Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Wednesday, December 23, 2015

Deadline Oh Deadline...Bagaimana Mengatasinya?

wheeldesign.blogspot
Deadline atau batas akhir suatu event seringkali membuat kita seakan kebakaran jenggot. Bagaimana tidak? Untuk orang yang manajemen waktunya sudah bagus saja terkadang keteteran apalagi yang jarang mengagendakan kegiatannya pasti berantakan, hehe.^^

Baiklah, uraian di atas barulah intermezo saja. Saya sebagai penulis kecil-kecilan telah menganggap deadline sebagai warna indah di dalam hidup saya. Bayangkan jika tidak ada deadline dalam suatu event maka apa yang akan terjadi? Kebanyakan orang pasti akan malas, malas, dan malas serta menunggu untuk mengumpulkan naskahnya yang mungkin sampai akhir dunia nanti. Namun berbeda dengan orang yang rutin mengagendakan kegiatannya serta memikirkan rencana cadangan apabila kegiatan yang telah terjadwal itu terpaksa ditunda atau diganti waktu pelaksanaannya.

Hal ini sering saya temui ketika saya tengah menggarap naskah dan merasa bosan, di situlah kadang saya berselancar di internet dan menilik update peserta di event tersebut. Tidak tanggung-tanggung, baru sekitar tiga hari seusai event itu diumumkan, sudah ada orang yang mengirim naskahnya dan nangkring di urutan pertama update peserta. Bagaimana bisa ya?

Sebenarnya mudah. Waktu luang itu selalu ada untuk kita hanya tinggal kita saja yang menyadarinya atau tidak. Tergantung pemikiran orang tersebut pula yang menentukan bagaimana tingkah lakunya. Laiknya orang Jepang yang disiplin waktu, mereka selalu mencatat setiap agenda yang akan dilakukan di buku catatan kecil yang sering disebut techou sehingga mudah mengingat dan mengatur jadwal kegiatannya. Dapat memilih pula agenda yang mendesak atau tidak sehingga tidak mengorbankan gagalnya agenda lain yang ingin dikerjakan melainkan hanya menunda waktunya saja, mudah bukan?

Hal ini pernah saya terapkan terhadap diri saya sendiri dan alhamdulillah berhasil, beberapa event dapat ‘tersapu’ dengan baik meski tidak semuanya jadi naskah kontributor. Beginilah tips saya:
1. Pilih event lomba yang temanya menurut Anda paling mudah dikerjakan, segera cari referensinya dan pikirkan inti ceritanya.
2. Jangan terlalu pusing menentukan judul, yang penting badan cerita disusun dengan baik lebih dahulu, setelahnya pikirkan ending cerita yang mengena dan mengandung pesan.
3. Pikirkan judul yang menarik sehingga keoptimisan naskah Anda layak jadi kontibutor cukup tinggi, memang urusan sederhana tetapi first eye catching memiliki poin cukup penting untuk menarik minat orang lain yang membacanya.
4. Poin yang cukup penting, jangan selingkuhi naskah! Jika kita mulai bosan atau writer’s block dan mulai 'nakal' pindah dari naskah ini ke naskah itu maka tidak ada satupun naskah yang akan terselesaikan karena kita sudah menghabiskan banyak waktu.
5. Segera setor naskah apabila dinilai ‘layak matang’ agar kita segera tahu seberapa besar kemampuan kita dan untuk menghindari keraguan dalam mengirim naskah.

Bagaimana? Sebenarnya langkahnya mudah namun perlu dorongan dari diri sendiri. Karena masalah itu selesai bukan karena kita meninggalkannya atau melupakannya tetapi menyelesaikannya dengan segala kemampuan yang ada.

Lewat animasinya, Jepang mengisahkan anak malas yang berubah menjadi orang yang peduli jika ia mau mengerti keadaan di sekitarnya. Judulnya Hyouka, pemeran utamanya bernama Houtarou Oreki yang memiliki motto "If I don't have to do it, I won't. If I have to do it, I'll make it quick." Atau yang di dalam bahasa Indonesia artinya “jika tidak perlu maka aku takkan melakukannya. Jika aku harus melakukannya maka akan kulakukan dengan cepat.”

So simple right?^^

Ingat, setan menipu kita dengan memanjakan di saat waktu luang kita dan mencekik di saat waktu sempit yang baru kita sadari. Gelar deadliner sejati itu bukan pujian lho, ayo ubah dirimu menjadi lebih baik! :D
ini nih mottonya oreki^^

Friday, December 18, 2015

Mengapa Memilih Jepang?

