Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Thursday, April 24, 2014

Dunia yang Semakin Maya

Masihkah Anda ingat friendster? Masyarakat generasi angkatan 2009 dan angkatan beberapa tahun sebelumnya kemungkinan mengetahui dan ingat bagaimana layanan media sosial ini mnciptakan candu internet. Ya, media sosial yang muncul pada 2002 ini merupakan salah satu media sosial internet generasi pertama saat merebaknya internet di Indonesia.

Friendster berasal dari kata Friend dan Napster. Friendster merupakan pembaharuan dari Napster yang lahir terlebih dahulu sebelum Friendster. Dengan kelemahan yang ada pada Napster yang mempunyai tampilan sederhana, Friendster menawarkan pengguna dengan akun Friendster yang dapat menampilkan profil pribadi secara lebih detail.


Friendster karya pemuda asal California, AS Jonathan Abrams ini merupakan media sosial semacam Facebook-tapi mempunyai fitur yang masih terbatas. Pengguna friendster dapat menambah teman dengan istilah add friends . Jika pada Facebook ada status, di Friendster ada testimoni. Yang membedakan Friendster dari Facebook antara lain pengguna bisa tahu siapa saja yang kepo berkunjung ke laman Friendster mereka. Selain itu, tampilan Friendster dapat diubah-ubah sesuai kehendak kita dengan template dan gambar-gambar menarik seperti pada blog.


Tidak hanya itu, media sosial berupa chating juga cukup banyak digandrungi pada masa itu salah satunya MIRC. Timbal balik yang cepat dan obrolan yang renyah menjadi salah satu daya pikat situs ini. Penggunaan nama juga bisa diubah sesuai dengan keinginan. Penggunaan nama cukup aneh-aneh, seperti Pejantan Tangguh jika cowok, Cinderella jika cewek. Pengguna lebih bebas memilih nama karena tidak ada profil yang lengkap dan jelas, bahkan foto juga tidak ada. Hanya nama pengguna dan barisan kata-kata chating.


Sekarang, media sosial generasi baru menjamur. Barangkali Blackberry, Line, WhatApp, Kakao Talk merupakan generasi selanjutya dari MIRC. Facebook milik Mark Zulkenberd dengan segala inovasinya mengakuisi Instagram .Tidak hanya itu, media sosial Line, kabarnya juga akan dibelinya juga. Setelah itu muncul tempat manusia berkicau, Twitter. Seperti namanya "kicauan", tulisan yang diunggah lebih terbatas dari pada Facebook hanya 140 karakter.

Pergulatan Waktu Dunia Nyata dan Maya


Ada tujuan baik dari diciptakannya media sosial. Setidaknya mendekatkan yang jauh. Seperti dalam Facebook Story, seorang perempuan berhasil mempertemukan dua saudara yang telah berpisah selama puluhan tahun. Cerita berawal dari seorang kakek yang kehilangan alamat dari saudaranya hingga terlantar di jalanan sampai puluhan tahun.

Akhirnya,melalui Facebook seorang perempuan membagi kiriman tentang profil sederhana berikut foto dari kakek tersebut. Facebook pun mempertemukan dua saudara tadi. Tidak hanya gerakan solidaritas yang bisa dilakukan melaui Facebook. Namun, gerakan politik juga bisa dilakukan seperti halnya kenaikan pamor Barack Obama di mata anak muda berkat media sosial.


Namun, sisi buruk media sosial juga tidak kalah santer. Hanya untuk menunggu tanda suka (like-red) dan atau tanggapan (comments-red) dari teman di Facebook, seorang pengguna rela menunggu bermenit-menit bahkan berjam-jam. Lupa makan, lupa minum, bahkan ketika hujan lupa mengangkat jemuran! Hehe....

Belum lagi jika tanggapan pada status di dinding (wall-red) semakin hangat, maka Facebook semakin memikat. Semakin memakan waktu hanya untuk duduk atau berbaring sambil berinteraksi melalui gadget. Bahkan, hanya untuk memilih foto profil, dalam satu kali membuka media sosial, bisa membutuhkan waktu berjam-jam.

Facebook dan media sosial serupa, memberikan ruang untuk bebas berpendapat, bebas berekspresi. Kita bebas berteman dengan siapa saja, dari presiden sampai pedagang somai. Manusia memang butuh aktualisasi diri, cenderung untuk dianggap ada. Melalui media sosial, orang-orang akan merasakan hal itu. Namun, terkadang orang-orang lupa untuk berbuat pada dunia nyata. Sibuk membuat topeng di dunia maya. Memoles profil agar nampak menarik, namun lupa bagaimana keintiman mengobrol sederhana yang asyik.


