Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Thursday, November 19, 2015

Wah...Di Jepang Kucing Istimewa Lho!

Tama, Kucing Kepala Stasiun
Sumber: CNN Indonesia

Menurut kalian kucing hewan itu seperti apa? Lucu? Manja?

Yang pasti kucing adalah hewan yang paling manis, menurut beberapa orang di dunia, termasuk bagi saya. Bahkan mereka adalah hewan yang penurut dan setia kepada tuannya. Ke manapun majikannya pergi, mereka selalu mengikuti dari belakang dengan langkah jinjitnya dan tingkahnya yang menggemaskan.

Di Jepang khususnya, kucing adalah hewan favorit bahkan tidak jarang mereka dijadikan ‘sampul besar’ di sebuah tempat atau merk dan ajaibnya mendatangkan banyak keuntungan dari sana. Tokoh kartun Hello Kitty dan sejumlah kafe kucing yang tersebar di Jepang bisa menjadi bukti.

Contohnya Kepala Stasiun Kishi, Prefektur Wakayama, Jepang adalah Tama, seekor kucing betina. Wakayama Electric Railway mengangkat Tama sebagai kepala stasiun pada 5 Januari 2007. Tama adalah kucing pertama di dunia yang menduduki jabatan seperti  itu. Tepat di ulang tahun ke-5 sebagai kepala stasiun, Tama diberi asisten. Seekor kucing betina bernama Nitama. Karier Nitama melesat karena mampu melipatgandakan jumlah turis asing ke Wakayama. Pada 2014, jumlah pelancong di 14 stasiun di Kishigawa Line naik lebih dari 240%. Mereka yang datang ke Stasiun Kishi tidak bukan sekadar ingin melihat Tama, tapi juga senang naik Tama Densha. Kereta ini sangat digemari terutama oleh anak-anak karena desain, interior, dan eksterior kereta yang menarik. Semua bertemakan kucing baik sofa, dinding maupun langit-langit kereta. Di dalamnya juga terdapat kandang kucing yang terbuat dari kayu serta perpustakaan yang berisi buku anak-anak serta manga atau komik.

Tidak hanya itu, di Negeri Sakura tersebut juga terdapat pulau-pulau kucing di mana kita bisa melihat hewan manja tersebut hidup bebas di sana yang juga sangat populer di kalangan turis. Karena di kota besar banyak apartemen yang menerapkan aturan tidak boleh memelihara hewan, maka pemerintah mengakomodasikan tempat-tempat wisata unik untuk relaksasi bagi para pecinta kucing. Pulau-pulau itu antara lain:
1. Tashirojima, kota Ishinomaki, Prefektur Miyagi
2. Okishima, Prefektur Shiga
3. Sanagishima,Prefektur Kagawa
4. Aoshima, Prefektur Ehime
5. Muzukijima, Prefektur Ehime
6. Manabeshima, Prefektur Okayama
7. Iwaishima, Prefektur Yamaguchi
8. Prefektur Aijima, Fukuoka
9. Aishima, Prefektur Fukuoka
10. Genkaishima, Prefektur Fukuoka
11. Kadarashima, Prefektur Saga
12. Enoshima, Prefektur Kanagawa

Pulau Kucing Aoshima
Sumber: gambarwisata

Kucing-kucing tersebut katanya tidak pilih-pilih makanan. Bisa makan dengan nasi, wafer, kentang, atau bahkan biskuit yang mereka dapatkan dari para wisatawan. Dan biasanya akses menuju pulau-pulau kucing tersebut adalah menaiki kapal dan menepi di pelabuhan. Seorang nahkoda kapal feri mengatakan mengatakan pihaknya kerap kali mengantar pelancong setiap pekan, walaupun hal yang bisa ditawarkan hanyalah gerombolan kucing. Namun hewan tersebut sudah ‘dari sononya’ imut sehingga memberikan hiburan tersendiri yang menenangkan hati kita hanya dengan melihatnya. Saat turun dari kapal, wisatawan langsung disuguhi kucing-kucing yang sudah menyambut di dekat dermaga, wah kawaii~^^