Tokyo Tower
interestingarticle.blogspot.com
Judul di atas adalah pertanyaan yang sering dilontarkan banyak orang –termasuk keluarga saya- ketika memilih menempuh studi pendidikan bahasa Jepang di Unnes.

Mengapa?

Mungkin bagi orang awam, jawaban saya hanya akan menyangkut soal kehebatan Jepang dari segi hiburan. Misalkan saja anime, film, drama, boyband atau girlbandnya. Namun menurut saya itu hanya sebuah nilai plus yang memudahkan saya mempelajari Jepang itu seperti apa. Lewat media hiburan tersebut, hal-hal seperti budaya, politik, pandangan hidup, dan lain sebagainya dapat tersampaikan dengan lebih mudah. Oke, mari kembali ke pembahasan awal.

Mengapa saya memilih Jepang?  Karena kegemerlapan kota Tokyo yang termahal di dunia dan terkenal dengan samurai bengis serta budaya harakirinya(1)? Wow wow, bukan seperti itu motif saya, hehe.^^

Nama resminya adalah Nihonkoku atau Nipponkoku, negeri yang memiliki kemajuan hebat di bidang teknologi dan pendidikan, tingkat kemakmuran dan kedisiplinannya tinggi, serta objek wisatanya makin diminati dari tahun ke tahun oleh pelancong luar negeri karena pelayanannya menarik bahkan pengunjung muslim pun dimudahkan dalam beribadah di sana, ditambah makin meningkatnya mahasiswa dari luar negeri yang tertarik mencari kunci kesuksesan. Bagaimana? Sudah jelaskah? Bukankah Jepang adalah cerminan negara sejahtera yang didambakan oleh semua orang?

Terlepas dari kekurangan Negeri Sakura tersebut, saya menyadari bahwa dengan belajar bahasa Jepang akan memberikan kesempatan baik untuk saya mengubah Indonesia. Mungkin awalnya susah karena kita harus mempelajari huruf hiragana, katakana, dan kanji agar mengerti bahasa tersebut, baik membaca maupun menulis. Bahkan harus mempelajari berbagai tingkatan bahasa seperti teineikei(2), futsuukei(3), sonkeigo(4), dan kenjogo(5) selayaknya dalam bahasa Jawa, lama-lama bisa pusing saya, hehe.

Meskipun ada halangan besar seperti yang sudah saya sebutkan, tetapi semangat untuk mempelajari bahasa Jepang demi masa depan negara sendiri takkan membuat saya putus asa. Menyadari kelemahan saya sebagai mahasiswa yang dulunya apatis dan hedonis, sekarang mata saya terbuka dengan berbagai masalah yang muncul di Indonesia. Karenanya, saya ingin menjadi seorang guru yang dipanuti oleh murid saya dan bisa memberikan kontribusi penting kepada masyarakat. Memang masalahnya saya susah dalam mengeluarkan pendapat dan merangkai katanya dalam bentuk lisan sehingga susah dipahami orang lain. Duh, boro-boro membimbing orang, mengatakan saya ingin begini atau begitu saja kadang-kadang ribet. Maka dari itu, saya ingin menjemput tantangan tersebut, sama seperti menjemput hidayah dari Allah bahwa perempuan adalah aset penting dalam majunya suatu negara.

Nah, kembali lagi ke topik. Jepang adalah tonggak kuat dalam dunia pendidikan, sudah terlihat jelas bahwa sejak taman kanak-kanak, penerus bangsa mereka telah diajari kemandirian dan kedisiplinan yang akhirnya mendarah daging secara alami di dalam kehidupan mereka. Dibandingkan dengan Indonesia memang berbeda jauh karena anak-anak di negeri kita sekarang mudah terkontaminasi hal buruk yang mudah ditemukan di berbagai acara televisi tanpa sensor sedikitpun, tetapi apabila kita ingin menerapkan hal kedisiplinan mengenai media sosial bagi anak maka tidak ada kata terlambat, selama kita terus berusaha dan berjuang tanpa mengenal kata menyerah maka in sya Allah akan ada hasilnya. Itulah budaya ‘akiramenai’ (tidak menyerah) dan ‘ganbaru’ (semangat) yang ingin sekali saya tanamkan di lubuk hati semua orang. Karena budaya Timur di Jepang masih sepadan dengan budaya Indonesia, saya rasa kedua elemen sakti ini bisa diterapkan sedikit demi sedikit mulai dari pribadi masing-masing. Yang saya ketahui, ketika akidah atau keyakinan seseorang sudah benar, maka cara berpikirnya akan bangkit dan akan melahirkan aksi-aksi perubahan yang tentunya sejalan dengan asas kepemimpinan berpikirnya, sehingga kemajuan akan terus muncul seiring berubahnya pola berpikir masyarakat yang ada di sekitarnya. Yang penting sekali untuk kita lakukan adalah PEDULI! Bukankah Allah sudah memberikan kita potensi-potensi hebat di dalam diri yang perlu digali dan dikembangkan? Apakah kita masih ingin menjadi pribadi yang individualis, egois, dan marah ketika orang lain mengingatkan kita untuk berbuat kebaikan?

