Setiap Anak adalah Juara

...Guru seperti teko yang penuh air, yang menyirami tanaman, bukan menyirami sebuah cangkir....

Hujan dalam Ingatan

...Seperti pertanyaan yang aku titipkan pada hujan sore itu. Apakah kau merindukanku?....

Tiga Bungkus Nasi Kucing untuk Berbuka

...Kebahagiaan berada di dalam hati orang yang mengingatNya....

Kisah Kertas Kebahagiaan

...Let me find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart....

Siapa yang Berdiri di Depan Pintu?

...dan kau tahu makna cinta, masuklah....

Gusti Allah Ora Sare

...Hidup adalah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan....

Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Thursday, December 17, 2015

Tentang Mahasiswa Semester Tua dengan Kegalauan yang Ada

Kalau sudah menonton drama keluarga seperti ini selalu lupa kalau ada skripsi yang harus dikerjakan segera. Iya, karena setiap kali menonton, pasti membayangkan andai aku bisa punya suami seganteng pemeran dalam film yang ada pada gambar di samping ini. hehe

Contohnya, ketika aku menonton drama keluarga asal Taiwan New Perfect Two (2012). Bayangkan saja, ayah yang ganteng dan baik hati yaitu Vic Zou sangat mencintai anak lelakinya. Apalagi artis anggota boy band F4 ini merupakan artis yang aku suka sejak SD.

Dalam drama diceritakan bagaimana Vic Zou yang berperan sebagai Ah Bee sangat sayang kepada anak semata wayangnya. Cerita yang menyentuh hati membuatku menangis sepanjang nonton drama ini.

Tuh kan, kalau sudah menonton drama keluarga, aku yang notabene adalah mahasiswa semester tua, suka lupa ada yang harus aku kerjakan segera. Percayalah aku adalah mahasiswa penghuni Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan "tua". Kata "tua" di sini dalam arti sebenarnya. Tua umur, tua semester pula.

Saat ini usiaku 24 tahun, jomblo dan ditambah skripsi belum kelar. Kawan-kawan satu angkatan tinggal hitungan jari, kadang hal ini yang membuatku merasa asing sendiri. Saking lama merantau di Unnes, aku tahu perubahan harga bensin, rames, es teh dan harga sembako lainnya yang semakin tidak ramah kantong mahasiswa (khususnya mahasiswa apa adanya sepertiku).

Tidak hanya itu, sebagai mahasiswa semester tua, aku juga mengalami penggantian dekan sampai rektor Unnes (bahkan sampai tahu penambahan penjaga keamanan dan juga penjaga kebersihan). Menurutku, semua itu bukanlah prestasi. Sama sekali bukan. Oleh karena itu, kadang aku berpikir, apa yang sudah aku lakukan selama ini?

Barang kali salah satu pembaca Celoteh Anak Negeri di sini juga mempunyai nasib yang sama. Nasib sebagai mahasiswa semester tua. Seperti mahasiswa semester tua yang lain, ada beberapa faktor yang membuatku berada pada jalan sepi bernama "Semester Tua" ini. Aku sebut "jalan sepi", karena tidak banyak yang mau menyambangi. Hanya segelintir orang yang masih bersarang.

Bayangkan saja, dari tiga Rombongan Belajar (Rombel) dengan rata-rata dihuni oleh 30 mahasiswa, sekarang tinggal kurang lebih 11 saja (namun data terbaru yang aku dapatkan, dari sebelas mahasiswa tua ini tinggal 3 orang karena dikurangi yang ikut wisuda Oktober kemarin).

Betapa sepi bukan? Biasanya di kampus saling sapa dengan satu angkatan. Kini, ke kampus tinggal sendirian (karena jarang ketemu sama kawan-kawan yang tersisa itu). Apalagi, kalau mau jajan. Jalan sendirian menuju kantin, dan makan tinggal bayar trus pulang. 

Namun, itu yang dulu aku rasakan. Nyatanya setelah aku jalani, kau tak lagi merasa sepi. Ini memang harus aku jalani. Selain mikir skripsi, hari-hari aku jalani dengan arubaito (bekerja paruh waktu). hihi Selain itu, semeseter tua juga punya kegiatan sampingan lain yaitu kondangan.