Tidak tanggung-tanggung, di Jepang juga ada Hari Kucing lho. Ialah hari peringatan atau perayaan nasional di Jepang untuk menghormati kucing. Hari perayaan ini pertama kali dirayakan pada tahun 1987.  Di setiap perayaan yang selalu disambut meriah akan ada banyak promo di toko-toko hewan peliharaan. Penetapan perayaan Hari Kucing dilakukan dengan cara mensurvei 9000 orang di Jepang. Survei tersebut bertujuan untuk menetapkan tanggal perayaan Hari Kucing. Banyak orang yang memilih tanggal 22, sehingga penetapan hari perayaan ini adalah tanggal 22. Kemudian untuk bulannya diambil dari kata dalam bahasa Jepang. Kata "ni" (二) yang artinya "dua", jika diucapkan terdengar dekat dengan kata "nyan" (ニャン) yang berarti "meong". Sehingga angka 2 yang berarti bulan Februari (bulan kedua dalam setahun), dijadikan sebagai bulan penetapan perayaan Hari Kucing di Jepang. Komite Eksekutif menetapkan 22 Februari sebagai perayaan Hari Kucing. Selain itu, tanggal 22 Februari jika di Jepang ditulis dengan 22/2, dengan demikian dapat disebut dengan kata "nyan nyan nyan" dalam bahasa Jepang atau "meong meong meong" dalam bahasa Indonesia.

Bukti orang Jepang mengistimewakan kucing yaitu kehadiran patung kucing keberuntungan yang sering disebut “maneki neko” yang sering dipajang di toko, restoran, dan di tempat-tempat usaha lainnya. Kucing tersebut mengangkat kaki depan sebelah kanan dipercaya dapat mendatangkan uang, sementara maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kiri dipercaya mendatangkan pembeli. Jadi selain disebut kucing keberuntungan, juga bisa disebut kucing rezeki dan kucing pengundang. Bentuk patung kucing tersebut sangatlah lucu apalagi yang tangannya bisa digoyang-goyangkan, hihi.^^

Maneki Neko
Sumber: steycool.blogspot

Sebenarnya tidak hanya Jepang, di Islam kucing juga istimewa. Nabi menekankan di beberapa hadits bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci. Banyak fakta ilmiah sudah membuktikannya lho. Maka dari itu tidak mengherankan jika kucing boleh berkeliaran di sekitar masjid, hehe.

Bagaimana? Apakah kalian tertarik memelihara kucing setelah tahu fakta-fakta spesial tersebut?^^

Sumber:
Koran HaloJepang! Edisi Maret 2015
Wikipedia

Wednesday, November 18, 2015

Menyapa Negeriku, Menyapa Indonesiaku

@dikti
Menungu pengumuman "Menyapa Negeriku" itu seperti menunggu kamu. Iya, kamu (Eits... nunggu siapa ya? #ingatjomblo). Rasa cemas, senang, dan berbunga-bunga jadi satu. Bagaimana tidak? Jika aku lolos melalui program pemerintah ini, selama lima hari aku bisa berkunjung, menyapa, dan berbagi inspirasi di Aceh. Ya, kota Serambi Mekah itu adalah salah satu daerah di Indonesia yang sangat ingin aku kunjungi.

Entah sejak kapan, aku ingin menginjakkan kaki dan menerlusuri budaya dan mendalami karakter orang-orang yang ada di Tanah Rencong itu. Tapi, coba aku mereka-reka, sepertinya kesukaanku membaca buku sejarah ketika sekolah. Tidak hanya itu, kemudian ditambah baca cerita pendek (kalau tidak keliru) tentang gadis kecil "Moethia" milik Asma Nadia yang membuatku tertarik ingin pergi ke sana. Semoga diijabah oleh Allah Subhanahuwata`ala melalui program pemerintah "Menyapa Negeriku" tahun ini. Aamiin insyaallah

Sejarah mengatakan selain Kutai Kartanegara, Aceh merupakan tempat penyebaran Islam pertama di Indonesia. Maka dari itu, aku yang merupakan seorang muslim ingin sekali ke sana dan mengenal orang-orangnya. Juga, ingin mengenal kuliner di sana, seperti kopi khas Aceh yang melegenda.