Think again. Kemajuan di Jepang akan menjadi masa depan Indonesia pula apabila masyarakat benar-benar peduli, mengerti, dan sadar akan masalah yang sedang dihadapi. Bukannya acuh tak acuh dan hanya mementingkan diri sendiri dengan motto ‘yang penting saya tidak merugikan kamu dengan kebebasan yang ingin kulakukan’ yang seakan tertempel jelas di kening kita. Bayangkan jika Jepang seperti itu, pasti negara yang tidak lebih luas dari Pulau Sumatra itu akan semakin terpuruk. Angka bunuh diri akan semakin tinggi karena setiap orang terbelit dengan masalahnya masing-masing, dan tahukah Anda dengan apa yang Jepang lakukan demi meminimalisir kejadian tersebut? Jepang mengusahakan banyak kalimat motivasi dan peringatan terpasang dengan jelas di tempat yang sering digunakan untuk bunuh diri, di setiap stasiun kereta juga dipasangi lampu LED biru yang mencolok agar mereka mencegah dirinya bunuh diri dengan mudahnya. Kurang lebih papan peringatan tersebut berisi demikian:
“Hidup Anda adalah hadiah yang tidak ternilai dari orang tua Anda. Pikirkan lagi orang tua, saudara, dan anak Anda. Jangan simpan masalahmu sendiri. Bicarakanlah masalah-masalahmu.”

Bagaimana? Ingin menjadi manusia yang berguna manusia yang lain demi meraih ridha Allah juga bukan? Yuk, peduli dan sadar pada masalahnya serta cari solusi terbaiknya! :D

*Keinginan terdalam saya mengapa ingin belajar sampai ke Jepang yang belum sempat diikutsertakan ke dalam lomba karena ide muncul seusai deadline, hihi.^^

(1) Tradisi bunuh diri oleh orang Jepang zaman dahulu apabila kalah dalam berperang.
(2) Ragam bahasa formal.
(3) Ragam bahasa informal.
(4) Ragam bahasa hormat dengan meninggikan tingkatan kebahasaan aktivitas orang lain.
(5) Ragam bahasa hormat dengan merendahkan tingkatan kebahasaan aktivitas diri sendiri.

Thursday, December 17, 2015

Tentang Mahasiswa Semester Tua dengan Kegalauan yang Ada

Kalau sudah menonton drama keluarga seperti ini selalu lupa kalau ada skripsi yang harus dikerjakan segera. Iya, karena setiap kali menonton, pasti membayangkan andai aku bisa punya suami seganteng pemeran dalam film yang ada pada gambar di samping ini. hehe

Contohnya, ketika aku menonton drama keluarga asal Taiwan New Perfect Two (2012). Bayangkan saja, ayah yang ganteng dan baik hati yaitu Vic Zou sangat mencintai anak lelakinya. Apalagi artis anggota boy band F4 ini merupakan artis yang aku suka sejak SD.

Dalam drama diceritakan bagaimana Vic Zou yang berperan sebagai Ah Bee sangat sayang kepada anak semata wayangnya. Cerita yang menyentuh hati membuatku menangis sepanjang nonton drama ini.

Tuh kan, kalau sudah menonton drama keluarga, aku yang notabene adalah mahasiswa semester tua, suka lupa ada yang harus aku kerjakan segera. Percayalah aku adalah mahasiswa penghuni Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan "tua". Kata "tua" di sini dalam arti sebenarnya. Tua umur, tua semester pula.