Kenapa? Karena kawan-kawanku sudah pada bekerja dan tidak heran juga kebanyakan siap menikah. Tinggal nunggu undangan mereka saja, seperti bergiliran (kalau aku kapan coba?).  Ah sudahlah turut berbahagia untuk mereka, semoga aku juga segera insyaallah. :) Baiklah berpredikat sebagai semester tua tidak menghalangiku untuk bisa maju. Apalagi hanya mikirin mantan melulu. Siapa tahu jodoh tahun depan bisa ketemu. Aamiin insyaallah :)

Patemon, Gunungpati, Semarang 17 Desember 2015

Saturday, October 24, 2015

Kamu Mahasiswa Unnes? Coba Tebak, Berapa Ongkos Naik Angkot Unnes-Simpang Lima?

Perjalanan Simpang Lima Semarang
sumber foto klik di sini
Apa yang kamu lakukan jika sedang penat? Jika aku ditanya demikian, akan kujawab: selain membaca (cerpen, novel, atau apa saja yang menarik untuk aku baca-kadang baca status FB orang juga), aku akan keluar kamar dan pergi ke tempat yang menarik. Misalnya saja, pada hari Rabu yang panas kemarin memutuskan untuk membeli buku di toko buku daerah Simpang Lima.

Pergi ke toko buku menjadi hal yang menarik bagiku, karena di sana aku bisa membaca buku-buku baru secara gratis. hehe Tidak hanya pergi ke tempat menarik, ketika penat melanda aku akan mencoba hal-hal yang belum pernah aku lakukan. Misalnya saja, aku mahasiswa yang diberi fasilitas motor oleh orang tua terbiasa bepergian naik motor, namun mencoba pergi ke toko buku di daerah Simpang Lima naik moda transportasi umum yang ternyata asyik juga.

Ini terbilang hal menarik bagiku, karena enam setengah tahun di Semarang (jadi kuberitahu kalau aku adalah mahasiswa tua di Universitas Negeri Semarang-Unnes), belum pernah sekalipun pergi-pulang Unnes-Simpang Lima menggunakan moda tarnsportasi umum seperti angkot . Maka pada hari merindu hujan di pekan terakhir Oktober ini (sudah tidak sedikit sumur telah kering di daerah Unnes yang notabene daerah resapan air di Semarang lho) kuberjalan 200 meter dari kos menuju jalan raya, kemudian berdiri di pinggir jalan, menunggu moda transportasi bukan taksi, apalagi jemputan "doi", tapi Bapak Supir Angkot sedang kunanti.

Perjalanan naik angkot dimulai. Pak Sopir  menjalankan angkot berwarna hijau dan kuning tua itu pelan. Dalam angkot ada  ibu-ibu di sampingku, juga seorang ibu penjual  memegangi setumpuk aneka kudapan yang mau ia jajakan duduk di depanku, bapak-bapak dengan seorang anak kira-kira berusia 5 tahun, dan seorang pria remaja duduk manis di sebelah sopir. 

Setelah berjalan beberapa menit, Pak Sopir menengok ke setiap gang yang ada di Sekaran-Banaran, siapa tahu ada calon penumpang yang menunggu. Pak Sopir tidak perlu tergesa-gera menancapkan gas karena angkotnya belum penuh. Kejar setoran istilahnya. Tidak dipungkiri, penumpang angkot kian menyusut dibandingkan dengan pengguna motor yang kian naik. Hal itu mempengarui pendapatannya sebagai supir angkot.

"Kalau begini, ini angkot mau jam berapa nyampe tempat tujuan?" tanyaku dalam hati.

Aku yang buta peta alur trayek angkot bertanya dengan ibu yang duduk di sebelahku. Tenyata hanya cukup dua kali naik angkot aku bisa sampai di Simpang Lima.

"Iki mudun neng Jembatan wesi. Terus numpak angkot meneh. Melu aku wae Mbak, aku arep neng Johar. Engko nglewati Simpang Lima," saran seorang ibu yang mau belanja ke Pasar yang beberapa bulan lalu kebakaran itu.
Sumber foto klik di sini
Jarak dan Waktu Tempuh Unnes-Simpang Lima

Kutanggukkan kepala tanda setuju saran ibu tadi. Sementara angkot masih berjalan pelan. Dari awal, aku memang sudah menaruh prasangka buruk dengan angkot. Angkot yang lamban, angkot yang panas, angkot yang suka berhenti mendadak. Namun, ternyata.... Jam menunjukkan pukul 9.30 sampai di Jembatan Besi. Ternyata, hanya butuh waktu 20 menit saja dari gang kosku (Patemon) sampai jembatan besi (itu juga sudah ditambah waktu sedikit tersendat karena perbaikan jalan di Trangkil).