Kebanyakan manusia hidup pada dunia maya. Hidup dengan tanda suka dan komentar-komentar. Sikap sebatas retweet kata-kata bijak, senyuman indah hanya nampak pada foto dalam profil. Lupa indahnya keintiman berbincang dengan orang lain.
Keintiman berbincang, ketika melihat bagaimana raut muka orang yang diajak bicara, alis yang naik ketika ia marah, mata yang berbinar ketika bahagia, senyuman tulus ketika berterima kasih. Melihat fenomena ini, sisi buruk media sosial perlu disikapi dengan bijak. Dunia menunggu aksi nyata. Tak sekedar pencitraan yang maya. Tulisan ini merupakan gambaran diri,daripada ngomongin orang lain lebih enak ngomongin diri sendiri kan? hehe

Semarang, Februari 2014
Sumber foto Dok. pribadi dan internet (Mice Cartoon)

Thursday, November 21, 2013

Bagaimana Kabar yang Terlepas?

Bagaimana kabar yang terlepas?

Akankah hujan menyatukan kita untuk bermain di kala hujan tanpa cemas?

Toki o kakettehoshii!

(Kota Atlas,101112)

Sumber foto Internet

Saturday, November 16, 2013

Ujian (Kejujuran) Nasional


Dokumentasi Pribadi

Kejujuran tak selalu mendapat reaksi positif, malah sebaliknya kejujuran mendapatkan cemoohan. Contoh nyata seperti Ibu Siami dan Alif (2011), anaknya sempat menjadi musuh bersama bagi masyarakat di sekitar mereka karena melakukan praktek kejujuran dalam Ujian Nasional (UN) tahun lalu. Begitu juga seseorang guru honorer yang dengan jujur membuka praktek politisasi pendidikan, malah tersingkirkan dari masyarakat.

Masyarakat menyadari, bahwa kejujuran adalah sebuah nilai luhur. Namun, yang mengherankan dalam kasus ini kejujuran menjadi musuh bersama. Apa yang dialami Ibu Siami beserta Alif, anaknya dan guru honorer ini merupakan peristiwa gunung es, masih banyak kasus serupa yang tidak terkawal oleh media.

Saya kira, Ibu Siami dan Alif serta guru honorer tadi adalah orang-orang yang out of the box, orang-orang yang mau keluar dari sistem. Ya, sebuah sistem keyakinan yang menurut hati nurani mereka keliru. Agus Nuryanto dalam bukunya Mahzab Pendidikan Kritis mengambil penyataan Joe Kincheloe, 2005 mahzab pendidikan kritis berbasis pada keadilan dan kesetaraan. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya berkutat pada pertanyaan seputar sekolah, kurikulum, dan kebijakan pendidikan, tapi juga tentang keadilan sosial dan kesetaraan. 

Agus juga menyatakan, di suatu sisi sekolah dilandaskan pada satu visi membangun masyarakat yang demokratis, namun terkadang pada prakteknya justru bertindak otoriter dan anti-demokrasi dengan tidak menumbuhkan ruang bagi tumbuhnya ruang subyek yang kritis, toleransi, dan multi-kulturalisme. Ibu Siami, Alif dan guru honorer tadi contoh nyata, bahwa sekolahnya tidak memiliki ruang bagi mereka yang kritis, malah sebaliknya semakin terpinggirkan.

Sekolah sebagai tempat menjalankan pendidikan, seharusnya mentrasformasikan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran. Tapi kenyataanya malah sebaliknya, sekolah menjadi praktek ketidakjujuran, dan itu seolah-olah terlegitimasi. Seperti kasus, Ibu Siami dan Alif, sekolah melegitimasi ketidakjujuran dengan memperbolehkan dan bahkan menganjurkan untuk saling mencontek ketika UN. Pemecatan guru honorer tadi juga tindakan yang demikian. Sekolah membiarkan praktek ketidakjujuran, dan membunuh karakter para pelaku kejujuran.

