang sama selamanya. Ini adalah contoh utama dari generalisasi yang berlebihan. Mengerti?” 

Well...pasti hidup kita bakalan bosen banget ya minasan jika kita benar-benar seperti itu? Semoga bermanfaat! :D

 Sumber:
Zenius Education

Monday, August 8, 2016

“Orange”, Penjelajahan Waktu Menghapus Penyesalan dalam Dunia Paralel

Cr: japanesestation.com

Apa yang minasan pikirkan jika membaca “Orange”?

Apakah buah jeruk? Atau warna oranye? Atau terbayang akan ending song anime “You’re Lie in April” yang dinyanyikan oleh Supercell?

Tentu saja bukan itu yang saya maksud. “Orange” yang saya bahas kali ini adalah sebuah film live-action dari manga berjudul serupa yang mengisahkan tentang seorang gadis yang mengirim surat untuk dirinya sepuluh tahun yang lalu dengan tujuan menghapus segala penyesalannya. Pada pembukaan cerita ditampilkan seorang siswi SMA kelas dua di kota Matsumoto, Prefektur Nagano bernama Naho Takamiya menerima surat misterius dari dirinya yang dewasa selama musim semi. Dalam surat tersebut berisi segala peristiwa dengan waktu yang sangat rinci dan ia diminta untuk mengikuti apa yang isi surat itu perintahkan agar tak menimbulkan penyesalan, awalnya ia mengira surat itu hanyalah keisengan seseorang belaka tetapi lambat laun ia menyadari bahwa isi surat itu benar-benar nyata dan merupakan tulisan tangannya sendiri. Tujuan dari dirinya -sepuluh tahun ke depan- ialah menyelamatkan seorang murid pindahan dari Tokyo, Kakeru Naruse di mana pemuda ini akan bunuh diri karena mengalami luka emosional akan kematian ibunya. Selain dirinya, teman-teman Naho yang lain juga membantunya menyelamatkan hidup Kakeru, termasuk Hiroto Suwa yang juga mendapatkan surat dari dirinya di masa depan. Bedanya, Hiroto tidak memberitahukan semua isi suratnya pada teman-temannya, karena meskipun di masa depan ia menikah dengan Naho dan memiliki buah hati, sejatinya ia tahu Naho dan Kakeru saling mencintai sehingga ia menyembunyikannya demi kemulusan jalannya “kehidupan paralel” yang sedang ditapakinya ini.

Ngomong-ngomong tentang “dunia paralel” sejak tadi, sebenarnya itu apa sih? Seandainya waktu berjalan dan pada suatu titik waktu terjadi sesuatu. Di titik itu dimensi baru akan terbentuk. Dunia sebelumnya akan menyimpang dan akan muncul dunia baru. Inilah yang kita sebut “dunia paralel” sama seperti yang dijelaskan seorang guru kimia di kelas Naho ketika menceritakan tentang penjelajahan waktu. Sayangnya setelah mendengar penjelasan ini, Naho sedikit berputus asa, ia seakan menyakini jika semua usaha yang ia lakukan selama ini untuk menyelamatkan Kakeru akan sia-sia saja. Di sinilah titik greget saat saya menonton film ini.

Eits, tentu saja ceritanya tidak sampai di situ minasan. Karena tekadnya untuk menyelamatkan Kakeru sudah bulat, Naho dan teman-temannya berusaha sekuat tenaga menyelamatkannya dari penderitaan itu. Karena Kakeru teman mereka, kesakitan yang dialami pemuda itu karena kehilangan seorang ibu yang amatlah berat tersebut tak perlu ditanggung sendiri, apabila tidak sanggup maka Kakeru boleh berbagi dengan rekannya, tutur Suwa penuh percaya diri waktu itu. Di ending cerita, diperlihatkan di tahun 2025 di mana Naho dan kawan-kawannya  sedang mengamati sunset di sebuah bukit tanpa Kakeru, sementara di waktu yang sama -kejadian di dunia paralel tahun 2015- mereka berbahagia bersama Kakeru yang berhasil mereka selamatkan.