Setelah sampai Jembatan Besi, angkot selanjutnya aku tumpangi. Angkot ngetem sebentar, kemudian melaju menuju Simpang Lima. Aku melewati Jalan Kaligarang, Karyadi, kemudian Kyai Saleh, Pandanaran, dan sampailah di tempat tujuan Simpang Lima. Dan yang mengejutkan, dari jembatan besi hanya butuh kurang lebih 30 menit saja, aku sudah sampai di Simpang Lima.

Jadi, total perjalananku dari Patemon (Unnes) sampai Simpang Lima kurang lebih hanya menempuh waktu kurang lebih 55 menit. Menurutku waktu tempuh ini tidak terlalu jauh selisihnya dengan ketika aku mengendarai motor menuju Simpang Lima. Melewati Gajah Mungkur, waktu tempuh kurang lebih 35 menit. Selisih 20 menit tidak menjadi masalah bagiku karena di dalam angkot, aku bisa bertemu dan berbincang dengan orang baru.

Lalu, berapa ongkos  dari Unnes menuju ke Simpang Lima? Tidak banyak. Tenang saja, insyaallah tidak membuat kantong kita kering. Ongkos dari Patemon sampai Jembatan Besi Rp 4000 sedangkan Jembatan Besi-Simpang Lima juga Rp 4000. Begitu juga sebaliknya, jadi pergi-pulang Unnes-Simpang Lima membutuhkan ongkos jalan Rp 16.000.

Coba kita bandingkan dengan ongkos jalan Unnes-Simpang Lima menggunakan sepeda motor. Pergi-pulang Unnes-Simpang Lima kita memang hanya perlu satu kali mengisi bensin di Pom Bensin minimal Rp 10.000 (kecuali kalau ngecer literan bisa lebih murah). Namun, tidak hanya uang bensin, kita juga perlu bayar parkir Rp 2000. Belum lagi kalau kita berlama-lama di sana. Tambah biaya parkir per jam misal yang harusnya Rp 2000 tapi karena berlama-lama di kawasan Simpang Lima (baik ke toko buku atau pusat perbelanjaan lainnya) ongkos jasa parkir jadi Rp 3000/sekali parkir. Jadi, selisih ongkos naik angkot dengan naik sepeda kira-kira Rp 7000.

Menurutku ada sisi baik dan tidak di antara keduanya. Setidaknya aku sudah mencoba naik angkot. Ternyata seru juga. Salah satu serunya adalah jalan kaki di sekitar kawasan Simpang Lima dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Terasa seperti turis asing di negara sendiri begitu (terasa asing dalam arti sebenarnya sih, karena jarang ketemu orang jalan kaki di trotoar apalagi panas-panasan). Nah, cuaca panas seperti pada musim kemarau dan El-Nino panjang seperti ini, aku pikir perlu bawa payung untuk melindungi diriku dari sinar UV (Ultra Violet) saat jalan kali. Cara ini salah satunya aku adaptasi dari dosen bahasa Jepangku dan teman-teman warga negara asingku yang suka pakai payung di siang hari meski tidak hujan.

Payung pun aku pakai sambil berdiri di trotoar menunggu angkot datang. Namun, bukan terlindungi dari panas, tapi angin yang cukup kencang berhembus membuat payungku terlipat ke belakang. hehehe Cepat-cepat aku perbaiki dan melipat payung tadi. hehe 

Begitulah celoteh tentang perjalanan tunggal (alone trip) yang aku bagi untuk kamu. Sila pilih mana untuk berjalan-jalan ria ke Simpang Lima. Yang penting apapun moda transportasi yang kamu gunakan untuk melakukan perjalanan, selalu ingat ketenangan jiwa bermula dari kesyukuran. Selamat jalan-jalan!