Sekolah kehilangan esensi pendidikan, gagal menanamkan budi pekerti. Nilai menjadi barang berharga, yang diagung-agungkan. Orang tua bisa jadi berbangga hati ketika nilai kognitif anak mereka di atas rata-rata, tapi tak tahu dari mana anak itu mendapatkannya. Ibu Siami, mencoba menanamkan budi pekerti kepada anaknya, dan itu berhasil. Sedangkan sekolah telah gagal melaksanakannya.
Ibu Siami barang kali tahu bahwa hubungan pribadi di lingkungan keluarga mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan sosial anak. Penelitian (Hazen dan Shaver, 1987; Fisher, 1990) menunjukan bahwa pendidikan anak yang digunakan oleh orang tua sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak, terutama pada tahun-tahun awal kehidupan.
Pengalaman pada masa kanak-kanak mempengaruhi perkembangan pada masa berikutnya. Begitulah yang diugkapkan Freud salah satu pakar psikologi. Hal ini juga diamini oleh Erik Ericson, percaya bahwa cara-cara seseorang menyelesaikan masalah perkembangan kehangatan, kepedulian dengan orang tua atau kemampuan berfikir dan bertindak secara otonomi merupakan faktor penting bagi perkembagan berikutnya.
Teori di atas membuktikan, orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan anak. Ibu Siami berhasil memberikan pemahaman budi pekerti kepada anaknya ditengah-tengah sikap sekolah dan masyarakat yang keluar dari nilai-nilai luhur.

Dalam hal ini dari tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial, yaitu keluarga, lingkungan, dan masyarakat, ternyata faktor lingkungan dan masyarakat memperburuk pendidikan nilai. Lingkungan sekolah seharusnya mempunyai kesadaran untuk memberikan pendidikan nilai tersebut, dan begitu juga masyarakat. Tapi pemahaman terhadap esensi pendidikan ini yang membuat kabur pentingnya pendidikan nilai.

Esensi pendidikan bukanlah mengagungkan ketercapaian nilai kognitif, tapi afeksi menjadi lebih urgen untuk ditanamkan pada siswa. Seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara, pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, dan tubuh anak. Jadi? Akankah kualitas pendidikan kita hanya diimplementasikan pada secarik kertas saja?

Sumber foto Dok. pribadi

Daftar Pustaka

Achmad Munib, dkk, 2006. Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: Unnes Press.
Nuryanto, Agus, 2008. Mahzab Pendidikan Kritis. Jogjakarta: Nailil Printika.
Rifai, Achmad dan Catharina Tri Anni. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press.
Seifert, Kelvin. 2010. Managemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan Managemen Mutu Psikologi Pendidikan Para Pendidik. Jogjakarta: IRCiSoD.
-------, 2005. Jurnal Telaah Volume 1 Bulan April, Pendidikan Pembebasan. Semarang: Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa.

Wednesday, November 13, 2013

Asyik Belajar Jurnalistik

Bulan Ramadhan tidak hanya diisi dengan acara buka dan tarawih bersama bagi kaum muslim. Namun, kegiatan positif lainnya juga bisa dilakukan meski dalam keadaaan menahan lapar dan haus saat berpuasa. Seperti halnya Mahasiswa Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BP2M) Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang melakukan kegiatan Pesantren Jurnalistik di sejumlah SLTP se-Kota Semarang, Selasa-Senin (16-22/7).

Menurut Ketua Panitia Uswatun Chasanah, kegiatan ini meliputi pelatihan jurnalistik gratis di sekolah dengan materi-materi kejurnalistikan seperti keredaksian, reportase, ilustrasi dan layouting. Manurut Uswatun, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan ilmu jurnalistik kepada siswa agar dapat menghidupkan dan atau mengembangkan kegiatan jurnalistik di sekolah. “Setelah mengikuti pesantren peserta diharapkan bisa membagikan ilmu kepada tman-teman yang lain dan bisa mengelola media sekolah secara mandiri,” jelas Uswatun, Kamis (18/7).

Bagi sekolah, pelatihan ini menambah ketrampilan siswa dan juga sebagai dasar untuk mengembangkan jurnalistik di sekolah. “Kami mempunyai majalah bernama Garasi, semoga dengan pelatihan jurnalistik bisa menciptakan siswa yang lebih terampil dalam membuat media sekolah,” ungkap kepala sekolah SMP N 27 Semarang Haryanto Dwiyantoro, Kamis (18/7).

Meskipun di bulan Ramadhan, peserta antusias mengikuti pelatihan jurnalistik ini. Peserta mengaku, mendapat pengalaman bisa lebih mendalami jurnalistik. “Saya jadi lebih mengetahui tentang jurnalistik,” ungkap Ardine Dharma A. Salah satu dari 31 peserta Pesantren Jurnalistik di SMP N 27 Semarang, Kamis (18/7).
Penasaran mengenai jurnalistik membuat Ardine mengutarakan pertanyaan lanjutan mengenai jurnalistik. “Apakah jika mau menjadi reporter, kalau kuliah harus jurusan jurnalistik?” tanya Ardhine kepada pemateri.