Sewaktu membahas masa manakah yang lebih baik dipilih, Kakeru mengungkapkan opininya apabila ia lebih memilih masa lalu untuk menghapus segala penyesalannya. Kalau minasan sendiri, masa manakah yang lebih baik? Masa lalu atau masa depan? Ehm, yang masih membingungkan ialah misteri bagaimana “dunia paralel” itu bisa terjadi bukan? Ingin mencobanya seperti Naho, minasan?^^

Kini selain di film live-action, “Orange” juga dibuat menjadi serial anime mulai musim panas 2016 lho. Minasan bisa merasakan sendiri gregetnya perjuangan Naho dalam “dunia paralel” yang masih belum dibuktikan kebenarannya itu, hoho. By the way, film yang sarat akan persahabatan ini tentunya akan lebih asyik ditonton bersama sahabat kita.^^

Semoga bermanfaat! :D

“Boruto: Naruto The Movie”, Kisah Ayah-Anak yang Mengharukan

Cr: id.naruto.wikia

Minasan yang penggemar berat Naruto pasti sudah pernah menonton film ini kan? Bagaimanakah kesannya? Yap, tentu saja mengharukan!^^

Movie yang disebut sebagai puncak dari “Naruto The Movie: The Last” beberapa waktu lalu itu mengisahkan intrik antara Sang Hokage Ketujuh atau Nanadaime dan putra sulungnya Boruto Uzumaki. Masalah diawali ketika Boruto kesal dengan ayahnya yang selalu sibuk dan hanya bisa meluangkan waktunya dengan mengirim kagebunshin -bayangan- ketika ulang tahun adiknya, Himawari. Tentu saja Boruto sangat marah dan mengata-ngatai ayahnya karena hal tersebut, hingga tanpa sadar amarah di dalam dirinya menggiringnya untuk memanfaatkan kecanggihan teknologi di Ujian Chunin mendatang, dengan alasan ingin menunjukkan pada Naruto apabila dirinya adalah seorang anak yang hebat. Begitu ujian diadakan, Boruto bisa menggunakan jutsu -jurus- yang hebat untuk mengalahkan lawannya, orang-orang menganggapnya wajar karena ia merupakan putra Hokage.

Namun, sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga bau busuknya. Ketika pertandingan penentuan final, Naruto merasakan ada kejanggalan ketika Boruto melawan Shikadai, akhirnya Naruto turun ke arena pertandingan dan menanyakan alat apa yang dipakai di tangan kanan Boruto. Sang putra panik luar biasa dan dengan wajah datar Naruto melepaskan ikat kepala putranya dan menceramahinya apabila ia tidak boleh menggunakan kecurangan untuk mendapatkan kemenangan karena merupakan sebuah larangan dan akan merusak tujuan ujian yang sebenarnya. Boruto yang tak bisa menahan perasaan malu dan marahnya karena dipermalukan seisi desa oleh ayahnya sendiri pun menyalahkan Naruto karena selalu sibuk dan tak pernah mengurus keluarganya.

Oke, sampai di sini sudah rumit banget kan ceritanya minasan? Eits, belum selesai lho. Di tengah ujian, datanglah dua orang musuh yang menyerang penduduk desa. Sebagai Hokage, tentu saja Naruto sekuat tenaga melindungi warganya dari serangan musuh, dan dari situlah Boruto takjub dengan kekuatan ayahnya dan Kurama -kyuubi jinchuriki Naruto- yang membuatnya keheranan. Kisah berlanjut, ketika Boruto tersadar dari pingsannya, Naruto sudah diculik musuh untuk diambil kekuatan chakra-nya. Ia juga menyadari ibunya, Hinata terluka karena mencoba menyusul Naruto dan adiknya pun menangis karena keadaan tersebut. Bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Boruto ketika Sasuke -paman sekaligus gurunya- mengatakan jika ini adalah salahnya. Namun ia tak berkecil hati, Boruto pun pergi menyelamatkan ayahnya bersama Sasuke dan empat Kage lainnya. Untuk ending cerita pastilah minasan bisa menebaknya. Dengan segala kekuatan yang mereka miliki, akhirnya musuh tersebut bisa dikalahkan dan hubungan Naruto-Boruto pun membaik.