Saking ingin ke Aceh, aku hubungi temanku yang menjalankan pengabdian Sarjana Mengajar Daerah Terdepan, Terdalam, dan Tertinggal (SM3T) di Aceh. Dari penuturan temanku itu, di sana menakjubkan. Meskipun sarana dan prasarana yang kurang memadai (seperti di daerah 3T kebanyakan), namun orang-orang di sana ramah-ramah dan sangat menghormati guru.

Selain itu, yang membuatku sedih, ada juga siswa yang bolos sekolah karena membantu Bapak dan Ibu bekerja di ladang. Waaa ironi sekali bukan? Kebanyakan anak sekolah di kota besar pada milih bolos sekolah karena nonton konser atau mogok sekolah karena tidak dibelikan gawai baru. Sedangkan di daerah 3T, anak sekolah bolos karena membantu ibu.

Tapi, aku sangat bangga dengan anak sekolah di daerah 3T dengan kepolosan mereka, aku harap mereka kelak menjadi pemimpin bangsa yang tidak hanya mengedepankan akal semata, tapi juga hati nurani yang menuntun jalan mereka. Salah satu agar iru terwujud adalah dengan adanya seorang yang digugu dan ditiru, seorang guru inspiratif yang mendidik dengan hati. Aamiin insyaallah 

Sampai jumpa Aceh, semoga aku bisa menyapa saudara-saudaraku  melalui "Menyapa Negeriku". Semoga di pengumuman "Menyapa Negeriku" nanti aku adalah salah satu yang berkesempatan menyapa saudara sebangsa dan setanah air Indonesia di Aceh sana. Aamiin insyaallah

Semarang. 18 November 2015

Saturday, October 24, 2015

Kamu Mahasiswa Unnes? Coba Tebak, Berapa Ongkos Naik Angkot Unnes-Simpang Lima?

Perjalanan Simpang Lima Semarang
sumber foto klik di sini
Apa yang kamu lakukan jika sedang penat? Jika aku ditanya demikian, akan kujawab: selain membaca (cerpen, novel, atau apa saja yang menarik untuk aku baca-kadang baca status FB orang juga), aku akan keluar kamar dan pergi ke tempat yang menarik. Misalnya saja, pada hari Rabu yang panas kemarin memutuskan untuk membeli buku di toko buku daerah Simpang Lima.

Pergi ke toko buku menjadi hal yang menarik bagiku, karena di sana aku bisa membaca buku-buku baru secara gratis. hehe Tidak hanya pergi ke tempat menarik, ketika penat melanda aku akan mencoba hal-hal yang belum pernah aku lakukan. Misalnya saja, aku mahasiswa yang diberi fasilitas motor oleh orang tua terbiasa bepergian naik motor, namun mencoba pergi ke toko buku di daerah Simpang Lima naik moda transportasi umum yang ternyata asyik juga.

Ini terbilang hal menarik bagiku, karena enam setengah tahun di Semarang (jadi kuberitahu kalau aku adalah mahasiswa tua di Universitas Negeri Semarang-Unnes), belum pernah sekalipun pergi-pulang Unnes-Simpang Lima menggunakan moda tarnsportasi umum seperti angkot . Maka pada hari merindu hujan di pekan terakhir Oktober ini (sudah tidak sedikit sumur telah kering di daerah Unnes yang notabene daerah resapan air di Semarang lho) kuberjalan 200 meter dari kos menuju jalan raya, kemudian berdiri di pinggir jalan, menunggu moda transportasi bukan taksi, apalagi jemputan "doi", tapi Bapak Supir Angkot sedang kunanti.

