Thursday, January 28, 2016

Membudayakan Membaca Buku di Indonesia? Pasti Bisa Kok!

getscoop.com
Apa yang berputar di pikiran minasan jika mendengar kata “buku”?

Apakah menyenangkan? Membosankan? Kuno? Atau memuakkan?

Mungkin bagi sebagian masyarakat Indonesia, kebiasaan membaca buku belum begitu mendarahdaging. Mengingat masa kecil saya diisi dengan berbagai tayangan menarik di televisi dan sekarang pun rasanya makin parah karena anak-anak kecil dijejali oleh sinetron yang mengandung unsur kurang pas untuk penunjang pertumbuhan para penerus bangsa kita. Selain itu, image buku pun lekat dengan kutu buku atau orang yang saking seringnya membaca buku sampai memiliki kacamata tebal yang bertengger di hidungnya serta mendapat predikat cupu di kalangan teman sebayanya.

Lalu kalau begini bagaimana nasib masa depan Indonesia? Apakah dapat dibangun generasi yang berkualitas dan paham masalah serta melek solusi jika setiap hari yang masuk ke otaknya hanya itu-itu saja?

Uhm, untuk itu Indonesia perlu menilik apa saja rahasia negara maju dalam meningkatkan ilmu pengetahuan masyarakatnya. Contohnya saja Jepang melalui budaya membacanya.

Di Negeri Sakura tersebut, jika kebanyakan orang masa kini selalu sibuk dengan ponsel pintarnya saat berada di transportasi umum, maka kita akan disuguhi pemandangan yang berbeda saat berada di Jepang. Hampir kebanyakan orang di sana selalu membaca buku atau komik saat bepergian untuk mengusir rasa bosan. Jika ada yang berkutat dengan smartphonenya pun mungkin membaca buku lewat gadgetnya. Berbeda dengan di Indonesia yang tatkala bosan lebih suka mengobrol dengan temannya atau sibuk ketak-ketik chat di sosmednya yang bejibun itu.

Ada pula “Tachiyomi”, salah satu kegiatan membaca gratisan yang dilakukan sambil berdiri di toko buku (tachi: berdiri, yomi: membaca). Di Jepang, banyak toko buku yang menyediakan buku-buku yang plastik pembungkusnya sudah terbuka, sehingga dapat dimanfaatkan oleh banyak orang untuk melakukan kegiatan tachiyomi ini. Penjual toko buku ini pun banyak yang membiarkan begitu saja kegiatan tachiyomi ini. Ia tidak takut merasa rugi akibat banyaknya pembaca yang berniat membaca gratisan tersebut. Ia malah berprinsip, semakin ramai tachiyomi yang ada di tokonya maka semakin banyak kemungkinan orang tersebut membeli buku pada keesokan harinya atau hari lainnya. Bisa dilihat perbedaannya dengan di Indonesia yang menjaga buku bersegel dengan pengawasan CCTV dan penjaga toko sehingga minat untuk menyentuh buku tiba-tiba kabur karena adanya objek tersebut. Sama seperti saya yang kabur begitu saja setelah menemukan buku bersampul menarik tetapi dibandrol dengan harga mencekik, hihi.^^

Menurut Yoshiko Shimbun, sebuah harian nasional Jepang terbitan Tokyo, kebiasaan membaca di Jepang diawali dari sekolah. Para guru mewajibkan siswa-siswanya untuk membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Kebijakan ini telah berlangsung selama 30 tahun. Para ahli pendidikan Jepang mengakui bahwa pola kebiasaan yang diterapkan ini terlalu bersifat behavioristik, di mana terdapat reward (penghargaan) dan punishment (hukuman) dalam pelaksanaan aturan tersebut. Namun pembiasaan yang dilakukan dari tingkat sekolah dasar dinilai cukup efektif  karena dilakukan pada anak-anak sejak usia dini. Menurut data dari Bunkanews, jumlah toko buku di Jepang adalah sama dengan jumlah toko buku di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah dua puluh enam kali lebih luas dan berpenduduk dua kali lebih banyak daripada Jepang. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Sepertinya masih misteri, hohoho.^^

Uniknya lagi, terdapat acara Toko Buku Sekiguchi di televisi Jepang. Acara ini sangat membantu bagi penggemar buku yang sibuk dan tak sempat berlama-lama di toko buku. Penonton bisa melihat referensi yang divisualisasikan dalam layar televisi dan memesan lewat internet atau telepon jika tertarik untuk membeli. Mirip sebuah “televisi shopping”, tetapi yang dipromosikan adalah buku.