Saat ini usiaku 24 tahun, jomblo dan ditambah skripsi belum kelar. Kawan-kawan satu angkatan tinggal hitungan jari, kadang hal ini yang membuatku merasa asing sendiri. Saking lama merantau di Unnes, aku tahu perubahan harga bensin, rames, es teh dan harga sembako lainnya yang semakin tidak ramah kantong mahasiswa (khususnya mahasiswa apa adanya sepertiku).

Tidak hanya itu, sebagai mahasiswa semester tua, aku juga mengalami penggantian dekan sampai rektor Unnes (bahkan sampai tahu penambahan penjaga keamanan dan juga penjaga kebersihan). Menurutku, semua itu bukanlah prestasi. Sama sekali bukan. Oleh karena itu, kadang aku berpikir, apa yang sudah aku lakukan selama ini?

Barang kali salah satu pembaca Celoteh Anak Negeri di sini juga mempunyai nasib yang sama. Nasib sebagai mahasiswa semester tua. Seperti mahasiswa semester tua yang lain, ada beberapa faktor yang membuatku berada pada jalan sepi bernama "Semester Tua" ini. Aku sebut "jalan sepi", karena tidak banyak yang mau menyambangi. Hanya segelintir orang yang masih bersarang.

Bayangkan saja, dari tiga Rombongan Belajar (Rombel) dengan rata-rata dihuni oleh 30 mahasiswa, sekarang tinggal kurang lebih 11 saja (namun data terbaru yang aku dapatkan, dari sebelas mahasiswa tua ini tinggal 3 orang karena dikurangi yang ikut wisuda Oktober kemarin).

Betapa sepi bukan? Biasanya di kampus saling sapa dengan satu angkatan. Kini, ke kampus tinggal sendirian (karena jarang ketemu sama kawan-kawan yang tersisa itu). Apalagi, kalau mau jajan. Jalan sendirian menuju kantin, dan makan tinggal bayar trus pulang. 

Namun, itu yang dulu aku rasakan. Nyatanya setelah aku jalani, kau tak lagi merasa sepi. Ini memang harus aku jalani. Selain mikir skripsi, hari-hari aku jalani dengan arubaito (bekerja paruh waktu). hihi Selain itu, semeseter tua juga punya kegiatan sampingan lain yaitu kondangan.

Kenapa? Karena kawan-kawanku sudah pada bekerja dan tidak heran juga kebanyakan siap menikah. Tinggal nunggu undangan mereka saja, seperti bergiliran (kalau aku kapan coba?).  Ah sudahlah turut berbahagia untuk mereka, semoga aku juga segera insyaallah. :) Baiklah berpredikat sebagai semester tua tidak menghalangiku untuk bisa maju. Apalagi hanya mikirin mantan melulu. Siapa tahu jodoh tahun depan bisa ketemu. Aamiin insyaallah :)

Patemon, Gunungpati, Semarang 17 Desember 2015

Saturday, November 28, 2015

Apa Pendapatmu tentang Pendidikan Indonesia, Mblo?

Cita-citaku  Jadi Guru/foto Marfuah R.Umar Sidik
Assalamu`alaikum, Mblo... Maaf ya, saya panggil "Mblo" dari kata Jomblo. Ini merupakan panggilan sayang saya untuk kamu (dan saya khususnya) yang masih setia jomblo sampai halal. Insyaallah hehe Malam minggu bagi jomblo seperti kita pasti tidak bakal jadi sendu. Hal itu karena kita pilih-pilih kegiatan yang buat malam minggu jadi enggak kelabu.

Nah, kegiatan itu misalnya malam ini kita ngomongin sesuatu. Sesuatu itu bukan perkara mantan melulu. No way! Kita singkirkan sejenak kata "mantan" lebih baik malam minggu ini kita bicara tentang pendidikan. Bagaimana? Setuju kan? Soalnya kita juga generasi produk pendidikan, nah pandangan seperti apa tentang pendidikan Indonesia menurut kawan-kawan?

Kalau menurut saya, rasanya merupakan salah satu pemuda yang beruntung. Kenapa? Pertama,  kalau berbicara mengenai keterjangkauan sekolah dari rumah saya cukup terjangkau. Meskipun hidup di sebuah desa yang jauh dari kota, namun saya tidak begitu bersusah payah menuju sekolah. Hal itu sangat berbeda dengan sekolah di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).