Perjalanan naik angkot dimulai. Pak Sopir  menjalankan angkot berwarna hijau dan kuning tua itu pelan. Dalam angkot ada  ibu-ibu di sampingku, juga seorang ibu penjual  memegangi setumpuk aneka kudapan yang mau ia jajakan duduk di depanku, bapak-bapak dengan seorang anak kira-kira berusia 5 tahun, dan seorang pria remaja duduk manis di sebelah sopir. 

Setelah berjalan beberapa menit, Pak Sopir menengok ke setiap gang yang ada di Sekaran-Banaran, siapa tahu ada calon penumpang yang menunggu. Pak Sopir tidak perlu tergesa-gera menancapkan gas karena angkotnya belum penuh. Kejar setoran istilahnya. Tidak dipungkiri, penumpang angkot kian menyusut dibandingkan dengan pengguna motor yang kian naik. Hal itu mempengarui pendapatannya sebagai supir angkot.

"Kalau begini, ini angkot mau jam berapa nyampe tempat tujuan?" tanyaku dalam hati.

Aku yang buta peta alur trayek angkot bertanya dengan ibu yang duduk di sebelahku. Tenyata hanya cukup dua kali naik angkot aku bisa sampai di Simpang Lima.

"Iki mudun neng Jembatan wesi. Terus numpak angkot meneh. Melu aku wae Mbak, aku arep neng Johar. Engko nglewati Simpang Lima," saran seorang ibu yang mau belanja ke Pasar yang beberapa bulan lalu kebakaran itu.
Sumber foto klik di sini
Jarak dan Waktu Tempuh Unnes-Simpang Lima

Kutanggukkan kepala tanda setuju saran ibu tadi. Sementara angkot masih berjalan pelan. Dari awal, aku memang sudah menaruh prasangka buruk dengan angkot. Angkot yang lamban, angkot yang panas, angkot yang suka berhenti mendadak. Namun, ternyata.... Jam menunjukkan pukul 9.30 sampai di Jembatan Besi. Ternyata, hanya butuh waktu 20 menit saja dari gang kosku (Patemon) sampai jembatan besi (itu juga sudah ditambah waktu sedikit tersendat karena perbaikan jalan di Trangkil).

Setelah sampai Jembatan Besi, angkot selanjutnya aku tumpangi. Angkot ngetem sebentar, kemudian melaju menuju Simpang Lima. Aku melewati Jalan Kaligarang, Karyadi, kemudian Kyai Saleh, Pandanaran, dan sampailah di tempat tujuan Simpang Lima. Dan yang mengejutkan, dari jembatan besi hanya butuh kurang lebih 30 menit saja, aku sudah sampai di Simpang Lima.

Jadi, total perjalananku dari Patemon (Unnes) sampai Simpang Lima kurang lebih hanya menempuh waktu kurang lebih 55 menit. Menurutku waktu tempuh ini tidak terlalu jauh selisihnya dengan ketika aku mengendarai motor menuju Simpang Lima. Melewati Gajah Mungkur, waktu tempuh kurang lebih 35 menit. Selisih 20 menit tidak menjadi masalah bagiku karena di dalam angkot, aku bisa bertemu dan berbincang dengan orang baru.

Lalu, berapa ongkos  dari Unnes menuju ke Simpang Lima? Tidak banyak. Tenang saja, insyaallah tidak membuat kantong kita kering. Ongkos dari Patemon sampai Jembatan Besi Rp 4000 sedangkan Jembatan Besi-Simpang Lima juga Rp 4000. Begitu juga sebaliknya, jadi pergi-pulang Unnes-Simpang Lima membutuhkan ongkos jalan Rp 16.000.