Kabar terbaru dilansir dari koran HaloJepang! yang biasa saya dapatkan dari perpustakaan jurusan Bahasa dan Sastra Asing di Unnes, belum lama ini di Tokyo hadir hostel dengan konsep book and bed. Di hostel ini, pengunjung bisa bermalam dengan melahap beragam buku sebelum akhirnya terlelap dalam suatu kompartemen kecil, mirip hotel kapsul yang dikelilingi rak-rak buku. Kompartemen untuk tidurnya sendiri memang tidak isyimewa atau super nyaman. Kamar mandinya harus digunakan bergantian. Memang bukan kenyamanan yang menjadi “jualan utama” hotel ini, melainkan kesempatan membaca sepuasnya hingga terlelap. Di sana sekitar 1.700 buku tersedia dalam bahasa Inggris dan Jepang. Adapun fasilitas WiFi untuk memenuhi keinginan mereka yang lebih suka membaca melalui gadget dan bukan dari buku tradisional.

Artinya, bahkan negara dengan minat dan kebiasaan membaca tertanam kuat seperti Jepang juga masih perlu untuk terus menerus tampil inovatif agar gaya hidup positif ini tidak memudar.

Dengan demikian, mengharapkan serta menjadikan buku sebagai bagian dari keseharian warga Indonesia adalah proses yang juga mesti ditunjang pemikiran kreatif dan inovatif semua pemangku kepentingan. Karena jika tidak segera diterapkan, Indonesia akan mengalami guncangan besar akibat generasi bangsanya lebih suka bermalas-malasan dengan tayangan tak berbobot yang rusak dan merusak tersebut.

Menurut saya pribadi yang suka membaca buku, boleh saja menikmati tayang televisi tetapi harus diporsi dengan baik karena tugas sekolah maupun kuliah tertuang dalam bentuk cetak yang harus dibaca dan dipahami perlahan yang tidak semudah memahami alur cerita di televisi. Budaya membaca diawali dengan materi yang ringan dan menyenangkan seperti komik atau buku cerita anak. Nah, berhubung saya menyukai novel fantasi seperti Harry Potter, karena saya menyukainya maka membaca sekitar 200 halaman per haripun tidak menjadi masalah jika kita tak menganggapnya sebagai hal yang berat. Barulah konten buku ditingkatkan sedikit demi sedikit, sewaktu itu saya memilih novel “Pasangan Detektif” oleh Agatha Christie yang rampung dalam dua atau tiga hari di sela-sela perjalanan pergi maupun pulang ke rumah ketika masih menginjak bangku SMA. Saat kuliah saya lebih sering membaca koran dengan konten politik yang tentu lebih berat diselingi rubrik budaya dan sastra untuk merefresh pikiran. semua itu demi mendapatkan pelbagai pengetahuan yang beragam. Selain itu media di dunia maya seperti blog dan wattpad pun mendapatkan perhatian yang tak kalah ramai dari khalayak umum sehingga membaca dan membuat cerita menjadi kegiatan yang menyenangkan sekaligus untuk membuat pertemanan dengan berbagai orang di dunia yang sama bahkan bisa dijadikan sarana bertukar pikiran dengan penulis favorit kita di sana. Mudah bukan?^^

Bagaimana? Apakah minasan juga setuju?

Semoga bermanfaat. :D

Sumber:
Koran HaloJepang! Edisi Desember 2015/III

0 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More