Tidak sampai di situ saja, Boruto yang awalnya berguru pada Sasuke dengan tujuan mengetahui segala kelemahan Naruto pun berubah pikiran setelah melihat tekad kuat ayahnya melindungi semua orang dengan kekuatan yang dimilikinya sekarang bersama Kurama. Ia mulai mengerti arti penting bagi seorang shinobi -ninja- yaitu kerja sama dan ketekunan yang tidak bisa didapatkan dengan cara instan seperti memakai alat ninja yang membuatnya didiskualifikasi dalam pertandingan. Boruto pun meminta pada Naruto untuk menceritakan tentang kisah masa lalunya demi mengerti perasaan cinta dan kasih ayahnya yang tak pernah kenal syarat karena meski sibuk luar biasa, Naruto selalu memantau perkembangan buah hatinya itu meski dalam wujud bayangan.

“Dengar, dia itu penuh dengan kelemahan dan tidak bisa apa-apa. Namun dia terus berjuang dengan kekuatannya sendiri dan menjadi seorang Hokage. Kau tak perlu memahami Naruto yang saat ini, yang harus kau ketahui adalah bagaimana Naruto bisa seperti sekarang,” ungkap Sasuke ketika memberikan nasehat kepada Boruto mengenai Sang Nanadaime.

Nah, bagaimana minasan? Kental sekali kan mellow-drama antara Naruto dan Boruto? Selain sarat akan pesan moral yang bersumber dari kisah dari sang penulis Masashi Kishimoto dan anaknya, film ini juga ringan dan tidak terlalu terbelit-belit ceritanya seperti movie yang lalu sehingga cocok serta aman untuk ditonton anak-anak tanpa pengawasan penuh dari orang tua.

Semoga bermanfaat! :D

Jepang Bersemangat “Sambut Hangat” Turis Muslim dengan Label Halal

Cr: Jurnal Otaku

Sejak 1 Juni lalu, Japan Airlines mulai menyajikan menu halal untuk penerbangan Indonesia dan Malaysia. Tentu hal ini Jepang sikapi sebagai penyambutan dan menarik wisatawan muslim lebih banyak lagi selain mendirikan restoran halal atau memberikan pelayanan halal di hotel tertentu. Terdengar sangat peduli dan ramah kan, minasan?^^

Kabar gembira ini merupakan strategi Jepang dalam menghadapi lonjakan turis yang beragama Islam agar usaha mereka berjalan lancar. Beberapa lokasi dan tempat pun terlihat sudah mulai ditempeli label “halal”, tetapi tidak sembarangan. Jepang memang sedang menggalakkan promosi produk‐produk halal di dalam negeri mereka. Jepang bahkan menggalakkan prosedur pengambilan sertifikasi halal supaya tidak sembarang restoran dapat menggunakan label tersebut untuk menarik konsumen. Proses sertifikasi sendiri dilakukan oleh Nippon Asia Halal Association atau yang dikenal dengan NAHA sesuai standar halal seperti ISO, HACCP atau GMP yang bisa kita cari sendiri di internet.

Kembali ke pelayanan tersebut, maskapai yang baru-baru ini mendapatkan sertifikasi halal dari Japan Islamic Trust mengatakan mereka juga mengganti semua perlengkapan makan untuk sajian muslim supaya hanya bisa dipakai satu kali saja, supaya para penikmatnya merasa lebih aman saat mereka menggunakannya.

Ehm, tidak hanya menggalakkannya lewat udara, sekarang restoran berlabel halal di Jepang sendiri juga semakin banyak lho, tentu setelah melewati proses sertifikasi yang ketat pula. Saya akan memaparkan beberapa restoran halal yang terletak di bagian Tokyo.