Mahasiswa BP2M yang menjadi Pemateri Keredaksian M.H. Latief mengungkapkan, seorang reporter tidak harus dari jurusan jurnalistik yang penting ia bisa menulis dan berani.
Tidak hanya di sekolah negeri, pesantren jurnalistik juga dilakukan di Sekolah Anak Bangsa, sebuah sekolah alternatif di Semarang. Peserta Jurnalistik di sekolah dengan metode homeschooling (sekolah rumah) yang diprakarsai Kak Seto ini tidak kalah menarik.

Peserta melakukan wawancara dengan teman-teman mereka, dan kemudian membuat gambar. Ketika ditanya oleh Pemateri mengenai siapa yang ingin menjadi fotografer, Tito siswa dari sSekolah Anak Bangsa ini mengacungkan tangan. “Saya suka foto pemandangan,” ungkap Tito.

Menurut Kepala Sekolah Anak Bangsa Semarang M. Iqbal Birsyada, pelatihan ini mendukung sekolah dalam mengembangkan minat dan bakat siswa yang memang menjadi tujuan sekolah.

Melatih Kepercayaandiri

Masih menurut Uswatun, selain untuk membagi ilmu jurnalistik kepada siswa, kegiatan Pesantren Jurnalistik ini merupakan ajang pengembangan diri anggota BP2M. Salah satunya, untuk melatih anggota lebih trampil ketika tampil di depan khalayak.
Sejumlah 25 anggota BP2M menjadi pemateri pelatihan ini. Setiap anggota mempunyai spesifikasi materi masing-masing sesuai dengan bakat dan minta. Hal tersebut mempermudah dalam menentukan pembagian pengampu materi yang sebelumnya melakukan microteaching.

Kegiatan Pesantren jurnalistik ini merupakan tahun ketiga setelah diawali pada tahun 2011 lalu. Pada awalnya, kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi kekosongan kegiatan ketika Bulan Ramadhan dengan kegiatan kebaikan. Akhirnya Pesantren Jurnalistik pertama kali diselenggarakan di SMA Sederajat se-Kota Semarang. Kemudian di tahun berikutnya dilakukan di SLTP se-Kota Semarang, berlanjut di Bulan Ramadhan tahun ini.

Ada 9 SLTP sederajat di Kota Semarang yang mengikuti kegiatan Pesantren Jurnalistik tahun ini, yaitu: SMP N 7 Semarang, SMP N 19 Semarang, SMP N 27 Semarang, SMP N 30 Semarang, SMP N 35 Semarang, MTs Al-Asror, MTs Al-Khoiriyyah, dan Sekolah Anak Bangsa Semarang.







Sumber foto: dokumentasi pribadi

Tuesday, June 25, 2013

Setiap Anak adalah Juara


Ikan yang ia tangkap di selokan sekolah dibawanya ke rumah. Botol air minumnya menjadi wadah. Sampai di rumah, dimasukannya ikan tadi ke dalam akuarium, dengan berhati-hati takut tumpah. Kelakuannya setiap hari, membuat kedua orang tuanya marah. Dan ibunya juga menjadi semakin gelisah.

Ishaan Nandkishore Awasti seorang siswa kelas tiga SD kesulitan dalam membaca. Bahkan untuk mengenal huruf pun ia harus menguras pikirannnya tak mengerti, mencari-cari sebuah arti. Ishaan, begitu teman-temannya memanggil. Ia punya seorang Kakak bernama Yohan. Seperti air dan minyak. Keduanya mempunyai karakter yang berbeda. Yohan, seorang siswa yang rajin dan berprestasi secara akademik. Sedangkan Ishaan, ia anak yang malas dan tak pernah mendapat rangking dan tak naik kelas.
Ishaan terkena dyslexia, penyakit kesulitan mengenali huruf, membaca dan menulis. 

Namun, gurunya tidak menyadari. Sering Ishaan tidak bisa membaca di dalam kelas. Hurufnya seolah menari-nari, dan Ishaan memang banyakberimajinasi. Seperti dalam mata pelajaran bahasa Inggris, setiap kali ditugaskan untuk membaca, Ishaan tidak bisa. Akhirnya hukuman diberikan guru kepadanya. Perlakuan guru dan teman-teman dalam kelas membuatnya frustasi. Ia merasa tak dihargai. Meski setengah mati mencoba menuruti. Ia menjadi tidak percaya diri.