Monday, September 14, 2015

Empat Puluh Menit di Kelas "Ternakal"

pendidikberpena.wordpress.com
Bobbi De Porter dalam bukunya Quantum Teaching, menyampaikan kepada semua guru bahwa pada saat mulai masuk kelas dan mengajar, mereka harus menganggap semua siswanya cerdas dan punya kemampuan tinggi. Anggapan itu divisualisasikan seperti ada bintang dengan angka 10 (sepuluh) di dahi setiap anak. Ini penting, sebab guru harus yakin bahwa setiap siswa punya niat yang baik untuk belajar.

Ada sebuah kisah dari Munif Chatib seorang Konsultan Pendidikan dan Penulis Buku Best Seller “Sekolahnya Manusia” dan “Gurunya Manusia” saat diundang menjadi pelatih mengajar Multiple Intelligences di sebuah sekolah. Sempat dua tahun lalu  ketika aku meliput kegiatan untuk majalah kampus di Sekolah Qairiyyah Thayyibah di Salatiga (salah satu sekolah yang menarik bagiku). Pertemuanku dengan pendidik inspiratif lulusan Fakultas Hukum itu menyadarkanku bahwa setiap anak adalah juara. Iya, setiap anak ada angka 10 (sepuluh) di atas kepala.  Berikut kisah dalam buku Gurunya Manusia karya Munif Chatib tersebut:

Tepat pukul 08.00, saya sudah berada di sekolah. Setibanya di sekolah, saya ditemani kepala sekolah dan terus mendapatkan informasi mengerikan tentang kondisi siswa di kelas tersebut. Saya cuma bisa menelan ludah, membayangkan harus mengajar dengan tema menghormati guru di kelas yang semua siswanya paling tidak mau menghormati guru.

Setelah menaiki tangga lantai dua, akhirnya saya tepat berdiri di depan pintu kelas “panas” tersebut. Dengan mengucapkan bismillah, saya masuk kelas sembari membuang semua gambaran negatif tentang siswa di kelas itu. Saya membayangkan: semua siswanya baik dan dapat diajak kerja sama; tidak ada siswa yang nakal dan kurang ajar, serta semua siswa tersebut pasti akan mau menjadi sahabat saya; mereka dengan rela mau mengikuti pelajaran, sehingga target materi tuntas. Saya melakukan positive thinking di depan kelas tersebut.

Dan benar, di depan kelas, saya menatap wajah mereka satu per satu. Luar biasa, saya melihat wajah-wajah siswa yang haus akan ilmu pengetahuan. Wajah-wajah yang haus sentuhan pengajaran manusiawi. Saya memperkenalkan diri dan meminta semua siswa juga memperkenalkan diri masing-masing.
www.kemendikbud.go.id
“Saya ingin, kalian tidak hanya sekadar menyebutkan nama, tapi juga teriakan satu kata profesi yang kalian inginkan kelak. Ayo teriakan sebuah profesi, meskipun itu hanya ada di alam mimpi, jangan malu!” ajak saya dengan antusias.

Lalu, satu per satu mereka berdiri, menyebutkan nama dan profesi.

“Saya Nasyirudin, ingin jadi pembalap motor cross.”

Wow, alhamdulilah! Saat itu, saya merasa di menit-menit awal sudah berhasil mengambil hati,anak-anak “unik” ini. Akhirnya tidak ada satu pun siswa yang diam.Satu hal yang penting, anak-anak yang dikatakan “nakal” ini ternyata punya mimpi dan punya harapan, berarti mereka punya motivasi untuk belajar.

Lalu, saya melakukan pre-teach, dengan mengatakan: “Adik-adik, tiga puluh menit ke depan, kita akan berdiskusi. Untuk itu, saya membutuhkan seorang notulis dan moderator. Kalian akan dibagi menjadi empat kelompok, terserah terbagi atas dasar apa, pokoknya ada unsur persamaannya. Saya sendiri sebagai moderator, sedangkan untuk notulis, saya minta salah satu dari kalian.”

Langsung Nasrudin angkat tangan, dia siap menjadi notulis. Saya meminta seisi kelas memberi tepuk tangan kepada Nasyirudin.