Coba kita bandingkan dengan ongkos jalan Unnes-Simpang Lima menggunakan sepeda motor. Pergi-pulang Unnes-Simpang Lima kita memang hanya perlu satu kali mengisi bensin di Pom Bensin minimal Rp 10.000 (kecuali kalau ngecer literan bisa lebih murah). Namun, tidak hanya uang bensin, kita juga perlu bayar parkir Rp 2000. Belum lagi kalau kita berlama-lama di sana. Tambah biaya parkir per jam misal yang harusnya Rp 2000 tapi karena berlama-lama di kawasan Simpang Lima (baik ke toko buku atau pusat perbelanjaan lainnya) ongkos jasa parkir jadi Rp 3000/sekali parkir. Jadi, selisih ongkos naik angkot dengan naik sepeda kira-kira Rp 7000.

Menurutku ada sisi baik dan tidak di antara keduanya. Setidaknya aku sudah mencoba naik angkot. Ternyata seru juga. Salah satu serunya adalah jalan kaki di sekitar kawasan Simpang Lima dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Terasa seperti turis asing di negara sendiri begitu (terasa asing dalam arti sebenarnya sih, karena jarang ketemu orang jalan kaki di trotoar apalagi panas-panasan). Nah, cuaca panas seperti pada musim kemarau dan El-Nino panjang seperti ini, aku pikir perlu bawa payung untuk melindungi diriku dari sinar UV (Ultra Violet) saat jalan kali. Cara ini salah satunya aku adaptasi dari dosen bahasa Jepangku dan teman-teman warga negara asingku yang suka pakai payung di siang hari meski tidak hujan.

Payung pun aku pakai sambil berdiri di trotoar menunggu angkot datang. Namun, bukan terlindungi dari panas, tapi angin yang cukup kencang berhembus membuat payungku terlipat ke belakang. hehehe Cepat-cepat aku perbaiki dan melipat payung tadi. hehe 

Begitulah celoteh tentang perjalanan tunggal (alone trip) yang aku bagi untuk kamu. Sila pilih mana untuk berjalan-jalan ria ke Simpang Lima. Yang penting apapun moda transportasi yang kamu gunakan untuk melakukan perjalanan, selalu ingat ketenangan jiwa bermula dari kesyukuran. Selamat jalan-jalan!

Wednesday, October 21, 2015

Disiplin Waktu Seperti Orang Jepang? Tentu Saja Bisa!

sumber: google.com

Ciri-ciri waktu antara lain tidak bisa disewa, dipinjam, atau dibeli. Waktu juga tidak bisa berubah, tidak bisa dikumpulkan, jua tidak ada penggantinya. Orang sering mengatakan bahwa waktu itu terus membabat habis kesempatan di dalam hidup kita tanpa tersisa. Tahu-tahu kita terkena dampak besar ketika sudah berlalu dengan cepatnya. Apakah itu yang kita inginkan di dalam hidup kita yang amat singkat seperti ‘numpang minum’ ini?

Tentu saja tidak, kita harus disiplin mengenai manajemen waktu lho. Tapi sebelum dapat mengaturnya dengan baik, kita juga harus tahu siapa sajakah ‘perampok waktu’ itu.
1.Penundaan
2.Telepon
3.Televisi
4.Tamu tidak diundang
5.Pertemuan
6.Kurangnya pengelolaan rencana harian
7.Melakukan sesuatu secara emosional
8.Tidak bisa mengatakan tidak
9.Kebiasaan hidup yang tidak baik