Di sini, seharusnya tugas guru dilaksanakan. Bukan hanya sebagai pengajar memberikan tugas saja, namun juga sebagai pendidik menemukan hambatan dalam mengerjakannya kemudian memberikan solusi. Mencoba mengerti siswa dalam segala situasi. Itu salah satu yang disebut mendidik dengan hati.

Guru Bahasa Inggris Ishaan barangkali juga kelelahan mengajar puluhan siswa dalam kelas besar. Sehingga ia tak mampu mengerti satu per satu kebutuhan dan hambatan apa yang ada dalam setiap individu siswa. Namun, hal ini tak cukup menjadi alasan. Cara guru mengajar dengan keras akan membuat siswa kehilangan kreativitas.

Menurut Konsultan Pendidikan Munif Chatib dalam bukunya “Gurunya Manusia” memberikan pandanganya, di mana fungsi guru dalam kelas adalah sebagai fasilitator. Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir. Siswa bukanlah benda mati yang hanya diajar dengan metode ceramah terus menerus. Namun, jadikanlah siswa itu tanaman yang dapat menyerap air dan mengembangkannya untuk tumbuh.


Dok. Pribadi/Srikandi Shashin Photograph

Tak hanya guru yang menjadi masalah bagi Ishaan, ternyata orang yang disayanginya dirasa menjadi salah satu sumber masalahnya. Orang tuanya menuntut Ishaan untuk berprestasi secara akademik, seperti Kakaknya, tanpa melihat hambatan apa yang dihadapi Ishaan dalam belajar. Orang tuanya putus asa, merasa bahwa anaknya bandel harus hidup di asrama. Akhirnya, meski berat, orang tuanya mengirimkan Ishaan ke asrama. Ishaan semakin tidak percaya diri, perasaanya ia pendam sendiri. Ia merasa tak bisa apa-apa selain menyusahkan orang lain.

Datanglah penolong, Ia adalah guru baru dan seketika menjadi guru dambaan siswa. Ia bukanlah guru yang selalu menghakimi, yang maunya benar sendiri, mendominasi, dan tak mau tahu masalah siswa dan siswi, hanya mengandalkan gaji. Tapi, ia adalah guru yang percaya belajar bukanlah hanya sekadar perolehan nilai kognitif sempurna, tapi belajar adalah menjadi manusia yang bermanfaat untuk khalayak, mau mengerti masalah siswa, guru yang memberikan motivasi, guru yang mengispirasi siswa. Gurunya manusia.

Ram Shankar Nikumbh, yang diperankan oleh Aamir Khan sekaligus produser dan direktur film ini. seorang guru yang akhirnya membuat Ishaan menemukan kepercayaan diri. Seorang guru yang percaya bahwa setiap pribadi anak adalah unik, every child is special. Setiap anak mempunya minat dan bakat yang berbeda, tugas guru adalah membantu mengembangkannya.


Ram, begitu gurunya manusia ini disapa. Ia sadar betul sebelum ia menjadi orang sekarang ini, tepatnya menjadi guru, ia adalah seorang bocah kecil. Ya, bocah kecil pengidap dylexia seperti Ishaan. Ia tahu setiap manusia punya kelemahan, seperti halnya anak-anak. Tapi dengan kelemahan itu, tidak boleh menjadi penghambat anak-anak untuk mengembangkan minat dan bakatnya.

Ishaan yang gemar menggambar dan melukis akhirnya ia tahu bahwa ia memang berbeda dengan teman-temannya, tapi dengan perbedaan itu ia menjadi dirinya sendiri. Inilah fungsi guru, fasilitator. Gurunya manusia memberikan ruang anak untuk menjadi apa yang ia mau. Mengajar dengan hati, gurunya qalbu.

Para calon pendidik muda, anak-anak punya keunikanya sendiri. Gurunya para Taare Zameen Par, bintang kecil di surga. Kehadiran anak-anak dari surga ini sebagai pengingat kita bahwa hidup akan terus berlanjut meski dalam keterbatasan. Mari belajar menjadi gurunya manusia. Kita dulu juga adalah anak-anak bukan? Setiap anak adalah juara, dan kita adalah juara dibidangnya masing-masing. Insyaallah

Terinspirasi dari Film "Taare Zameen Par", Semarang, 25 Juni 2013


Foto Internet

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More