1.Narita-ya, Asakusa
Cr: www.havehalalwilltravel.com

Restoran ini cukup mudah ditemukan karena berada dekat sekali dengan Kuil Senso-ji Asakusa dan berada di daerah pertokoan selain karena memiliki ciri khas tulisan “halal” di depannya. Menyediakan berbagai macam menu mulai dari ramen yang menjadi andalan hingga don (nasi mangkuk). Disediakan juga mushola untuk pengunjung yang melaksanakan salat di mana sarana seperti ini sulit ditemui di Jepang. Mengingat dominasi pengunjung adalah orang Indonesia dan Malaysia, kita akan dibuat berada di negeri sendiri ketika makan di Narita-ya.
2. Luna Hala
Cr: halalmedia.jp

Terletak di dalam hotel bisnis di Tsukiji dan hanya tiga menit berjalan kaki dari stasiun Tsujiki. Ini akan menjadi kesempatan besar untuk memiliki makanan halal di  restoran dan menginap di hotel pada waktu yang sama. Tidak semua makanan pada menu sarapan dan makan malam adalah menu halal, tapi semua makanan pada jam makan siang dipastikan halal. Meskipun alkohol disajikan selama makan malam, tidak apa­-apa dan tidak perlu khawatir karena peralatan makan dipisahkan untuk yang halal dan non­halal.
3. Saishoku Teppan Ippin
Cr: Yelp.com

Hanya sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun Ebisu dan sering dikunjungi oleh orang-­orang yang mencari makanan halal otentik. Beberapa item pada menu termasuk ayam karaage, nasi bambu, daging sapi wagyu ,dan banyak lagi. Sayuran yang disajikan adalah organik dan makanan telah disertifikasi oleh Nippon Asia Halal Association.

Namun jika minasan tidak sempat datang ke restoran, sudah ada juga lho bentou halal jika sedang sibuk bekerja dan memerlukan makanan cepat saji. Bentou halal tersebut disediakan oleh toko bentou Zenmai cabang Minamitsuro di Tokyo Station. Dalam menunya, disediakan 2 macam bentou halal dengan 2 macam daging yang berbeda. Kebab bentou yang menggunakan daging kambing dijual dengan harga 980 Yen (sekitar 110.000 Rupiah) dan bentou kalkun yang dijual sedikit mahal di harga 1.100 Yen (sekitar 140.000 Rupiah). Toko ini sebenarnya sudah buka sejak jam 6 pagi, tetapi sayang mereka baru mulai menjual bentou halal pada pukul 10 pagi. Bagaimana minasan, daijoubu desuka?^^

Maa~ Yang penting karena sekarang Jepang semakin “bersahabat” dengan kebutuhan muslim, minasan tidak perlu cemas lagi mencari makanan halal selama berada di negeri sakura tersebut. In sya Allah, mudah dan barakah!^^

Semoga bermanfaat! :D

Sumber:
Anibee
Jurnal Otaku Indonesia

Thursday, August 4, 2016

Film Jepang Bertema Pendidikan Moral? “Botchan” Jawabannya

Cr: Asianwiki

Minasan pasti pernah dengar kata “Botchan” kan?

Yap, Botchan (坊ちゃん) yang artinya “Tuan Muda” adalah novel karya penulis terkenal Soseki Natsume yang ditulis pada tahun 1906, kini diadaptasikan menjadi sebuah film pada Januari 2016 lalu dan dibintangi oleh Kazunari Ninomiya dari Arashi.

Frankly speaking, meskipun film Botchan “sedikit” berbeda dengan yang diceritakan di novel, tetapi pesan moral yang hendak disampaikan sama sekali tidak berkurang dan justru menyajikan hal-hal aneh yang cukup menghibur serta lebih ringkas daripada novel yang cenderung berisi narasi bergaya humor. Kebetulan, sebelum menonton film ini saya membaca terlebih dulu novel Botchan untuk dijadikan resensi buku. Nah, sekarang akan saya paparkan sedikit plot ceritanya.