Nah, bagaimana teman-teman? Sudah bisakah kita menghitung waktu yang telah terbuang percuma di hidup ini tanpa bisa memanfaatkannya? Duh, awalnya hanya bisa elus dada nih, hihi.
Yang harus kita lakukan selanjutnya adalah mengoptimalkan segala kegiatan kita dengan ‘diberi porsi’ yang tepat. Tentu yang saya angkat di sini adalah mengenai kedisiplinan orang Jepang yang sangat menghargai waktu. Contoh sederhananya terlihat jelas pada ketepatan waktu kereta Jepang berangkat. Meskipun belum saya buktikan secara langsung dengan pergi ke Jepang, namun melalui video Japan's Trains- Always on Time! 時刻表通(じこくひょうどお)りに来(く)る日本(にほん)の電車(でんしゃ) (jikokuhyoudoori ni kuru nihon no densha) 1OMOTENASHI, sang pengamat bernama Steve memaparkan bahwa Tokyo yang notabene kota metropolitan yang sibuk namun kereta dan bus di kota itu selalu datang tepat waktu sesuai jadwal keberangkatan. Bahkan shinkansen atau kereta peluru yang terkenal paling cepat di Jepang pun datang tepat dalam 0,1 menit atau 6 detik dari waktu yang telah dijadwalkan. Selain cepat, keamanannya pun juga terjamin. Karena pengaruh dari budaya pula, mereka dengan setia mengantri dengan rapi di belakang garis kuning –batas keamanan- sampai kereta datang di depan mereka. Tetapi ia menyayangkan bahwa di Amerika banyak transportasi yang pengoperasiannya tidak tepat waktu. Dan di Indonesia pun sama, bahkan bus terkesan ugal-ugalan saat menjelang pagi dan tengah malam karena mengejar waktu bukannya tepat waktu.  Memiliki sistem yang sangat hebat seperti ini adalah contoh dari omotenashi atau jantung keramah-tamahan Jepang. Menakjubkan bukan? Selain itu, orang Jepang juga terbiasa membawa techou atau buku catatan kecil ke manapun mereka pergi karena sangat penting untuk mencatat jadwal pertemuan atau aktivitas pribadi agar tidak lupa maupun terlambat datang ke kegiatan tersebut. Sangat efisien karena kita bisa mengatur dan mengoptimalkan dengan baik waktu kita dan tidak menyia-nyiakannya dengan kegiatan yang kurang bermanfaat.

Sebagai muslim pun kita juga punya ‘rambu-rambu’ dalam mengelola waktu kita dalam melakukan sebuah hal atau kegiatan. Dalam rangka memprioritaskan waktu sebagai amalan kita juga lho. Ini dia:
1.Jika wajib, harus dilaksanakan
2.Jika sunah, diupayakan
3.Jika mubah, lakukan yang paling bermanfaat
4.Jika makruh, lebih baik dihindari
5.Jika haram, tentu saja ditinggalkan

Sudah jelas kan teman-teman? Orang Jepang yang mayoritas bukan beragama Islam saja sudah bisa mengatur waktunya dengan baik apalagi kita yang alhamdulillah sudah Islam sejak lahir?^^

Saya harap ke depannya Indonesia mampu mencontoh budaya serta teknologi dari manapun yang baik untuk diterapkan di negeri tercinta ini. Tidak hanya itu, tapi juga dibungkus dengan karkater Islam yang baik demi kehidupan di akhirat kita kelak. Eits, pertanggung jawaban waktu yang kita habiskan di dunia juga bakal ditanyain lho nanti, hihi.

Yosh! Minna ganbatte kudasai! :D

* jikokuhyoudoori ni kuru nihon no densha: jadwal kedatangan kereta di Jepang

Monday, October 12, 2015

Menemukan Makanan Halal di Jepang? Mudah Kok

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al Mu’minuuun 23:51)

Berdasarkan dalil di atas, tidak hanya rasul, pemeluk agama Islam juga harus melaksanakan kewajiban agama atau dalam bahasa Jepang disebut “Shuukyou tekina gimu” (宗教的な義務). Karenanya di manapun kita berada, sedang bertamasya atau melanjutkan pendidikan, kita harus memperhatikan betul kejelasan makanan yang masuk ke dalam tubuh kita. Sebab output itu tergantung pada input. Tapi jangan khawatir, jika sedang berada di Jepang dan ingin memuaskan perut dan lidah, aku akan share info tempat makanan halal di Jepang.^^