Ya, ketika Sekolah Dasar (SD) dulu, berangkat sekolah hanya membutuhkan waktu 10 menit berjalan kaki bersama kawan-kawan. Kemudian naik ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada di kecamatan, dijangkau dengan berjalan kaki 20 menit menuju jalan raya, dilanjutkan naik mini bus selama 10 menit. Beranjak ketika Sekolah Menengah Atas (SMA), meski berada di kota namun sejak mini bus masuk desa setiap pagi hanya ditempuh selama 25 menit saja.

Kedua, bagaimana dengan sarana dan prasarana sekolah? Meski dulu keadaan ruang kelas SD ada yang bocor sana sini dan atap hampir ambruk, namun sarana dan prasarana semakin  memadai di SMP dan SMA. Buku, alat tulis, seragam, dan barang keperluan sekolah memadai. Alat olah raga di sekolah ada. Belajar komputer atau menonton film untuk mendukung pelajaran Sejarah atau Bahasa Indonesa ada ruang multimedia. Kemudian praktek pelajaran IPA bisa di laboratorium (meskipun laboratorium IPS di sekolah belum ada). Bahkan, sekarang menurut penuturan adik saya yang duduk di bangku SMA, sudah ada jaringan internet masuk ke sekolah (jaman saya dulu masih ngatri di warnet).

Ketiga, saya merasa beruntung dengan keberadaan guru yang menginspirasi. Ya, meskipun tidak semua guru sadar sebagai teladan bagi siswa, namun setidaknya di sekolah tempat saya belajar menemukan guru yang bisa digugu dan ditiru. Seperti halnya Bu Een Sukaesih (Alm) dengan keterbatasan fisik, namun ketulusan hati beliau dapat tempat di hati murid-murid. Bu Een (saya berharap guru di Indonesia yang lainnya juga) berperan seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantara yaitu guru dengan asah, asih, dan asuh sehingga disayangi dan populer di kalangan siswa.

Betapa beruntung saya bukan? Namun, bagaimana dengan sekolah di daerah 3T di Indonesia? Ironi. Begitulah saya katakan karena di kota-kota pernah demam sekolah berstandar nasional dan bahkan internasional dengan membanggakan sarana dan prasarana yang ada. Namun berbeda dengan di daerah 3T yang minim sarana dan prasarana, semangat untuk bersekolah saja sudah cukup menjadi modal mereka menuntut ilmu.

Oleh karena itu, ada rasa haru dan bangga melihat foto kegiatan pengabdian Sarjana Mengajar 3 T (SM3T) kawan-kawan saya di media sosial mereka. Haru karena ternyata kondisi sarana dan prasarana nampak terbatas. Namun, sekaligus bangga karena meskipun dengan keterbatasan itu anak-anak dalam gambar nampak bahagia.

Di sinilah menurut saya pendidikan tidak melulu tentang sarana dan prasarana materi yang harus memadai, namun bagaimana keberadaan guru di sekolah menjadi pelita dalam rangka mencerdaskan anak bangsa. Ya, meskipun sarana dan prasarana tidak mencukupi, namun semangat guru memberi inspirasi akan menghidupkan semangat penerus bangsa menjadi insan yang berguna. Siswa yang cerdas tidak hanya intelektual, tapi cerdas juga secara sosial dan spiritual.

Menurut saya, digalakkannya program SM3T dan Guru Garis Depan (GGD) sangat bermanfaat dalam menciptakan siswa semacam itu. Siswa bersekolah dengan bahagia bersama guru yang tulus berbagi ilmu dan pengalaman menarik hidup mereka. Jadi, pendidikan tidak melulu tentang sarana dan prasarana yang lengkap tapi nir pemupukan akhlak mulia. Namun, pendidikan tentang bagaimana ketersediaaan dan pemerataan guru harapan Ki Hajar Dewantara untuk Indonesia yaitu guru yang asah, asih, dan asuh. Bukan begitu? Bagaimana menurutmu?

Semarang, 28 November 2015

Friday, November 27, 2015

私の生きがい (Alasan Aku Hidup)

danielnugroho.com
Judul di atas saya ambil dari teks pidato bahasa Jepang milik kakak kelas saya yang tadi pagi dibahas di dalam mata kuliah sakubun atau menulis karangan. Sensei sengaja memberikan teks tersebut karena beliau berkomentar bahwa naskah私の生きがい memiliki isi yang berkualitas juga dianggap sebagai naskah paling bagus yang pernah dibuat oleh anak Unnes. Oke, saya tidak membahas lebih jauh tentang naskah milik siapa atau tentang lomba pidato yang mana tetapi mengenai isi teks tersebut. Ya, alasan mengapa saya hidup.