Seketika kelas menjadi ribut dan, suhanallah tepat sepuluh detik mereka sudah terbagi menjadi empat kelompok dengan empat nama yang mereka buat sendiri.


http://bismacenter.ning.com/
Selanjutnya saya menyuruh mereka membuka halamn kosong di buku tulis masing-masing. Lalu, saya meminta mereka menuliskan satu nama guru mereka, yang selama ini dianggap negatif: guru tersebut tidak menyenangkan, sering menyakiti hati, atau hal lain, pokoknya negatif. 

“Tulis satu nama guru kalian tepat di tengah kertas. Lalu, di sampingnya beri tanda tanya besar, kemudian tutup buku kalian. Nanti, di akhir pelajaran, kita akan buka kembali,” kata saya.

Mereka berpikir sejenak. Ada yang tersenyum, saling menoleh kepada temannya. Ada yang geleng-geleng kepala. Saya merasakan ada penghalang dan saya tahu itu. Mereka tidak enak kepada guru mereka yang sedang duduk di belakang kelas.

“Adik-adik, jika guru tersebut ada di belakang kita, tidak apa-apa. Tulis saja, lalu tutup. Tidak pernah ada yang tahu.”

Rupanya, kata-kata saya menjadi penenang bagi para siswa. Tak lama kemudian mereka menuliskan nama guru di kertas masing-masing. Saya mulai berdiskusi dengan melemparkan sebuah masalah. Apa penyebab kebanyakan siswa yang tidak suka kepada guru sehingga mereka tidak menghormati guru? Luar biasa, tidak sampai lima menit setiap kelompok mendapatkan jawabannya.

“Yang membuat guru tidak menyenangkan adalah sering memerintahkan untuk mencatat terus sampai tangan saya capai.”

“Sering marah tanpa sebab!”

“Tidak boleh ke toilet.”

“Cerewet.”

“Sering memberi tugas berat!”

“Kalau siswa berkelahi, malah diadukan.”

Kelas tersebut menjadi ajang curahan hati para siswa. Untuk mencarikan suasana yang tegang, saya menyuruh siswa bertepuk tangan. Kemudian saya menantang mereka dengan masalah kedua.

 “Coba diskusikan lagi, apa yag kalian usulkan kepada guru agar masalah pertama tidak muncul?”

“Mestinya kami lebih banyak diperhatikan guru.”

“Mestinya kami sering diajak bicara oleh guru.”

“Mestinya guru lebih percaya pada kami. Tanpa mencatat berlembar-lembar kami mau belajar.”

Dan klimaksnya, terlontar pertanyaan: “Mestinya kami disamakan dengan anak yang lain. Tidak dicap nakal.”

Saya langsung meminta mereka serius dalam menjawab pertanyaan pamungkas:: ”Jika keinginan kalian dipenuhi, apakah di kelas ini akan terjadi keadaan yang harmonis? Kalian mau dengan rela dan ikhlas memandang guru kalian seperti orangtua kalian yang layak dihormati?”

Serempak mereka menjawab: “Mau!” dan mengangguk.

Saya meminta mereka membuka kembali kertas yang berisi nama guru tidak disukai yang telah ditulis di awal belajar.

“Coba adik-adik bayangkan wajah guru yang namanya kalian tulis. Apakah benar mereka cerewet? Apakah benar mereka galak? Apa benar? Coba jawab dengan hati nurani kalian. Kalian tahu, merekalah yang menyelamatkan dunia dan akhirat kalian. Merekalah yang berusaha agar cita-cita kalian terwujud. Apakah pantas kalian katakan mereka tidak menyenangkan? Ayo, bagi yang merasa masih punya hati, silahkan berdiri,bangkit, temui guru yang kalian tulis namanya tersebut. Ucapkan permohonan maaaf yang benar-benar dari hati. Kapan lagi kalau tidak sekarang? Ayo, berdiri, cari guru kalian!”

Selanjutnya, ada air mata yang mengucur antara guru dan siswa. Alhamdulillah, saya berhasil menutup empat puluh menit mengajar dengan cantik. Siswa memahami pengertian tentang sikap menghormati. Dan bagaimana guru bersikap tulus kepada siswa. Sadar bahwa setiap anak adalah juara. My teacher you are my inspiration!

*Sumber: Kisah Inspiratif dalam Buku “Gurunya Manusia” Karya Munif Chatib berjudul “Empat Puluh Menit di Kelas Ternakal” dengan perubahan

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More