1. Hanasakaji-San
sumber: google.com
Terletak di bilangan Shibuya dan jaraknya sekitar 350 meter atau lima menit berjalan kaki dari Stasiun Shibuya. Restoran ini juga memasang label we serve halal food di pintu kaca. Memang tidak terdapat papan nama besar sehingga kita perlu jeli mencari nama restoran dalam huruf romawi di pintu kaca itu. Ragam menu halal yang ditawarkan cukup bervariasi. Sebagai pembuka, tiram segar yang diberi perasan jeruk lemon terasa sedap. Untuk makan beramai-ramai, satu set oden complete is great choice. Ada pula hidangan telur goreng atau tamagoyaki khas Jepang. Kemudian ada juga aneka gorengan hati dan daging ayam. Ramen halal dengan kuah merah yang tak terlalu pedas menjadi hidangan yang memuaskan lidah dan perut. Alamatnya di Sakura Building B1, 3-22, Sakuragaoka. Shibuya-ku, Tokyo. Telepon +81-3-3496-7777.

2. Sekai Café 
sumber: google.com

Café dengan menu makanan fushion ini berada di daerah Asakusa, dekat Senso-ji dan Kuil Asakusa. Dari kuil jaraknya sekitar 500 meter atau 10 menit berjalan kaki. Untuk kaum muslim, Sekai Café menyediakan daging selain babi dan alkohol. Vegetarian juga dapat menikmati makanan dari sayuran, bahkan gula yang digunakan di Café ini berasal dari tanaman. Beragam hidangan utama dengan harga ¥ 1000 disajikan di restoran tersebut. Mulai dari pizza, sayuran, salad, yakisoba, daging kambing hingga kare. Alamatnya di 1-18-8 Asakusa, Taito-ku, Tokyo. Telepon +81-3-6802-7300.

3. Gyumon
sumber: google.com
Tempat makan yakiniku halal ini cukup dekat dari Stasiun Shibuya yaitu sekitar 10 menit berjalan kaki dari sana. Letaknya di sebuah gang kecil samping sebuah gedung di perempatan besar. Karena itu, kedai yakiniku ini boleh dibilang cukup sulit ditemukan. Agat tidak tersesat, bisa menggunakan GPS lewat smartphone. Kedai kecil ini hanya memiiki dua meja dengan tempat duduk dan satu meja untuk duduk lesehan. Dengan kapasitas tempat duduk terbatas ini, di jam-jam makan terpaksa ada pelanggan yang harus menunggu pelanggan yang lebih dulu datang selesai makan. Paket menu yakiniku ini terdiri dari nasi, daging halal, sayuran, salad, dan minuman jus. Harganya lumayan mahal yaitu ¥ 4000 (lebih dari 400 ribu rupiah). Alamatnya di Chome-14-5 Shibuya, Shibuya-ku, Tokyo. Telepon +81-3-5469-2911.

4. Abankurest Itabashi Bulilding, 1-13-10, Itabashi, Itabashi-ku, Tokyo 173-0004. Telepon: 03-5943-5661. E-mail: baticromfood@yahoo.co.jp. Online shopping: http://baticrom.com.

5. Baharia (Erhan Candas) 2F, Hokuto Honsha Building, Yoyogi 2-14-3, Shibuya-ku, Tokyo 151-0053. Telepon: 03-3320-0340 (Closed on Thursday). E-mail: baharia@baharu.com. Online shopping: baharu.com.

6. Fuji Store/Halal Food Shop (Skumi & Widya). 2F, 2-9-15, Hyakunincho, Shinjuku-ku, Tokyo 169-0073. Telepon: 03-3366-8480.

Cukup sekian untuk info kali ini yang baru membahas restoran di sekitar Tokyo, insyaAllah jika penulis sudah mengunjungi Jepang pasti aku akan share lebih banyak dan lebih banyak lagi, doakan ya, hihi, aamiin. Semoga bermanfaat.

Sumber:
Rozabi, Izzur. 2014. Cahaya Allah di Negeri Sakura. Jogja: Diva Press.
Koran HaloJepang! Edisi Juli 2015/III.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More