Kebanyakan orang akan menjawab alasan mengapa mereka hidup adalah orang tua. Namun menurut saya itu kurang pas, sebab orang tua memang wajib adanya sebagai pendamping serta daya juang di dalam hidup kita. Karena pengorbanan tulus mereka, kita menyayangi mereka dan ingin membalas budi mereka selayaknya anak yang berbakti. Jika alasan hidup hanya demi orang tua atau manusia maupun makhluk hidup lain yang berumur pendek, maka jika alasan hidup kita hilang, otomatis kita akan berhenti memikirkan hidup kita ke depannya karena dianggap tidak ada tempat untuk bersandar lagi.

Sedangkan di dalam Islam sangat sederhana, alasan hidup kita adalah mencari ridha Allah serta rahmatan lil alamin. Mudah bukan? Hidup tidak terkesan ribet dan kita bisa fokus memikirkan apa yang akan kita lakukan di hidup yang hanya sekali ini kalau perlu akhirnya tanpa ada penyesalan. Dan yang paling istimewa, Allah tidak tidur jadi tidak perlu takut jika kita terpuruk. Sip?^^

Namun...apa yang bisa kita lakukan demi meraih ridha Allah? Apa yang bisa kita lakukan demi mengimplementasikan Islam rahmatan lil alamin atau yang dikenal sebagai Islam yang menurunkan rahmat bagi seluruh umat manusia?

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah untuk tugas mengarang saya. Sensei dengan tegas menyatakan bahwa hidup itu tidak bermakna apabila kita tidak bisa melakukan hal untuk kebaikan dan bermanfaat bagi manusia lainnya. Seperti yang sudah diungkapkan HR Thabrani bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Namun...apa ya? Hal kecil namun bermakna?

Karena Sensei melihat wajah cengar-cengir dan mesam-mesem kami –khususnya saya yang duduk tepat di hadapan beliau- akhirnya Sensei menuturkan sedikit hal tersebut. Beliau menceritakan sedikit pengalamannya ketika menempuh pendidikan di Negeri Sakura, di mana masyarakat Jepang memiliki budaya berterima kasih. Sekecil apa pun usaha itu, mereka menghargainya dengan baik. Sensei juga bercerita bahwa kegiatan konkret ini beliau terapkan di sebuah sekolah dasar Islam wilayah Ungaran. Hal tersebut dituangkan ke dalam Post It. Semacam mading kecil yang akan ditempeli kertas-kertas yang ditulis oleh siswa sekolah dasar tersebut dengan isi mengucapkan terima kasih. Betul-betul hal yang kecil dan sayangnya tidak disadari oleh orang kebanyakan. Misalnya “terima kasih mau menjadi teman sekelompokku”, “terima kasih sudah meminjamkan penghapus”, banyak bukan? Hal-hal kecil yang apabila kita mempedulikannya akan bermanfaat serta mengeratkan ukhuwah Islamiyah?

Nah, dari sini kita sudah terpahamkan bahwa alasan kita hidup dapat diwujudkan dengan peduli pada sesama bukan? Tetapi...hal yang lain apa ya? Apa karena hati kita sudah terlampau kering kerontang? Apakah jiwa kita sudah tak mampu peka dengan kepedulian dan rasa sayang hingga hanya mengutamakan diri sendiri dengan sikap hedonisme?

Sebagai muslimah, alasan hidup saya adalah berdakwah lewat tulisan, menyadarkan umat bahwa ada cinta dan kasih sayang abadi yang tak lekang oleh waktu dan senantiasa akan membuat kita semakin kuat yaitu Allah semata. Selain itu, saya juga ingin menjadi guru yang juga mengajarkan serta menerapkan pendidikan karakter agar generasi muda Indonesia juga bisa mengerti apa makna hidup ini. Seperti sabda Rasul yang mengatakan bahwa wanita adalah tiang negara, apabila baik wanita maka baiklah negara, apabila rusak negara maka rusaklah negara. Sudah jelas bukan bahwa manusia tinggal di Bumi memiliki misi tersendiri dalam hidupnya? Mengapa masih bingung harus melakukan apa toh Sang Pengatur sudah menunjukkan jalannya pada kita semua^^

Sekian dari opini saya kali ini, adakah yang mau memberi komentar atau tambahan lain mengenai “alasan mengapa saya hidup?”

Yup, semoga bermanfaat! :D

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More