Wednesday, October 21, 2015

Disiplin Waktu Seperti Orang Jepang? Tentu Saja Bisa!

sumber: google.com

Ciri-ciri waktu antara lain tidak bisa disewa, dipinjam, atau dibeli. Waktu juga tidak bisa berubah, tidak bisa dikumpulkan, jua tidak ada penggantinya. Orang sering mengatakan bahwa waktu itu terus membabat habis kesempatan di dalam hidup kita tanpa tersisa. Tahu-tahu kita terkena dampak besar ketika sudah berlalu dengan cepatnya. Apakah itu yang kita inginkan di dalam hidup kita yang amat singkat seperti ‘numpang minum’ ini?

Tentu saja tidak, kita harus disiplin mengenai manajemen waktu lho. Tapi sebelum dapat mengaturnya dengan baik, kita juga harus tahu siapa sajakah ‘perampok waktu’ itu.
1.Penundaan
2.Telepon
3.Televisi
4.Tamu tidak diundang
5.Pertemuan
6.Kurangnya pengelolaan rencana harian
7.Melakukan sesuatu secara emosional
8.Tidak bisa mengatakan tidak
9.Kebiasaan hidup yang tidak baik

Nah, bagaimana teman-teman? Sudah bisakah kita menghitung waktu yang telah terbuang percuma di hidup ini tanpa bisa memanfaatkannya? Duh, awalnya hanya bisa elus dada nih, hihi.
Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan segala kegiatan kita dengan ‘diberi porsi’ yang tepat. Tentu yang saya angkat di sini adalah mengenai kedisiplinan orang Jepang yang sangat menghargai waktu. Contoh sederhananya terlihat jelas pada ketepatan waktu kereta Jepang berangkat. Meskipun belum saya buktikan secara langsung dengan pergi ke Jepang, namun melalui video Japan's Trains- Always on Time! 時刻表通(じこくひょうどお)りに来(く)る日本(にほん)の電車(でんしゃ) (jikokuhyoudoori ni kuru nihon no densha) 1OMOTENASHI, sang pengamat bernama Steve memaparkan bahwa Tokyo yang notabene kota metropolitan yang sibuk namun kereta dan bus di kota itu selalu datang tepat waktu sesuai jadwal keberangkatan. Bahkan shinkansen atau kereta peluru yang terkenal paling cepat di Jepang pun datang tepat dalam 0,1 menit atau 6 detik dari waktu yang telah dijadwalkan. Selain cepat, keamanannya pun juga terjamin. Karena pengaruh dari budaya pula, mereka dengan setia mengantri dengan rapi di belakang garis kuning –batas keamanan- sampai kereta datang di depan mereka. Tetapi ia menyayangkan bahwa di Amerika banyak transportasi yang pengoperasiannya tidak tepat waktu. Dan di Indonesia pun sama, bahkan bus terkesan ugal-ugalan saat menjelang pagi dan tengah malam karena mengejar waktu bukannya tepat waktu.  Memiliki sistem yang sangat hebat seperti ini adalah contoh dari omotenashi atau jantung keramah-tamahan Jepang. Menakjubkan bukan? Selain itu, orang Jepang juga terbiasa membawa techou atau buku catatan kecil ke manapun mereka pergi karena sangat penting untuk mencatat jadwal pertemuan atau aktivitas pribadi agar tidak lupa maupun terlambat datang ke kegiatan tersebut. Sangat efisien karena kita bisa mengatur dan mengoptimalkan dengan baik waktu kita dan tidak menyia-nyiakannya dengan kegiatan yang kurang bermanfaat.

Sebagai muslim pun kita juga punya ‘rambu-rambu’ dalam mengelola waktu kita dalam melakukan sebuah hal atau kegiatan. Dalam rangka memprioritaskan waktu sebagai amalan kita juga lho. Ini dia:
1.Jika wajib, harus dilaksanakan
2.Jika sunah, diupayakan
3.Jika mubah, lakukan yang paling bermanfaat
4.Jika makruh, lebih baik dihindari
5.Jika haram, tentu saja ditinggalkan

Sudah jelas kan teman-teman? Orang Jepang yang mayoritas bukan beragama Islam saja sudah bisa mengatur waktunya dengan baik apalagi kita yang alhamdulillah sudah Islam sejak lahir?^^

Saya harap ke depannya Indonesia mampu mencontoh budaya serta teknologi dari manapun yang baik untuk diterapkan di negeri tercinta ini. Tidak hanya itu, tapi juga dibungkus dengan karkater Islam yang baik demi kehidupan di akhirat kita kelak. Eits, pertanggung jawaban waktu yang kita habiskan di dunia juga bakal ditanyain lho nanti, hihi.

Yosh! Minna ganbatte kudasai! :D

* jikokuhyoudoori ni kuru nihon no densha: jadwal kedatangan kereta di Jepang

2 comments:

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More