Sejak kanak-kanak, Botchan tidak pernah lepas dari “masalah”. Orang tuanya menganggapnya anak berandalan tanpa masa depan. Tidak ada yang menyukai maupun memahami tingkah lakunya, kecuali wanita tua yang menjadi pelayan keluarga mereka bernama Kiyo. Berbekal warisan yang sedikit, Botchan berhasil lulus dari Sekolah Fisika. Seperti biasa, tanpa berpikir panjang dan spontan, dia memutuskan untuk menerima tawaran dari kepala sekolahnya untuk menjadi guru di sebuah SMU di Matsuyama, Pulau Shikoku, Prefektur Ehime yang membutuhkan guru matematika dengan gaji 40 yen per bulannya. Ternyata, menjadi guru yang jujur di daerah pelosok tidak semudah yang dibayangkan. Menurut Botchan, daerah kampung yang sempit seperti itu sangat memuakkan, seluruh gerak-geriknya terus dimata-matai oleh murid maupun rekan di tempatnya bekerja hingga ia mendapatkan banyak pengalaman tidak menyenangkan, misalnya saat ia mengunjungi sebuah restoran untuk makan soba tempura sampai empat porsi, di kemudian hari ia langsung dijuluki “Profesor Tempura” oleh para anak didiknya melalui cemooohan yang tertulis jelas di papan tulis. Tidak heran pula ia menjuluki kepala sekolah SMU tersebut Si Rakun, guru matematika Si Landak, guru Bahasa Inggris si Matang Karbidan, Guru Kepala si  Kemeja Merah, pengikut Guru Kepala si Penjilat Kampungan, dan lain-lain karena sikap aneh mereka. Klimaksnya ia terlibat “peperangan” dengan dua orang yang selalu menusuknya dari belakang sejak datang ke SMU tersebut, tapi dengan segala usaha dan sifat jujur serta tidak sabarannya yang ia miliki sejak kecil, ia mampu mengungkap kejahatan orang tersebut juga menghajarnya hingga merasa jera lalu kembali ke Tokyo dan berhasil hidup normal tanpa masalah dengan menjadi teknisi Perusahaan Kereta Api Luar Tokyo berkat kenalannya dan tinggal bersama Kiyo meski hanya sebentar saja karena pelayannya meninggal akibat pneumonia. Uniknya, sampai cerita berakhir, tokoh Botchan yang mengaku-aku sebagai anak Edo dan memiliki garis keturunan samurai tingkat Tadanomanju tersebut tidak pernah diungkapkan nama aslinya melainkan hanya disebut sebagai si Anu atau guru baru dari Tokyo saja.

Sedangkan di dalam film, lebih banyak disinggung hal mengenai kejujuran dan kebencian akan kebohongan selain dari tokoh Botchan. Bahkan Botchan sendiri mengakui pendidikan tanpa edukasi moral itu tidak berguna. Insiden belalang ketika ia mendapatkan piket menjaga asrama juga sangat menarik perhatian saya. Botchan marah besar pada anak-anak didiknya dan menceramahinya hingga pagi.

“Ketika kau membuat onar, jangan klaim orang lain yang melakukannya, kalian boleh membiarkan orang lain yang menjalani hukumannya. Buat onar dan hukuman adalah hal yang sejalan. Kita bisa menikmati lelucon karena tertarik akan hukumannya! Orang yang membuat lelucon dan pergi tanpa kena hukuman adalah pengecut! Tingkah kalian seperti meminjam uang tapi tidak bisa mengembalikannya. Sama saja!” ungkap Botchan kesal saat menasehati muridnya.

Nah, bagaimana minasan? Sudah panjang lebar kan sinopsisnya? Saya nggak mau spoiler lebih jauh lagi deh, biar nanti minasan bisa merasakan sendiri gregetnya menyaksikan sosok Botchan yang polos nan gamblang, lurus seperti anak panah sama dengan yang dikatakan Kiyo. Untuk Arashian –penggemar Arashi- pasti lekas ingin menonton film si lucu Nino ini kan?^^

Semoga bermanfaat! :D

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More